Benarkah Salman Al Farisi Disebut Bagian dari Ahlul Bait?

Benarkah Salman Al Farisi Disebut Bagian dari Ahlul Bait?

Tia Kamilla - detikHikmah
Senin, 13 Apr 2026 05:45 WIB
Ilustrasi sahabat nabi
Ilustrasi ahlul bait. Foto: AI/Gemini
Jakarta -

Salman Al Farisi disebut-sebut sebagai bagian dari ahlul bait. Ahlul bait sering dipahami sebagai keluarga dekat Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah Islam, Salman dikenal sebagai sahabat dengan perjalanan hidup yang tidak biasa.

Ia rela menempuh perjalanan panjang demi mencari kebenaran, hingga akhirnya bertemu Nabi Muhammad SAW dan memeluk Islam. Dalam riwayat, Nabi SAW bahkan pernah menyebut Salman sebagai bagian dari keluarganya.

Lalu, benarkah Salman Al Farisi disebut bagian dari ahlul bait? Simak penjelasannya berikut ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Ahlul Bait?

Ahlul bait adalah sebutan untuk keluarga dekat Nabi Muhammad SAW. Mereka adalah keturunan dan orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan Nabi, yang sangat dihormati oleh umat Islam di seluruh dunia.

Salman Al Farisi Bagian dari Ahlul Bait

Mengutip buku Ensiklopedia Sahabat Rasulullah karya Wulan Mulya Pratiwi dkk, Salman Al Farisi dikenal sebagai sosok yang istimewa dan memiliki tekad kuat. Ia mampu menghadapi berbagai kesulitan dan berusaha mewujudkan hal yang sulit menjadi mungkin. Salman juga dikenal sebagai pencari kebenaran sejati.

ADVERTISEMENT

Nabi Muhammad SAW menjelaskan kedudukan Salman Al Farisi yang sangat dekat dengan beliau. Nabi SAW bersabda, "Salman adalah bagian dari kami, ahlul bait."

Salman adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang berasal dari Persia. Ia hidup bersama orang tuanya dan menganut agama Majusi, yaitu ajaran yang menyembah api.

Sejak kecil, Salman sangat disayang orang tuanya dan taat menjalankan agamanya. Karena itu, ia diberi tugas menjaga api suci agar tetap menyala dan tidak padam.

Kisah Salman Al Farisi Masuk Islam

Menurut buku Salman Al Farisi, Petualang Pencari Kebenaran karya Zaidin Sidik, Salman Al Farisi berasal dari Desa Jayyun, Kota Isfahan, Persia (sekarang Iran). Ia tumbuh dengan status sosial tinggi karena bertugas menjaga api suci dalam ajaran Majusi yang dianutnya saat itu.

Namun, seperti dijelaskan dalam buku Tafsir Surat Al-Fatihah karya Idrus Majusi, Salman merasa hatinya tidak tenang dengan keyakinan tersebut. Kegelisahan itu membuatnya memulai perjalanan untuk mencari kebenaran.

Dalam perjalanannya, ia sempat masuk ke gereja Nasrani dan bertanya tentang ajaran mereka. Ia juga belajar dari seorang pendeta dan berpindah mengikuti para pedagang menuju Syam untuk memperdalam pengetahuan.

Perjalanan Salman tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencari kebenaran hingga akhirnya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Dari sikap dan akhlak Nabi SAW, Salman semakin yakin dan akhirnya memeluk Islam.



(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads