Nama Ummu Hani dikenal dalam berbagai riwayat sirah Nabawiyah. Sepupu Rasulullah SAW ini bukan hanya dikaitkan dengan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam, tetapi juga memiliki kisah yang jarang diketahui banyak orang. Dalam sejumlah riwayat, Rasulullah SAW pernah meminangnya, namun keduanya tidak pernah berjodoh.
Penerjemah resmi khutbah Masjidil Haram asal Indonesia, Ahmad Musyaddad, mengatakan kisah Ummu Hani menjadi salah satu pembahasan menarik dalam kajian sirah Nabawiyah.
"Ummu Hani itu perempuan, sepupu Nabi SAW. Kisahnya juga menarik untuk diulas. Kalau orang bilang, dia adalah cintanya Rasulullah SAW yang tidak kesampaian," ujar Musyaddad saat memandu tur jejak sirah di sekitar Masjidil Haram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Musyaddad menuturkan, kisah tersebut berlangsung dalam beberapa fase. Pada mulanya, Rasulullah SAW berniat meminang Ummu Hani ketika keduanya masih muda. Namun, pinangan itu tidak diterima karena ayah Ummu Hani telah menyiapkan putrinya untuk menikah dengan laki-laki lain.
"Pertama, Rasulullah SAW ingin melamar beliau, tetapi ayah Ummu Hani tidak sepakat karena beliau akan dijodohkan dengan orang lain," katanya.
Seiring berjalannya waktu, Ummu Hani kemudian berpisah dengan suami pertamanya. Menurut Musyaddad, Rasulullah SAW kembali ingin meminangnya. Namun, Ummu Hani menolak dengan alasan telah memiliki anak dan khawatir kehadiran anak-anaknya akan menjadi beban bagi Rasulullah SAW.
"Saat Ummu Hani sudah tidak lagi dengan suami yang pertama, Rasulullah SAW kembali datang. Tetapi Ummu Hani mengatakan beliau sudah punya anak dan khawatir merepotkan Nabi SAW," jelasnya.
Beberapa waktu kemudian, ketika anak-anak Ummu Hani telah beranjak dewasa, keadaan justru berbalik. Kali ini Ummu Hani yang menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah SAW. Akan tetapi, pernikahan itu tetap tidak pernah terwujud.
Musyaddad menjelaskan, saat itu Rasulullah SAW tidak lagi diperkenankan menikahi sepupu yang tidak ikut berhijrah ke Madinah.
"Ketika anaknya sudah besar, Ummu Hani yang datang kepada Rasulullah SAW. Tapi ternyata Allah tidak membolehkan karena Rasulullah SAW tidak diizinkan menikah dengan sepupunya yang tidak ikut hijrah ke Madinah," tuturnya.
Meski tidak pernah menjadi istri Rasulullah SAW, nama Ummu Hani tetap memiliki tempat istimewa dalam sejarah Islam. Rumahnya menjadi salah satu lokasi yang banyak disebut dalam berbagai riwayat sirah Nabawiyah.
Beberapa referensi menyebut, lokasi rumah Ummu Hani kini berada di sekitar tiang berwarna pink di area Mataf atau pelataran tawaf bagian dalam Masjidil Haram, dekat Pintu King Abdulaziz. Tepatnya berada di barisan kedua sebelah kiri setelah memasuki pintu tersebut.
Di kawasan itu terdapat Al-Hazwarah, lokasi yang dalam sejumlah riwayat dikaitkan dengan peristiwa Isra Mi'raj. Sebagian riwayat juga menyebut rumah Ummu Hani sebagai tempat Rasulullah SAW berada sebelum diangkat Malaikat Jibril dalam perjalanan Isra Mi'raj.
Tak hanya itu, setelah peristiwa Fathu Makkah atau pembebasan Kota Makkah, Rasulullah SAW juga mendatangi rumah Ummu Hani dan melaksanakan salat sunah delapan rakaat.
"Rumah Ummu Hani menjadi tempat yang bersejarah karena banyak cerita di situ. Ada Al-Hazwarah, kemudian Isra Mi'raj, dan juga saat Rasulullah SAW datang pada Fathu Makkah. Di tempat itulah Rasulullah SAW salat delapan rakaat pada waktu duha," kata Musyaddad.
Sebagian ulama berpendapat salat tersebut merupakan salat Duha, sementara sebagian lainnya menyebutnya sebagai salatul fath atau salat penaklukan. Tradisi itu kemudian diteladani oleh sebagian panglima perang Islam pada masa-masa berikutnya sebagai ungkapan syukur setelah memperoleh kemenangan.
Di balik kisah 'cinta yang tidak kesampaian' itu, Ummu Hani tetap punya tempat istimewa dalam sirah Nabawiyah. Namanya terus disebut bukan hanya sebagai sepupu Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai sosok yang berkaitan dengan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam.
(rns/inf)

Komentar Terbanyak
Ramai Keluhan soal Tahlilan, Begini Penjelasan soal Jamuan di Rumah Duka
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat