Telur merupakan salah satu sumber protein dan nutrisi yang tinggi. Selain harganya yang murah dan mudah didapatkan, telur juga menjadi bahan makanan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Kini, telur telah diolah menjadi berbagai jenis makanan yang lezat dan mudah ditemui sehari-hari.
Telur mengandung protein, kolin, vitamin B12, lutein, serta vitamin D yang baik bagi tubuh. Meski memiliki banyak manfaat, konsumsi telur tetap perlu dilakukan secara seimbang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, telur juga dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan atau diolah dengan cara yang tidak sehat. Cara pengolahan yang kurang tepat dapat mengurangi nilai nutrisi telur. Selain itu, ada beberapa kelompok orang yang memang perlu membatasi konsumsi telur.
Berikut beberapa hal yang perlu diketahui mengenai konsumsi telur.
Jumlah Konsumsi Telur per Hari Berdasarkan Kondisi Tubuh
Secara umum, konsumsi satu hingga dua butir telur per hari masih tergolong aman bagi orang sehat tanpa penyakit tertentu. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak terlalu memengaruhi kadar kolesterol dibandingkan konsumsi lemak jenuh seperti minyak sawit atau mentega.
Bahkan, telur dapat menjadi pilihan asupan harian bagi orang yang sedang menjalani program diet. Studi dari The American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa konsumsi dua butir telur per hari saat diet dapat membantu menurunkan kadar kolesterol Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat.
Siapa yang Perlu Membatasi Konsumsi Telur?
Pada dasarnya, telur aman dikonsumsi. Namun, ada beberapa kelompok orang yang perlu memperhatikan jumlah konsumsinya.
Orang dengan kadar kolesterol tinggi misalnya, perlu lebih bijak dalam mengonsumsi telur, terutama jika telur diolah dengan cara yang kurang sehat. Sebagian orang memiliki respons tubuh yang lebih sensitif terhadap kolesterol dari makanan. Kuning telur diketahui dapat meningkatkan kadar LDL pada kelompok tertentu, sehingga asupannya perlu dijaga.
Selain itu, penderita diabetes dan penyakit jantung juga disarankan membatasi konsumsi telur secara berlebihan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur berlebih pada penderita diabetes dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular.
Sementara bagi penderita penyakit jantung, risiko kesehatan biasanya meningkat ketika telur dikonsumsi bersamaan dengan makanan ultra-proses seperti sosis, nugget, atau keripik kentang.
Breakfast of eggs Foto: Getty Images/iStockphoto/Carpe89 |
Cara Penyajian Telur yang Kurang Sehat
Telur merupakan makanan sehat dan mengonsumsinya setiap hari umumnya tidak menjadi masalah. Namun, cara pengolahan telur dapat memengaruhi dampaknya bagi kesehatan.
Telur yang digoreng menggunakan banyak minyak atau teknik deep frying dapat meningkatkan jumlah kalori dan lemak jenuh. Selain itu, proses penggorengan berlebihan juga dapat memicu oksidasi kolesterol yang berisiko menyebabkan peradangan pada pembuluh darah.
Tak hanya itu, penyajian telur bersama makanan ultra-proses juga kurang baik bagi kesehatan. Makanan seperti sosis, kornet, mi instan, dan makanan cepat saji umumnya mengandung sodium tinggi serta lemak trans yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit.
Baca juga: Melawan Diabetes dengan Bawang Bombay |
Aman Dikonsumsi dalam Jumlah Wajar
Telur merupakan makanan bergizi tinggi yang aman dikonsumsi setiap hari dalam jumlah wajar. Kandungan protein dan nutrisi di dalam telur menjadikannya salah satu sumber makanan yang baik untuk tubuh.
Meski demikian, konsumsi telur tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing. Penderita diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung sebaiknya lebih berhati-hati dalam mengatur asupan telur.
Selain jumlah konsumsi, cara pengolahan telur juga perlu diperhatikan. Mengolah telur dengan terlalu banyak minyak atau mengonsumsinya bersama makanan ultra-proses dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
(dir/dir)

