Beragam peristiwa terjadi di Jawa Barat hari ini, mulai dari nyawa seorang wanita melayang akibat ucapannya di Bandung Barat hingga guru di Ciamis melakukan penipuan dengan modus investasi Program MBG.
Berikut 5 fakta dalam kejadian ini:
Ucapan Cicih yang Bikin Nyawanya Melayang
Cicih Rohaeti ditemukan tewas penuh luka di kediamannya di Kampung Ciceuri, RT 01/09, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Senin (27/4) lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penemuan mayat wanita berusia 54 tahun itu menggegerkan keluarga dan kerabatnya. Usai menerima laporan penemuan mayat itu, polisi bergerak cepat memburu pelakunya. Dalam kurun waktu delapan hari, orang yang menghabisi nyawa Cicih akhirnya tertangkap.
Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, mengatakan pelaku yang menghabisi nyawa Cicih yaitu A. Suhanda (63), tetangganya sendiri. Berdasarkan hasil pemeriksaan, motif pria paruh baya itu membunuh Cicih karena sakit hati.
"Ternyata motif pelaku AS melakukan penganiayaan sampai tega melakukan pembunuhan terhadap korban CR adalah karena sakit hati," kata Niko saat konferensi pers di Mapolres Cimahi hari ini.
Sakit hati yang dirasakan pelaku memuncak ketika ia hendak membeli rokok ke warung milik Cicih. Namun saat itu, Cicih yang sedang menelepon seseorang mengeluarkan kata-kata kasar terhadap pelaku.
"Jadi korban mengeluarkan kata-kata yang kurang lebih 'Sia teu ningali aing keur kagiatan?' yang maksudnya, 'Kamu tidak lihat saya sedang ada kegiatan?'. Kemudian ada kata-kata kasar dan sebagainya. Nah, dari kata-kata seperti itu akhirnya pelaku yang sudah menaruh dendam langsung naik pitam dan melukai korban," ujar Niko.
Pelaku menganiaya korban diawali dengan mencekik lehernya sampai korban terjatuh. Korban sempat berteriak, lalu pelaku seketika membekap mulut Cicih dengan tangan kirinya.
Setelah itu korban dipukul di bagian bibir sebanyak dua kali, kemudian dipukul kembali di bagian mata sebelah kanan satu kali dan sebelah kiri satu kali. Kemudian dipukul kembali di bagian rusuk kanan dan kiri masing-masing satu kali. Saat itu kondisi korban masih hidup dan pelaku yang dalam kondisi kalap akhirnya masuk ke dapur mencari sesuatu.
"Ditemukanlah kayu bekas dudukan kursi lama yang berada di dapur, lalu diambil oleh pelaku.Kemudian pelaku kembali lagi ke ruang tamu karena waktu itu korban masih berada di ruang tamu dalam kondisi lemas. Dengan ujung kayu yang tidak rata itu, pelaku menusukkan ke bagian rusuk korban sebanyak tiga kali. Maka pada hasil autopsi ditemukan luka robek yang kasar, tidak beraturan dan tidak berpola," kata Niko.
Setelah mengeksekusi korban, pelaku kemudian kabur ke rumahnya. Saat warga digegerkan dengan penemuan jasad Cicih, ia kemudian berusaha membuat alibi dengan membaur bahkan sempat memberikan keterangan kepada kepolisian.
"Tetapi alhamdulillah berdasarkan hasil penyelidikan dan pemeriksaan Satreskrim Polres Cimahi akhirnya bisa menentukan dan menyimpulkan bahwa tersangka AS adalah pelaku tunggal dalam kejadian pembunuhan ini," kata Niko.
Tersangka dijerat dengan Pasal 458 KUHP kemudian Pasal 466 ayat 3, yang masuk dalam kategori merampas nyawa orang lain atau disebut pembunuhan, atau penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang dengan ancaman pidana paling lama 15 tahun.
Perjuangan Guru di Pelosok Sukabumi demi Mengajar
Sebuah rekaman video yang memperlihatkan penderitaan seorang abdi negara di pelosok Sukabumi viral dan membetot empati publik.
Dalam video tersebut, seorang guru tampak menyusuri jalur ekstrem sisa longsoran dan menyeberangi sungai demi mengajar. Pilunya, perbaikan infrastruktur di wilayah ini dibiarkan mangkrak selama setahun lebih hingga memicu nestapa berkepanjangan bagi warga.
Kondisi memprihatinkan ini harus ditelan bulat-bulat oleh warga dan para pelajar di Kampung Ciangrek, Desa Mekarasih, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Bencana alam yang menghantam pada bulan Ramadan tahun 2025 lalu rupanya memutus urat nadi kehidupan mereka hingga hari ini.
Dalam video yang beredar luas, tampak Nano Sumarno, seorang guru di SMP Negeri 5 Simpenan, merekam dirinya sendiri dengan latar belakang tebing tanah yang labil dan sungai beraliran deras.
Ia tak kuasa menahan kekecewaan karena kampungnya seolah lenyap dari peta perhatian pemerintah.
Dengan nada suara bergetar, Nano secara spesifik menyerukan keluhannya kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Ia meminta sang gubernur turun langsung melihat penderitaan warga yang terisolasi.
"Pak Dedi, abdi mah wawartos ka Pak Dedi euy ieu mah. Pak Dedi kumaha ieu Kampung Ciangrek tos kaisolir sataun langkung, ari pamarentahna teu aya. Baik di desa, kabupaten, provinsi, pusat, mangga tingali ka dieu ka lokasi Pak Dedi," seru Nano dalam rekaman video tersebut seperti dilihat detikJabar hari ini.
Tak henti di situ, Nano juga mempertanyakan absennya pemimpin di tingkat kabupaten. Sambil menunjuk ke arah jalan setapak yang hancur lebur, ia menagih perhatian dari Bupati Sukabumi Asep Japar.
"Mana Bupati? Bupati mana Bupati? Punten ya abdi, abdi ngawulang ka SMP tiap dinten kedah jalan heula, bari jalanna ge model kieu Pak Dedi tuh," keluhnya getir memperlihatkan medan yang nyaris mustahil dilalui.
Apa yang terekam dalam lensa kamera Nano selaras dengan penderitaan nyata di lapangan. Trek yang harus dilalui para pahlawan tanpa tanda jasa ini sama sekali tak layak disebut jalan, melainkan menyerupai dasar sungai kering berbatu tajam yang membelah tebing.
Pengendara motor tidak bisa sekadar duduk bermanuver dan menarik tuas gas. Mereka terpaksa turun dari jok, memijakkan kaki di atas bebatuan lepas yang rawan longsor.
Mereka harus menguras tenaga mendorong kuda besi merayap naik menaklukkan tanjakan curam. Roda motor berkali-kali selip dan terperosok ke dalam celah batu, memaksa mereka membungkuk menahan beban kendaraan agar tidak tergelincir mundur ke dasar jurang.
Bahkan, upaya melintasi jalan alternatif tanah liat tak kalah mengerikannya. Lintasan tersebut terbelah oleh ceruk roda kendaraan yang sangat dalam, membentuk parit-parit jebakan berlumpur pekat.
Ban sepeda motor warga kerap tenggelam separuh tertelan lumpur, membuat laju kendaraan tertahan atau nyelap tak berdaya.
Jangankan motor standar, motor trail pun harus ekstra waspada menjaga keseimbangan di lintasan super licin tersebut.
Saat dikonfirmasi detikJabar, Nano membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Ia menjelaskan rentetan perjuangan awal para guru yang terpaksa memarkirkan kendaraannya di tempat seadanya karena akses benar-benar putus.
"Motor disimpan di hutan. Di kebun-kebun warga, kemudian lanjut jalan kaki," ungkap Nano kepada detikJabar.
Dari titik penitipan motor di pinggir hutan tersebut, para guru harus melanjutkan perjalanan dengan membelah tebing dan rute ekstrem menuju lokasi jembatan yang hanyut.
"Kalau nyimpen motor untuk nembus ke sekolah itu kurang lebih 2 kiloan kalau jalan kaki tuh. Hampir 1 jam kurang lah. Soalnya dengan medannya nanjak," bebernya.
Bukan hanya para guru yang diuji ketegaran fisiknya. Nano menuturkan, setidaknya ada ratusan anak didik yang rute harian menuju sekolahnya terputus dan bernasib sama.
"Kalau dari SMP 70 siswa. Kalau SD kurang lebih 90 yang SD yang dekat SMP itu," tegasnya.
Di titik Sungai Cibunut inilah nyawa mereka benar-benar dipertaruhkan. Jembatan yang dulu berdiri kokoh kini hanya tinggal puing kenangan, tersapu derasnya banjir setahun lalu.
Menyeberangi sungai dengan arus liar tanpa jembatan kini menjadi satu-satunya gerbang menuju sekolah. Kondisi akan berubah menjadi horor saat langit mulai menurunkan hujan. Debit air yang meluap memaksa aktivitas pendidikan lumpuh total.
"Nggak bisa diceritain aduh kalau hujan, udah, anak-anak nggak bisa nyebrang. Pokoknya kita meliburkan diri," ucap Nano.
"Khawatir kan anak juga terbawa ya. Soalnya lebih dari dua kampung itu harus nyebrang ke sekolah, termasuk gurunya itu kan nyebrang dulu ke sekolah," pungkasnya lirih menutup cerita.
Hilang di Kuningan, Parmo Ditemukan Linglung di Pacitan
Parmo (48), warga Desa Ragawacana, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, yang sebelumnya dilaporkan hilang di area persawahan dekat sungai pada Minggu (3/5), akhirnya ditemukan di wilayah Pacitan pada Rabu malam (6/5).
Kabar tersebut dikonfirmasi oleh adik ipar korban, Uri Sanuhri, saat memberikan keterangan di Balai Desa Ragawacana hari ini.
Uri menjelaskan, pihak keluarga pertama kali menerima informasi mengenai keberadaan Parmo dari kerabat jauh di Pacitan sekitar pukul 20.00 WIB.
"Saya juga nggak ngeh tadinya, karena ketika saya dikasih tahu sama anaknya, dikasih foto doang dia lagi shalat. Saya percaya nggak percaya, saya lihat foto-foto itu kan bisa diedit. Nah, saya minta nomor HP yang kediaman Parmo pertama datang ke situ. Saya ternyata dikasih. Setelahnya waktu ba'da Isya, nah saya ada sekitar jam 8-an ada konfirmasi sama anaknya ditelepon, bahkan ngomong sama saya, itu betul tidak ada rekayasa sedikitpun, dia itu Parmo," tutur Uri.
Setelah memastikan informasi tersebut melalui panggilan video, Uri bersama anak Parmo langsung berangkat ke Pacitan untuk menjemput korban pada pukul 23.00 WIB. Namun saat ditemukan, kondisi Parmo disebut masih linglung dan tidak mengenali keluarganya.
"Nah, saya tanya, dia bingung. Bingungnya kenapa? Ini tahu saya, karena dia awalnya nggak tahu saya. Setelah mungkin setengah jam sama anaknya dan, saya ngobrol dengan perlahan, dia baru ngeh, tahu. Entah itu seperti apalah, saya bilangin kejadian seperti itu, dia baru ngeh nama saya, saya Bapak-ibunya, saya itu adiknya, istrinya dia, ini anaknya," tutur Uri.
Menurut keterangan warga setempat, Parmo diketahui tiba di wilayah Pacitan pada Selasa (5/5/2026). Uri mengatakan, korban datang hanya mengenakan sarung, kaus, dan sandal.
"Seperti itu kejadiannya. Nah, saya tanya ke orang yang di situ, memang belum pernah Parmo itu menginjak ke tempat itu, ke tempat Pacitan yang daerah itu, enggak pernah ke sana. Dia datang aja, dia pakai sarung, pakai kaos, pakai sandal, udah begitu saja. Ketika ditanya kebingungan. Malah bilangnya dari Surabaya," tutur Uri.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, membenarkan bahwa pria yang ditemukan di Pacitan merupakan Parmo.
"Iya betul orang hilang itu atas nama Mas Parmo sudah ditemukan di Pacitan dan setelah diklarifikasi pihak keluarga di Kuningan dengan mengirimkan foto, betul itu mas Parmo. Waktu ditemukannya sekitar waktu Isya semalam. Terkait dengan kondisi Mas Parmo ketika ditanya kronologis dia masih bingung-bingung dan sebagainya. Yang jelas dia betul sudah ditemukan di Pacitan," tutur Indra.
Sebelumnya, Parmo dilaporkan hilang usai pergi mencari rumput di area persawahan Blok Sawah Bojong pada Minggu sore. Saat pencarian dilakukan, tim gabungan hanya menemukan barang-barang milik korban di dekat sungai, seperti ponsel, pakaian, tas, sabit, sajadah, dan karung berisi rumput.
Operasi pencarian yang melibatkan BPBD, Damkar, TNI, Polri, aparat desa, dan warga sempat dihentikan pada Selasa (5/5) setelah tiga hari pencarian tidak membuahkan hasil.
Guru di Ciamis Tipu Warga Modus Investasi MBG
Satreskrim Polres Ciamis mengungkap kasus dugaan penipuan dan penggelapan berkedok investasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi penipuan ini menyasar warga di wilayah Kecamatan Rancah, Kabupaten Ciamis, hingga ke Kabupaten Majalengka.
Dalam kasus tersebut, polisi menetapkan seorang tersangka berinisial TC (44). Tersangka diketahui merupakan oknum guru PPPK di salah satu sekolah di Kabupaten Ciamis yang diduga mencatut program pemerintah untuk menipu sejumlah warga dengan total kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Kapolres Ciamis AKBP Hidayatullah melalui Kasat Reskrim Polres Ciamis AKP Carsono menjelaskan, tersangka menawarkan investasi untuk pasokan bahan makanan dapur MBG dengan iming-iming keuntungan besar.
"Sekitar Februari 2026, pelaku menawarkan investasi kepada masyarakat di Kecamatan Rancah untuk kebutuhan pasokan bahan makanan MBG di wilayah Rancah dan Kabupaten Majalengka," ujar Carsono di Mapolres Ciamis hari ini.
Menurut Kasat, dari hasil penyelidikan sementara, jumlah korban mencapai 10 orang dengan total kerugian sekitar Rp384 juta.
Carsono menyebut tersangka menjanjikan keuntungan besar kepada para korban sehingga mereka tergiur untuk menanamkan uang dalam investasi tersebut.
"Pelaku meyakinkan korban, investasi yang ditanamkan akan menghasilkan keuntungan. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan yang dijanjikan," katanya.
Ia menambahkan, para korban yang merasa tertipu kemudian melaporkan kasus tersebut ke Satreskrim Polres Ciamis. Setelah proses penyelidikan dan penyidikan rampung, perkara tersebut kini telah dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Ciamis.
"Penanganan perkara mulai dilakukan sejak Maret 2026. Sebelumnya korban memang sempat menerima keuntungan dari investasi tersebut sejak tahun 2025," jelasnya.
Akibat perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 378 KUHP dan Pasal 372 KUHP tentang penipuan dan atau penggelapan. TC terancam hukuman maksimal lima tahun penjara.
Polres Ciamis juga mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran investasi yang menjanjikan keuntungan tidak wajar.
"Kami mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap investasi dengan keuntungan yang tidak masuk akal. Bila perlu, lakukan pengecekan kepada aparat terkait atau pemerintah desa setempat," pungkas Carsono.
Rambut Belasan Siswa SMK Garut Digunting Guru
Akhir-akhir ini, warganet dihebohkan oleh kabar pemotongan rambut belasan siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) oleh guru di Garut karena diduga berwarna pirang. Kejadian itu dipastikan benar adanya. Begini fakta selengkapnya.
Kejadian ini mulai diketahui publik setelah kabarnya beredar di media sosial, setidaknya dalam kurun waktu lima hari terakhir. Dalam video yang beredar tampak sejumlah siswi menangis histeris.
Tangisan itu mulanya tampak membingungkan. Hingga akhirnya, di bagian pertengahan video, seseorang menunjukkan seikat rambut yang telah dipangkas, yang dinarasikan bahwa rambut pelajar itu telah dipotong secara paksa.
detikJabar kemudian melakukan penelusuran lebih lanjut atas kejadian ini. Setelah didalami, ternyata kejadian itu berlangsung di SMKN 2 Garut yang berlokasi di Jalan Raya Suherman, Kecamatan Tarogong Kaler.
Pemotongan rambut tersebut dilakukan oleh salah seorang guru Bimbingan Konseling (BK) yang bertugas di sana. Kabarnya, ada sekitar 18 siswi yang mengalami hal tersebut.
Asep Muhidin, kuasa hukum dari sejumlah pelajar putri yang rambutnya digunting guru itu menuturkan, pihaknya pertama kali mendengar kejadian tersebut dari sejumlah siswi yang mengadu ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Nusantara (Stainus) Garut.
Menurut Asep, kejadian bermula saat sekelompok siswi kembali ke kelas usai mengikuti pelajaran olahraga. Lalu, guru tersebut masuk sembari membawa gunting dan langsung melakukan razia.
"Alasannya, ada laporan masyarakat soal rambut. Tapi, kami pertanyakan dasar laporannya. Kenapa tidak melibatkan orang tua? Itu lebih etis," ucap Asep kepada detikJabar hari ini.
Menurut Asep, tindakan tersebut berlebihan sebab para siswi menutupi bagian rambut dengan hijab selama berada di lingkungan sekolah.
Kejadian ini diketahui terjadi pada Kamis, 30 April 2026 lalu. Kepala SMKN 2 Garut Nur Al Purqon membenarkan hal tersebut. Menurutnya, pemotongan rambut tersebut dilakukan guru BK karena adanya laporan dari berbagai pihak.
"Akumulasi dari laporan wali kelas dan masyarakat, bahwa anak SMK katanya rambutnya berwarna bebas," ucap Purqon.
Kejadian ini menuai pro dan kontra di kalangan warganet. Banyak warga maya yang mengecam tindakan ibu guru itu karena dianggap keterlaluan. Namun, tidak sedikit juga yang mendukung langkah sang guru karena dinilai bertujuan untuk mendisiplinkan siswi yang memiliki rambut berwarna.
"Sy mendukung langkah guru BK, bukan soal sudah pake kerudung tp rambut di warnai itu jelas tdk pantas di lakukan oleh anak sekolah & melanggar tata tertib sekolah," tulis pemilik akun @sul di kolom komentar salah satu unggahan terkait hal tersebut.
"Udah pakai kerudung, harusnya nggak di tindak begitu," kata warganet lainnya.
Setelah ramai menjadi perbincangan, guru yang mencukur rambut belasan siswi ini akhirnya muncul ke publik. Melalui sebuah video, sang guru menghaturkan permohonan maafnya.
"Perlu saya sampaikan, bahwa kegiatan tersebut dilakukan sebagai penegakkan tata tertib sekolah, yang telah ditetapkan. Khususnya dalam menjaga kerapian, dan kedisiplinan peserta didik. Namun demikian, saya menyadari bahwa dalam pelaksanaannya, terdapat hal-hal yang tidak berkenan dan menimbulkan berbagai persepsi di kalangan masyarakat," ucapnya.
"Dengan kerendahan hati, saya meminta maaf khususnya kepada siswa yang saya cintai, orang tua dan masyarakat yang kurang nyaman dengan tindakan saya," ungkap guru bernama Ani tersebut lirih.
Kejadian ini kemudian membetot perhatian Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Secara khusus, pria yang akrab disapa KDM itu mengundang seluruh pihak yang terlibat dalam kasus ini, mulai dari guru hingga 18 siswi yang rambutnya digunting.
Kepada KDM, Ani bercerita bahwa aksi potong rambut para pelajar ini merupakan akumulasi dari beragam laporan yang diterimanya dari masyarakat.
Mulai dari adanya siswi yang membuka hijab setelah keluar dari sekolah dan tampak berambut pirang, hingga keluhan para pelajar putra yang merasa diperlakukan tidak adil. Para siswa tersebut kerap menjadi sasaran razia, padahal menurut mereka kepada Ani, pelajar putri pun banyak yang berambut 'tak lazim'.
"Ada laporan, bu kenapa laki-laki (rambut) panjang sedikit dirazia, tapi perempuan rambutnya merah dibiarkan, keluar gerbang kerudung dibuka, merah masih pakai seragam," katanya.
Atas dasar laporan dari para pihak itu, Ani kemudian berinisiatif melakukan tindakan pendisiplinan dengan cara memotong rambut para siswi tersebut.
Ani sendiri mengakui jika tindakannya itu salah di hadapan Dedi Mulyadi. Namun, setelah mendengar penjelasan dari pihak-pihak terkait, termasuk Ani dan para siswi hingga orang tuanya, Dedi menganggap Bu Ani tidak bersalah.
"Menurut saya, ibu tidak salah. Kalau dalam hati, niatnya untuk memperbaiki. Karena rasa sayang, bukan karena rasa benci," ungkap KDM.
Setelah itu, Dedi kemudian mendamaikan guru dengan belasan siswi yang dirazia beserta orang tuanya. Di akhir, KDM juga memberikan 'tiket' salon gratis untuk para pelajar agar penampilan rambutnya diperbaiki.
Simak Video "Video: WN China Diserang Gerombolan Bermotor Pengguna Narkoba di Bandung"
[Gambas:Video 20detik]
(wip/mso)
