Pertempuran melawan Raja Hormuz, yang dikenal sebagai Pertempuran Rantai atau Battle of Chains, menjadi salah satu kisah paling menarik dalam perjalanan militer Khalid bin Walid sebagai panglima perang kaum Muslimin. Dalam pertempuran ini, strategi dan keberanian diuji dalam menghadapi pasukan Kekaisaran Sasaniyah yang terkenal kuat dan keras.
Namun, ada satu hal yang paling mencuri perhatian dari pertempuran ini, yakni keputusan Hormuz untuk merantai pasukannya sendiri di medan perang. Mengapa langkah ekstrem ini diambil, dan apa dampaknya terhadap jalannya pertempuran melawan Khalid bin Walid?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kenapa Hormuz Merantai Pasukannya?
Dijelaskan dalam buku Khalid Bin Al-Waleed: Sword of Allah oleh A. I. Akram, penggunaan rantai oleh pasukan Persia bukanlah karena ketakutan prajurit akan melarikan diri. Justru, rantai tersebut menjadi simbol keberanian ekstrem dan tekad untuk bertempur hingga mati di medan perang.
Hormuz menggunakan rantai sebagai cara untuk memperkuat barisan pasukannya agar tetap solid saat menghadapi serangan musuh. Dengan saling terikat, para prajurit diharapkan mampu berdiri kokoh seperti benteng dan tidak mudah ditembus oleh serangan kavaleri cepat dari Khalid bin Walid.
Selain itu, taktik ini juga dirancang untuk mengurangi risiko terjadinya celah dalam formasi akibat serangan mendadak. Pasukan berkuda musuh akan kesulitan menjatuhkan beberapa prajurit sekaligus karena mereka terhubung satu sama lain dalam satu kesatuan yang rapat.
Namun, di balik keunggulannya, rantai tersebut justru menjadi kelemahan fatal ketika pasukan Persia mulai terdesak. Saat kekalahan tak terhindarkan, para prajurit tidak dapat mundur sehingga banyak dari mereka menjadi korban karena terjebak dan tidak bisa bergerak bebas.
Kisah Pertempuran Hormuz
Diceritakan dalam buku Panglima Surga oleh Abu Fatah Grania, pertempuran dengan Raja Hormuz yang dikenal sebagai pertempuran Rantai atau Dhat al-Salasil merupakan salah satu pertempuran awal antara pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid melawan Kekaisaran Sasaniyah. Pertempuran ini terjadi di wilayah Kazima, dekat perbatasan Irak dan Kuwait modern, setelah Perang Riddah berakhir.
Konflik ini bermula dari ekspansi awal pasukan Muslim ke wilayah Persia yang sebelumnya diawali oleh serangan suku-suku Arab di bawah pimpinan Mutsana bin Haritha. Keberhasilan serangan awal tersebut mendorong Abu Bakar untuk mengirim Khalid bin Walid memimpin ekspedisi besar ke Mesopotamia.
Sebelum pertempuran terjadi, Khalid menggunakan strategi cerdik untuk menguras tenaga musuh dengan memancing pasukan Persia berpindah-pindah lokasi. Strategi ini efektif karena pasukan Sasaniyah yang dipimpin Hormuz memiliki perlengkapan berat sehingga kurang lincah.
Hormuz akhirnya memposisikan pasukannya di Kazima dalam kondisi kelelahan akibat pergerakan yang terus dipaksakan. Di sisi lain, pasukan Khalid yang lebih mobile justru datang dengan kondisi lebih siap untuk bertempur.
Dalam pertempuran tersebut, Hormuz mengambil langkah ekstrem dengan merantai sebagian pasukannya satu sama lain. Tujuannya adalah agar pasukan tidak mundur dan tetap bertahan menghadapi serangan kavaleri Muslim yang terkenal cepat dan mematikan.
Pertempuran semakin memanas ketika Hormuz menantang duel langsung dengan Khalid bin Walid di medan perang. Duel tersebut berakhir dramatis ketika Hormuz terbunuh, yang kemudian memicu serangan besar-besaran dari pasukan Muslim.
Akhirnya, pasukan Persia mengalami kekalahan telak karena tidak mampu bergerak fleksibel akibat rantai yang mengikat mereka. Kemenangan ini membuka jalan bagi Khalid untuk melanjutkan penaklukan ke wilayah penting lain seperti Al-Hirah dan memperluas kekuasaan Muslim di Irak.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Geger Raja Charles III Disebut Memeluk Islam, Ini Kronologinya
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi