Apa Hubungan Sholawat Badar dengan Perang Badar?

Apa Hubungan Sholawat Badar dengan Perang Badar?

Lathifah Nur Awwaliyyah - detikHikmah
Rabu, 30 Sep 2026 09:30 WIB
Ilustrasi Perang Badar
Ilustrasi Perang Badar. Foto: ilustrasi: Fauzan Kamil/detikcom
Jakarta -

Sholawat Badar merupakan salah satu untaian syair pujian dan doa yang begitu lekat di telinga masyarakat muslim Nusantara, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Lantunan ini kerap berkumandang di masjid, musala, pembuka acara pengajian, hingga peringatan hari besar Islam.

Namun, pernahkah terlintas mengapa syair ini dinamai Sholawat Badar dan apa hubungannya dengan peristiwa bersejarah Perang Badar pada masa Rasulullah SAW?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hubungan antara Sholawat Badar dan Perang Badar terletak pada bait-bait syairnya yang memuat tawasul kepada para pejuang Perang Badar atau Ahli Badar, serta keterikatan di balik latar belakang kelahirannya di Indonesia pada era 1960-an.

Hubungan Sholawat Badar dengan Perang Badar

Hubungan Sholawat Badar dengan Perang Badar tercermin dalam lafal, "Bismillāhi tawassalnā, wa bil-hādī rasūlillāh, wa kulli mujāhidin lillāh, bi ahlil-badri yā Allāh". Yang artinya "Dengan menyebut nama Allah kami bertawasul, dan dengan petunjuk Rasulullah, serta setiap pejuang di jalan Allah, demi pahlawan Perang Badar ya Allah."

ADVERTISEMENT

Syair ini menjadikan para sahabat Ahli Badar sebagai wasilah doa. Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama'ah, tawasul dengan orang-orang saleh yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah merupakan ikhtiar yang masyru'. Praktik ini memiliki landasan kuat sebagaimana riwayat hadits Shahih Bukhari dari Anas bin Malik RA:

"Ketika terjadi kemarau panjang, sahabat Umar bin Khattab bertawasul dengan Abbas bin Abdul Muthalib. Kemudian berdoa: 'Ya Allah kami telah bertawasul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, maka Engkau turunkan hujan; dan sekarang kami bertawasul lagi dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan.' Anas berkata: 'Maka turunlah hujan kepada kami'." (HR Bukhari)

Para sahabat yang ikut dalam Perang Badar memegang derajat istimewa di sisi Allah SWT. Hal ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW:

"Barangkali Allah memandang kepada para Ahli Badar kemudian berfirman: 'Lakukan apa saja yang kalian kehendaki. Surga telah wajib bagi kalian,' atau 'Sungguh Aku telah mengampuni kalian'." (HR Bukhari)

Sejarah Terciptanya Sholawat Badar

Dilansir NU Online yang mengacu catatan sejarah dalam buku Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah karya H. Soeleiman Fadeli dan M. Subhan, Sholawat Badar digubah oleh KH Ali Mansur pada era 1960-an di Banyuwangi, Jawa Timur.

Saat itu, konstelasi politik Indonesia berada dalam ketegangan yang memuncak. Pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) kian agresif di pedesaan, sementara posisi kaum muslimin dan warga NU merasa terancam serta terdesak.

Kecemasan mendalam atas nasib umat membuat KH Ali Mansur senantiasa bermunajat. Di tengah kegelisahan tersebut, beliau bermimpi didatangi sekelompok habaib berpakaian serba putih-hijau. Pada malam yang sama, istri beliau bermimpi bertemu dengan sosok yang disebut Baginda Nabi Muhammad SAW.

Kemudian KH Ali Mansur menceritakan mimpi tersebut kepada seorang ulama kasyaf, Habib Hadi al-Haddar di Banyuwangi. Dari mimpi tersebut, Habib Hadi al-Haddar menjelaskan bahwa sosok-sosok mulia dalam mimpi tersebut adalah para pahlawan Perang Badar, para syuhada dan sahabat utama yang berjuang bersama Rasulullah SAW.

Melalui isyarat mimpi itulah, KH Ali Mansur mendapatkan ilham dan dorongan niat kuat dalam hatinya untuk menuliskan bait-bait sholawat dan pujian yang bertujuan sebagai tawasul kepada para sahabat Ahli Badar.

Keesokan harinya terjadi peristiwa luar biasa. Tetangga-tetangga berdatangan membawa bahan makanan karena diberitahu oleh orang-orang berjubah putih bahwa akan ada hajatan besar, padahal saat itu beliau tidak merencanakan hajatan apa pun.

Menjelang terbit matahari, datang rombongan dari Kwitang Jakarta yang dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Habib Ali Kwitang). Secara mengejutkan, Habib Ali langsung meminta KH Ali Mansur melagukan syair yang baru saja dibuatnya, padahal belum pernah diceritakan kepada siapa pun. Sejak saat itulah gubahan tersebut dikenal luas sebagai Sholawat Badar.

Keterikatan Sholawat Badar dengan Perang Badar tidak hanya meneladani bentuk perjuangan para syuhada, melainkan juga bentuk permohonan keselamatan batiniah. Melalui wasilah kemuliaan para syuhada dan pejuang Badar, memohon agar diselamatkan dari mara bahaya, fitnah, perpecahan, dan kesengsaraan hidup.



(kri/kri)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads