Senin, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah menjadi hari paling membahagiakan di keluarga pemuka Quraisy, Abdul Muthalib. Sang menantu, Aminah binti Wahab, melahirkan seorang bayi laki-laki yang kelak menjadi manusia paling mulia pembawa rahmat bagi semesta alam.
Dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, setelah melahirkan, Siti Aminah mengutus seseorang menemui Abdul Muthalib untuk mengabarkan kelahiran sang cucu. Mendengar kabar gembira itu, Abdul Muthalib langsung bergegas ke rumah sederhana tempat kelahiran bayi laki-laki itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada sang mertua, Siti Aminah lalu menceritakan apa yang dialaminya saat mengandung. Dia bermimpi didatangi seseorang yang memberitahukan siapa sebenarnya sosok yang ada dalam kandungan itu. Siti Aminah juga diminta menamakan anak tersebut dengan satu nama.
إنَّكِ قَدْ حَمَلْتِ بِسَيِّدِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، فَإِذَا وَقَعَ إلَى الْأَرْضِ فَقُولِي: أُعِيذُهُ بِالْوَاحِدِ، مِنْ شَرِّ كُلِّ حَاسِدٍ، ثُمَّ سَمِّيهِ مُحَمَّدًا
Artinya: "Sesungguhnya kau sedang mengandung pemimpin umat ini. Maka, ketika ia terlahir ke dunia, ucapkanlah: 'Aku memohon perlindungan untuknya kepada Tuhan yang Maha Esa, dari kejahatan setiap orang yang hasud, dan namai ia 'Muhammad'."
Abdul Muthalib kemudian mengambil bayi itu, menggendongnya, lalu membawanya ke Ka'bah. Dia memanjatkan doa penuh syukur, memohon perlindungan kepada Tuhan pemilik Ka'bah untuk cucunya.
"Segala puji bagi Allah yang telah memberiku anak ini, seorang anak laki-laki yang suci pakaiannya (bersih kehormatannya). Yang telah memimpin di buaian (masa kecilnya) atas anak-anak yang lain. Aku memohon perlindungan baginya kepada Tuhan pemilik Ka'bah (Baitullah), dari setiap orang yang berbuat aniaya, dari orang yang membenci, dan dari setiap orang yang dengki."
Abdul Muthalib kemudian membawa cucunya kepada sang ibu seraya memberikan nama "Muhammad". Nama ini tampak asing bagi masyarakat Arab kala itu. Sebab, mereka biasa mengambil nama dari leluhur atau tokoh terkemuka dalam silsilah keluarga.
Menurut riwayat Al-Baihaqi dari Abu al-Hasan al-Tanukhi, saat orang-orang menanyakan alasan pemberian nama itu, Abdul Muthalib mengatakan, "Aku ingin Allah memujinya di langit dan ciptaan-Nya di bumi memujinya."
Nabi Muhammad SAW kemudian disusukan kepada wanita dari Bani Saad yang bernama Halimah binti Abu Dzuaib atau dikenal dengan Halimah as-Sa'diyah. Menyusukan bayi yang baru lahir kepada wanita lain sudah menjadi tradisi turun temurun masyarakat Arab kala itu.
Rasulullah SAW berada dalam asuhan Halimah as-Sadiyah selama 4 atau 5 tahun. Ada juga riwayat yang menyebut sampai usia 6 tahun.
(kri/dvs)

Komentar Terbanyak
Kutip Al-Qur'an dalam Khotbah, Masjid di Paris Ditutup 6 Bulan
Islam Masuk Nusantara Ketika Nabi Muhammad Masih Hidup
Kenapa Tape Halal Padahal Mengandung Alkohol?