Jabar Hari Ini: Perjuangan Guru di Pelosok Sukabumi

Tim detikJabar - detikJabar
Jumat, 08 Mei 2026 22:00 WIB
Perjuangan guru di pelosok Sukabumi (Foto: Istimewa).
Bandung -

Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, mulai dari nyawa seorang wanita melayang akibat ucapannya di Bandung Barat hingga guru di Ciamis melakukan penipuan dengan modus investasi Program MBG.

Berikut 5 fakta dalam kejadian ini:

Ucapan Cicih yang Bikin Nyawanya Melayang

Cicih Rohaeti ditemukan tewas penuh luka di kediamannya di Kampung Ciceuri, RT 01/09, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Senin (27/4) lalu.

Penemuan mayat wanita berusia 54 tahun itu menggegerkan keluarga dan kerabatnya. Usai menerima laporan penemuan mayat itu, polisi bergerak cepat memburu pelakunya. Dalam kurun waktu delapan hari, orang yang menghabisi nyawa Cicih akhirnya tertangkap.

Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, mengatakan pelaku yang menghabisi nyawa Cicih yaitu A. Suhanda (63), tetangganya sendiri. Berdasarkan hasil pemeriksaan, motif pria paruh baya itu membunuh Cicih karena sakit hati.

"Ternyata motif pelaku AS melakukan penganiayaan sampai tega melakukan pembunuhan terhadap korban CR adalah karena sakit hati," kata Niko saat konferensi pers di Mapolres Cimahi hari ini.

Sakit hati yang dirasakan pelaku memuncak ketika ia hendak membeli rokok ke warung milik Cicih. Namun saat itu, Cicih yang sedang menelepon seseorang mengeluarkan kata-kata kasar terhadap pelaku.

"Jadi korban mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih 'Sia teu ningali aing keur kagiatan?' yang maksudnya, 'Kamu tidak lihat saya sedang ada kegiatan?'. Kemudian ada kata-kata kasar dan sebagainya. Nah, dari kata-kata seperti itu akhirnya pelaku yang sudah menaruh dendam langsung naik pitam dan melukai korban," ujar Niko.

Pelaku menganiaya korban diawali dengan mencekik lehernya sampai korban terjatuh. Korban sempat berteriak, lalu pelaku seketika membekap mulut Cicih dengan tangan kirinya.

Setelah itu korban dipukul di bagian bibir sebanyak dua kali, kemudian dipukul kembali di bagian mata sebelah kanan satu kali dan sebelah kiri satu kali. Kemudian dipukul kembali di bagian rusuk kanan dan kiri masing-masing satu kali. Saat itu kondisi korban masih hidup dan pelaku yang dalam kondisi kalap akhirnya masuk ke dapur mencari sesuatu.

"Ditemukanlah kayu bekas dudukan kursi lama yang berada di dapur, lalu diambil oleh pelaku.Kemudian pelaku kembali lagi ke ruang tamu karena waktu itu korban masih berada di ruang tamu dalam kondisi lemas. Dengan ujung kayu yang tidak rata itu, pelaku menusukkan ke bagian rusuk korban sebanyak tiga kali. Maka pada hasil autopsi ditemukan luka robek yang kasar, tidak beraturan dan tidak berpola," kata Niko.

Setelah mengeksekusi korban, pelaku kemudian kabur ke rumahnya. Saat warga digegerkan dengan penemuan jasad Cicih, ia kemudian berusaha membuat alibi dengan membaur bahkan sempat memberikan keterangan kepada kepolisian.

"Tetapi alhamdulillah berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan Satreskrim Polres Cimahi akhirnya bisa menentukan dan menyimpulkan bahwa tersangka AS adalah pelaku tunggal dalam kejadian pembunuhan ini," kata Niko.

Tersangka dijerat dengan Pasal 458 KUHP kemudian Pasal 466 ayat 3, yang masuk dalam kategori merampas nyawa orang lain atau disebut pembunuhan, atau penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun.

Perjuangan Guru di Pelosok Sukabumi demi Mengajar

Sebuah rekaman video yang memperlihatkan penderitaan seorang abdi negara di pelosok Sukabumi viral dan membetot empati publik.

Dalam video tersebut, seorang guru tampak menyusuri jalur ekstrem sisa longsoran dan menyeberangi sungai demi mengajar. Pilunya, perbaikan infrastruktur di wilayah ini dibiarkan mangkrak selama setahun lebih hingga memicu nestapa berkepanjangan bagi warga.

Kondisi memprihatinkan ini harus ditelan bulat-bulat oleh warga dan para pelajar di Kampung Ciangrek, Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Bencana alam yang menghantam pada bulan Ramadan tahun 2025 lalu rupanya memutus urat nadi kehidupan mereka hingga hari ini.

