Strategi Jenius Salman Al Farisi di Balik Perang Khandaq

Strategi Jenius Salman Al Farisi di Balik Perang Khandaq

Devi Setya - detikHikmah
Senin, 08 Jun 2026 05:00 WIB
Strategi Jenius Salman Al Farisi di Balik Perang Khandaq
ilustrasi Foto: Gemini AI
Jakarta -

Perang Khandaq menjadi salah satu kisah yang menunjukkan bagaimana kecerdasan, musyawarah, dan strategi dapat menjadi kunci kemenangan. Sosok yang memiliki peran penting pada strategi Perang Khandaq adalah Salman Al Farisi.

Dikutip dari buku Ensiklopedia Ulama Ushul Fiqh Sepanjang Masa karya Abdullah Musthafa, Perang Khandaq adalah perang yang pertama kali diikuti oleh Salman Al Farisi. Ia dikenal sebagai orang yang kuat dan keras, sampai setelah Perang Khandaq usai, ia selalu mengikuti perang selanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Strategi dalam Perang Khandaq

Merangkum buku Khazanah Peradaban Islam di Timur dan Barat: Jejak-Jejak Sejarah dan Kebudayaan Islam di Berbagai Belahan Dunia karya Abdul Syukur al-Aziz, Perang Khandaq terjadi pada bulan Syawal. Sebab perang ini adalah ketidakpuasan beberapa orang Yahudi dari Bani Nadir dan Bani Wa'il terhadap keputusan Rasulullah SAW yang menempatkan mereka di luar Madinah.

Mereka diusir dari Madinah karena penghianatan mereka atas perjanjian yang pernah dibuat serta sikap mereka yang membelot dari pasukan Madinah saat Perang Uhud.

ADVERTISEMENT

Pada saat menghadapi Perang Khandaq, kaum muslimin berada dalam kondisi yang sangat sulit. Jumlah pasukan musuh jauh lebih besar, persediaan makanan terbatas, dan ancaman datang dari berbagai arah.

Namun, di tengah situasi yang tampak mustahil tersebut, muncul sebuah gagasan yang mengubah jalannya sejarah. Gagasan itu datang dari seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia, yakni Salman Al Farisi. Strategi yang ia usulkan bukan sekadar taktik perang biasa, melainkan inovasi yang belum pernah dikenal oleh bangsa Arab saat itu.

Bagi masyarakat Arab saat itu, menggali parit sebagai pertahanan militer merupakan sesuatu yang asing. Umumnya peperangan dilakukan secara terbuka di medan luas. Namun Salman memahami bahwa kondisi yang dihadapi umat Islam membutuhkan pendekatan berbeda.

Usulan tersebut diterima oleh Rasulullah SAW dan para sahabat.

Ide membangun parit ini berlatarkan kebiasaan orang-orang di kampung halaman Salman Al Farisi di Persia. Mereka akan membangun parit pertahanan ketika dalam situasi takut diserang, terutama oleh pasukan berkuda.

Berkat kecerdasan dan pengalaman hidupnya yang panjang, Salman Al Farisi memberikan solusi yang membuat pasukan musyrik gagal mencapai tujuan mereka. Hingga kini, namanya dikenang sebagai sosok yang berperan besar dalam keberhasilan kaum muslimin mempertahankan Madinah.

Proses Menggali Parit

Setelah keputusan diambil, kaum muslimin segera memulai pekerjaan besar yakni menggali parit sepanjang beberapa kilometer di bagian terbuka Kota Madinah.

Rasulullah SAW membuat peta penggalian, memanjang dari utara ke selatan. Saat itu, setiap sepuluh orang diwajibkan menggali parit sepanjang 40 meter (lebar 4,62 meter dan dalam 3,234 meter). Setelah enam hari (dalam riwayat lain, 10 hari), panjang parit yang berhasil digali mencapai 5.544 meter.

Pekerjaan itu tidak mudah. Cuaca dingin, persediaan makanan terbatas, dan ancaman musuh yang semakin dekat membuat para sahabat harus bekerja keras siang dan malam.

Salman Al Farisi juga ikut bekerja bersama kaum muslimin. Ia bukan sekadar penggagas strategi, tetapi turut berjuang mewujudkan rencana tersebut hingga selesai.

Ketika pasukan sekutu akhirnya tiba di Madinah, mereka dibuat terkejut oleh pemandangan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Di hadapan mereka terbentang parit besar yang sulit dilintasi. Pasukan berkuda yang menjadi kekuatan utama musuh tidak dapat menyeberang dengan mudah.

Mereka terpaksa menghentikan laju serangan dan mencari cara lain untuk memasuki kota. Namun upaya tersebut tidak berhasil.

Parit yang digali atas usulan Salman Al Farisi berhasil mengubah pola peperangan. Keunggulan jumlah pasukan musuh menjadi tidak banyak berarti karena mereka tidak dapat menyerang secara langsung.

Akibatnya, perang berubah menjadi pengepungan yang berlangsung selama beberapa minggu.

Kemenangan Tanpa Pertempuran Besar

Selama pengepungan berlangsung, kaum muslimin tetap bertahan di balik parit. Sementara itu, pasukan sekutu mulai menghadapi berbagai kesulitan.

Cuaca semakin buruk. Angin kencang menerjang perkemahan mereka. Persediaan logistik menipis dan semangat pasukan mulai menurun.

Dikutip dari buku Belajar Seni Memimpin pada Muhammad karya Drs. H. Erjati Abas, dikisahkan bahwa kemudian Allah SWT mengirimkan angin yang sangat kuat sehingga tenda-tenda pasukan sekutu porak-poranda. Kondisi tersebut membuat mereka kehilangan motivasi untuk melanjutkan pengepungan.

Akhirnya pasukan musuh memutuskan mundur tanpa berhasil menaklukkan Madinah.




(dvs/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads