Pengertian masa iddah dalam Minhajul Muslim oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi adalah masa ketika seorang perempuan yang telah menikah kemudian ditalak dan harus menjalani penantian. Selama masa iddah atau penantian ini, perempuan tidak diperbolehkan untuk menikah lagi atau diminta menikah.
Dijelaskan juga bahwa hukum dari masa iddah ini adalah wajib bagi setiap perempuan yang bercerai dengan suaminya, baik karena ditalak ataupun ditinggal wafat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 228 yang artinya:
ŲŲŲąŲŲŲ ŲØˇŲŲŲŲŲŲŲ°ØĒŲ ŲŲØĒŲØąŲبŲŲØĩŲŲŲ Ø¨ŲØŖŲŲŲŲØŗŲŲŲŲŲŲ ØĢŲŲŲŲ°ØĢŲØŠŲ ŲŲØąŲŲŲØĄŲ Û ŲŲŲŲØ§ ŲŲØŲŲŲŲ ŲŲŲŲŲŲŲ ØŖŲŲ ŲŲŲŲØĒŲŲ ŲŲŲ Ų ŲØ§ ØŽŲŲŲŲŲ ŲąŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲŲ ØŖŲØąŲØŲØ§Ų ŲŲŲŲŲŲ ØĨŲŲ ŲŲŲŲŲ ŲŲØ¤ŲŲ ŲŲŲŲ Ø¨ŲŲąŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲąŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲąŲŲØĄŲØ§ØŽŲØąŲ Û ŲŲØ¨ŲØšŲŲŲŲØĒŲŲŲŲŲŲ ØŖŲØŲŲŲŲ Ø¨ŲØąŲدŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲ Ø°ŲŲ°ŲŲŲŲ ØĨŲŲŲ ØŖŲØąŲادŲŲŲØ§Û ØĨŲØĩŲŲŲŲ°ØŲا Û ŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲØĢŲŲŲ ŲąŲŲŲØ°ŲŲ ØšŲŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ø¨ŲŲąŲŲŲ ŲØšŲØąŲŲŲŲ Û ŲŲŲŲŲØąŲŲØŦŲØ§ŲŲ ØšŲŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ø¯ŲØąŲØŦŲØŠŲ Û ŲŲŲąŲŲŲŲŲŲ ØšŲØ˛ŲŲØ˛Ų ØŲŲŲŲŲ Ų
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arab-Latin: Wal-muášallaqÄtu yatarabbaášŖna bi`anfusihinna ᚥalÄᚥata qurÅĢ`, wa lÄ yaá¸Ĩillu lahunna ay yaktumna mÄ khalaqallÄhu fÄĢ ar-á¸ĨÄmihinna ing kunna yu`minna billÄhi wal-yaumil-Äkhir, wa bu'áģĨlatuhunna aá¸Ĩaqqu biraddihinna fÄĢ ÅŧÄlika in arÄdÅĢ iášŖlÄá¸ĨÄ, wa lahunna miᚥlullaÅŧÄĢ 'alaihinna bil-ma'ráģĨfi wa lir-rijÄli 'alaihinna darajah, wallÄhu 'azÄĢzun á¸ĨakÄĢm
Artinya: "Dan para istri yang diceraikan (wajib) menahan diri mereka (menunggu) tiga kali quru'. Tidak boleh bagi mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan para suami mereka lebih berhak kembali kepada mereka dalam (masa) itu, jika mereka menghendaki perbaikan. Dan mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut. Tetapi para suami mempunyai kelebihan di atas mereka. Allah Maha Perkasa, Mahabijaksana" (QS. Al-Baqarah: 228).
Jenis-jenis Iddah
Dikutip dari Buku Pintar Fikih Wanita oleh Abdul Qadir Manshur, masa iddah terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Iddah Karena Perceraian
Pada kategori ini juga dibagi menjadi dua kategori yang memiliki hukumnya sendiri:
Pertama, perempuan yang diceraikan dan belum disetubuhi. Hukumnya adalah ia tidak wajib menjalani masa iddah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Ahzab: 49:
ŲŲŲ°ŲØŖŲŲŲŲŲŲØ§ ŲąŲŲŲØ°ŲŲŲŲ ØĄŲØ§Ų ŲŲŲŲŲØ§Û ØĨŲØ°Ųا ŲŲŲŲØŲØĒŲŲ Ų ŲąŲŲŲ ŲØ¤ŲŲ ŲŲŲŲ°ØĒŲ ØĢŲŲ ŲŲ ØˇŲŲŲŲŲŲØĒŲŲ ŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲ ŲŲØ¨ŲŲŲ ØŖŲŲ ØĒŲŲ ŲØŗŲŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲŲ ŲØ§ ŲŲŲŲŲ Ų ØšŲŲŲŲŲŲŲŲŲŲ Ų ŲŲŲ ØšŲØ¯ŲŲØŠŲ ØĒŲØšŲØĒŲØ¯ŲŲŲŲŲŲŲØ§ Û ŲŲŲ ŲØĒŲŲØšŲŲŲŲŲŲŲ ŲŲØŗŲØąŲŲØŲŲŲŲŲŲŲ ØŗŲØąŲاØŲا ØŦŲŲ ŲŲŲŲØ§
Arab-Latin: YÄ ayyuhallaÅŧÄĢna ÄmanÅĢ iÅŧÄ nakaá¸Ĩtumul-mu`minÄti ᚥumma ášallaqtumáģĨhunna ming qabli an tamassáģĨhunna fa mÄ lakum 'alaihinna min 'iddatin ta'taddáģĨnahÄ, fa matti'áģĨhunna wa sarriá¸ĨáģĨhunna sarÄá¸Ĩan jamÄĢlÄ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu menikahi perempuan-perempuan mukmin, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka tidak ada masa iddah atas mereka yang perlu kamu perhitungkan. Namun berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya."
Kedua, perempuan yang sudah diceraikan dan sudah disetubuhi. Apabila perempuan itu hamil, maka masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan kandungannya. Allah berfirman dalam QS At-thalaq ayat 4:
ŲŲŲąŲŲŲŲ°ŲŲŲŲŲ ŲŲØĻŲØŗŲŲŲ Ų ŲŲŲ ŲąŲŲŲ ŲØŲŲØļŲ Ų ŲŲ ŲŲŲØŗŲØ§ŲØĻŲŲŲŲ Ų ØĨŲŲŲ ŲąØąŲØĒŲØ¨ŲØĒŲŲ Ų ŲŲØšŲدŲŲØĒŲŲŲŲŲŲ ØĢŲŲŲŲ°ØĢŲØŠŲ ØŖŲØ´ŲŲŲØąŲ ŲŲŲąŲŲŲŲ°ŲŲŲŲŲ ŲŲŲ Ų ŲŲØŲØļŲŲŲ Û ŲŲØŖŲŲÛŲŲŲ°ØĒŲ ŲąŲŲØŖŲØŲŲ ŲØ§ŲŲ ØŖŲØŦŲŲŲŲŲŲŲŲ ØŖŲŲ ŲŲØļŲØšŲŲŲ ØŲŲ ŲŲŲŲŲŲŲŲ Û ŲŲŲ ŲŲ ŲŲØĒŲŲŲŲ ŲąŲŲŲŲŲŲ ŲŲØŦŲØšŲŲ ŲŲŲŲŲÛĨ Ų ŲŲŲ ØŖŲŲ ŲØąŲŲŲÛĻ ŲŲØŗŲØąŲØ§
Arab-Latin: Wal-lÄ`i ya`isna minal-maá¸ĨÄĢá¸i min nisÄ`ikum inirtabtum fa 'iddatuhunna ᚥalÄᚥatu asy-huriw wal-lÄ`i lam yahiá¸n, wa ulÄtul-aá¸ĨmÄli ajaluhunna ay yaá¸a'na á¸Ĩamlahunn, wa may yattaqillÄha yaj'al laháģĨ min amrihÄĢ yusrÄ
Artinya: Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya."
Namun apabila perempuan tersebut tidak sedang dalam keadaan hamil, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, ia sedang menstruasi. Dalam keadaan ini, maka masa iddahnya adalah dalam waktu tiga kali menstruasi. Kemudian apabila ia tidak mengalami menstruasi maka masa iddahnya adalah tiga bulan.
2. Iddah Karena Kematian
Masa iddah untuk perempuan yang ditinggal meninggal suaminya juga memiliki beberapa kategori hukum, yaitu:
Pertama, perempuan tidak dalam keadaan hamil. Dalam kondisi ini, maka masa iddahnya adalah empat bulan sepuluh hari. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 234:
"Dan orang-orang yang mati di antara kamu serta meninggalkan istri-istri hendaklah mereka (istri-istri) menunggu empat bulan sepuluh hari. ..."
Kedua, perempuan yang sedang dalam keadaan hamil. Masa iddahnya adalah sampai ia melahirkan kandungannya. Seperti dalam firman Allah dalam QS At-Thalaq ayat 4:
"...sedangkan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya."
Larangan dalam Masa Iddah
Mengutip dari sumber yang sama, ada beberapa hal yang menjadi larangan bagi perempuan saat dalam masa iddah. Hal ini diatur dalam syariat Islam dan larangan tersebut tidak berlaku lagi apabila masa iddahnya sudah selesai.
1. Tidak diperbolehkan menikah dengan laki-laki lain
Perempuan yang sedang menjalani masa iddah baik karena bercerai, fasakh, atau ditinggal meninggal oleh suaminya tidak boleh menikah selain dengan laki-laki yang meninggalkan atau menceraikannya. Apabila menikah, maka pernikahannya dianggap tidak sah. Adapun laki-laki yang meminang dengan sindiran kepada perempuan yang sedang dalam masa iddah juga tidak diperbolehkan (haram).
2. Tidak diperbolehkan keluar rumah kecuali dalam keadaan darurat
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam at-Thalaq ayat 1 yang mana menjelaskan bahwa perempuan yang sedang dalam masa iddah tidak diperbolehkan keluar rumah yang ditinggali bersama suaminya sebelum bercerai, kecuali apabila ada keperluan mendesak. Suami juga tidak boleh memaksa perempuan untuk keluar rumah kecuali istrinya telah melakukan perbuatan terlarang seperti zina.
3. Melakukan Ihdad
Ihdad dilakukan oleh perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya sampai habis masa iddahnya. Kata ihdad sendiri memiliki arti tidak memakai perhiasaan, wangi-wangian, pakaian mencolok, pacar, dan celak mata.
Hikmah Masa Iddah bagi Wanita Muslim
Hikmah dari disyariatkannya masa iddah bagi wanita mengutip Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam Minhajul Muslim adalah:
1. Apabila suami melakukan talak raj'i (talak satu dan dua), ini memberikan kesempatan kepada suami agar bisa rujuk dengan istrinya tanpa kesulitan.
2. Untuk mengetahui kosong atau tidaknya rahim. Hal ini bertujuan untuk menjaga silsilah keturunan dari kemungkinan tercampur dengan orang lain.
3. Apabila istri ditinggal mati oleh suaminya, masa iddah ini akan menunjukkan kesetiaannya pada sang suami.
Demikianlah beberapa penjelasan mengenai masa iddah bagi wanita muslim.
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Waketum MUI Soroti Kesepakatan Dagang RI-AS: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
MUI Sebut Perjanjian Dagang RI-AS Bertentangan dengan UU, Ini Poin yang Dikritik
Bule Protes Suara Tadarusan, Kemenag Tegaskan Aturan Toa Masjid