Dalam video yang beredar luas, tampak Nano Sumarno, seorang guru di SMP Negeri 5 Simpenan, merekam dirinya sendiri dengan latar belakang tebing tanah yang labil dan sungai beraliran deras.

Ia tak kuasa menahan kekecewaan karena kampungnya seolah lenyap dari peta perhatian pemerintah.

Dengan nada suara bergetar, Nano secara spesifik menyerukan keluhannya kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia meminta sang gubernur turun langsung melihat penderitaan warga yang terisolasi.

"Pak Dedi, abdi mah wawartos ka Pak Dedi euy ieu mah. Pak Dedi kumaha ieu Kampung Ciangrek tos kaisolir sataun langkung, ari pamarentahna teu aya. Baik di desa, kabupaten, provinsi, pusat, mangga tingali ka dieu ka lokasi Pak Dedi," seru Nano dalam rekaman video tersebut seperti dilihat detikJabar hari ini.

Tak henti di situ, Nano juga mempertanyakan absennya pemimpin di tingkat kabupaten. Sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang hancur lebur, ia menagih perhatian dari Bupati Sukabumi Asep Japar.

"Mana Bupati? Bupati mana Bupati? Punten ya abdi, abdi ngawulang ka SMP tiap dinten kedah jalan heula, bari jalanna ge model kieu Pak Dedi tuh," keluhnya getir memperlihatkan medan yang nyaris mustahil dilalui.

Apa yang terekam dalam lensa kamera Nano selaras dengan penderitaan nyata di lapangan. Trek yang harus dilalui para pahlawan tanpa tanda jasa ini sama sekali tak layak disebut jalan, melainkan menyerupai dasar sungai kering berbatu tajam yang membelah tebing.

Pengendara motor tidak bisa sekadar duduk bermanuver dan menarik tuas gas. Mereka terpaksa turun dari jok, memijakkan kaki di atas bebatuan lepas yang rawan longsor.

Mereka harus menguras tenaga mendorong kuda besi merayap naik menaklukkan tanjakan curam. Roda motor berkali-kali selip dan terperosok ke dalam celah batu, memaksa mereka membungkuk menahan beban kendaraan agar tidak tergelincir mundur ke dasar jurang.

Bahkan, upaya melintasi jalan alternatif tanah liat tak kalah mengerikannya. Lintasan tersebut terbelah oleh ceruk roda kendaraan yang sangat dalam, membentuk parit-parit jebakan berlumpur pekat.

Ban sepeda motor warga kerap tenggelam separuh tertelan lumpur, membuat laju kendaraan tertahan atau nyelap tak berdaya.

Jangankan motor standar, motor trail pun harus ekstra waspada menjaga keseimbangan di lintasan super licin tersebut.

Saat dikonfirmasi detikJabar, Nano membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Ia menjelaskan rentetan perjuangan awal para guru yang terpaksa memarkirkan kendaraannya di tempat seadanya karena akses benar-benar putus.

"Motor disimpan di hutan. Di kebun-kebun warga, kemudian lanjut jalan kaki," ungkap Nano kepada detikJabar.

Dari titik penitipan motor di pinggir hutan tersebut, para guru harus melanjutkan perjalanan dengan membelah tebing dan rute ekstrem menuju lokasi jembatan yang hanyut.

"Kalau nyimpen motor untuk nembus ke sekolah itu kurang lebih 2 kiloan kalau jalan kaki tuh. Hampir 1 jam kurang lah. Soalnya dengan medannya nanjak," bebernya.

Bukan hanya para guru yang diuji ketegaran fisiknya. Nano menuturkan, setidaknya ada ratusan anak didik yang rute harian menuju sekolahnya terputus dan bernasib sama.

"Kalau dari SMP 70 siswa. Kalau SD kurang lebih 90 yang SD yang dekat SMP itu," tegasnya.

Di titik Sungai Cibunut inilah nyawa mereka benar-benar dipertaruhkan. Jembatan yang dulu berdiri kokoh kini hanya tinggal puing kenangan, tersapu derasnya banjir setahun lalu.

Menyeberangi sungai dengan arus liar tanpa jembatan kini menjadi satu-satunya gerbang menuju sekolah. Kondisi akan berubah menjadi horor saat langit mulai menurunkan hujan. Debit air yang meluap memaksa aktivitas pendidikan lumpuh total.

"Nggak bisa diceritain aduh kalau hujan, udah, anak-anak nggak bisa nyebrang. Pokoknya kita meliburkan diri," ucap Nano.

"Khawatir kan anak juga terbawa ya. Soalnya lebih dari dua kampung itu harus nyebrang ke sekolah, termasuk gurunya itu kan nyebrang dulu ke sekolah," pungkasnya lirih menutup cerita.

Simak Video "Video: WN China Diserang Gerombolan Bermotor Pengguna Narkoba di Bandung"


(wip/mso)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork