Kisah Muhammad Al-Fatih Memasuki Hagia Sophia Setelah Konstantinopel Takluk

Kisah Muhammad Al-Fatih Memasuki Hagia Sophia Setelah Konstantinopel Takluk

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Rabu, 12 Agu 2026 05:45 WIB
Ilustrasi Sultan Muhammad Al-Fatih saat menaklukkan Konstatinopel (Fauzan Kamil/detikcom)
Ilustrasi Sultan Muhammad Al-Fatih saat menaklukkan Konstatinopel (Fauzan Kamil/detikcom)
Jakarta -

Nama Muhammad Al Fatih populer dalam sejarah kejayaan Islam berkat keberhasilannya menaklukkan Konstantinopel. Muhammad Al Fatih merupakan anak dari Sultan Murad II. Dia juga dikenal sebagai Sultan Mehmed II.

Kisah Muhammad Al Fatih identik dengan penaklukan Konstantinopel. Menurut Encyclopedia Britanica, usai menaklukkan Konstantinopel pada 1453, Muhammad Al Fatih mengubah Hagia Sophia menjadi masjid.
Setelah Sultan Murad II wafat, pemerintahan kerajaan Turki Utsmani dipimpin oleh Muhammad Al Fatih atau Sultan Mehmed II. Dia berusaha membangkitkan kembali sejarah umat Islam sampai dapat menaklukan Konstantinopel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usaha penaklukan Konstantinopel pertama dilancarkan pada 44 H di zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian pada zaman khalifah Ummayah, Abbasiyah, zaman Khalifah Harun Ar-Rasyid pada 190 H, akan tetapi semua mengalami kegagalan.

Usaha awal umat Islam untuk menguasai kota Konstantinopel dengan mendirikan benteng Bosporus. Benteng ini didirikan umat Islam pada zaman Sultan Mehmed II dan dijadikan sebagai pusat persediaan perang untuk menyerang kota Konstantinopel.

ADVERTISEMENT

Akhirnya kota Konstantinopel berhasil jatuh di tangan umat Islam pada 29 Mei 1453 M. Di kota itu terdapat gereja era Bizantium. Muhammad Al Fatih kemudian mengubahnya menjadi masjid yang dikenal dengan Hagia Sophia saat ini.

Menurut buku Mengapa Umat Islam Tertinggal?: Dunia Islam Problem & Dinamika susunan Muhammad Najib, Hagia Sophia dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justinian I dari Kekaisaran Bizantium.

Pada masanya, Hagia Sophia menjadi gereja terbesar di dunia dan dianggap sebagai pencapaian luar biasa dalam bidang arsitektur. Selama hampir seribu tahun, Hagia Sophia berfungsi sebagai katedral utama Gereja Ortodoks Timur.

Setelah diubah menjadi masjid, Hagia Sophia direnovasi untuk menambah mihrab, mimbar, serta empat menara (minaret) yang kini menjadi ciri khas bangunan tersebut. Walau begitu, sebagian besar struktur utama bangunan tetap dipertahankan.

Lalu, pada 1935 pemerintah Turki di bawah Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum. Selama menjadi museum, bagunan tersebut terbuka bagi pengunjung dari berbagai negara tanpa memandang agama. Status museum itu bertahan selama sekitar 85 tahun.

Kemudian pada 2020, pemerintah Turki memutuskan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid. Walau digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam, bangunan ini tetap terbuka untuk wisatawan yang ingin melihat keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya di luar waktu pelaksanaan salat.

Daya tarik utama Hagia Sophia salah satunya adalah kubah utama yang berdiameter sekitar 31 meter dengan ketinggian mencapai lebih dari 55 meter dari lantai. Pada masa pembangunannya, desain kubah dianggap sangat revolusioner karena bisa menciptakan kesan seolah-olah kubah melayang di udara.



(aeb/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads