Setelah Hormuz, Khalid bin Walid Menang Lagi di 3 Perang Besar Persia

Setelah Hormuz, Khalid bin Walid Menang Lagi di 3 Perang Besar Persia

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 04 Apr 2026 05:00 WIB
Ilustrasi Perang Uhud
Ilustrasi perang Khalid bin Walid (Foto: freepik/Freepik)
Jakarta -

Sebagai panglima perang, Khalid bin Walid dikenal tangguh dan cerdik dalam menyusun strategi di medan tempur. Kemampuannya membaca situasi dan mengambil keputusan cepat membuatnya kerap unggul meski menghadapi musuh dengan kekuatan lebih besar.

Salah satu kisah paling terkenal adalah saat ia berduel melawan Hormuz, bangsawan sekaligus panglima Persia yang dikenal kejam. Dalam pertempuran itu, Khalid bin Walid menunjukkan keberanian sekaligus kecerdikan yang berujung pada kemenangan pasukan Muslim.

Namun, kemenangan atas Hormuz bukan satu-satunya pencapaian besar dalam ekspansi ke wilayah Persia. Setelah itu, Khalid bin Walid kembali mencatatkan banyak kemenangan pertempuran besar lainnya yang semakin mengukuhkan reputasinya sebagai jenderal ulung dalam sejarah perang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

3 Perang yang Dimenangkan Khalid Bin Walid di Persia

Khalid bin Walid yang memimpin pertempuran di pihak kaum Muslimin mencatatkan banyak sekali kemenangan berkat ketangguhan dan kecerdikannya. Selain pertempuran Hormuz, berikut ini adalah rentetan perang yang dimenangkan Khalid bin Walid di Persia.

ADVERTISEMENT

1. Pertempuran Al-Madzar

Dikutip dari buku Khalid bin Walid: Menyelami Kisah Heroik Sang Pedang Allah yang Tak Terkalahkan oleh Shohibul Ulum, Pertempuran Al-Madzar atau yang juga dikenal sebagai Pertempuran Sungai terjadi di wilayah Mesopotamia, yang kini termasuk dalam kawasan Irak.

Pertempuran ini mempertemukan pasukan Kekhalifahan Rashidun di bawah komando Khalid bin Walid melawan Kekaisaran Sasaniyah yang memiliki jumlah pasukan yang lebih besar.

Pertempuran berlangsung di kawasan lembah, tempat pasukan Persia berkumpul setelah kekalahan sebelumnya dalam Pertempuran Walaja. Salah satu panglima Persia, Qarin, menantang duel untuk membalas kematian Hormuz, namun berhasil dikalahkan oleh Ma'qal bin A'sya dari pihak Muslim.

Selain itu, dua tokoh penting Persia lainnya juga tewas dalam pertempuran, yakni Anusyjan yang dibunuh oleh Ashim bin Amr serta Qubaz yang gugur di tangan Adi bin Hatim. Kematian para pemimpin ini membuat pasukan Persia kehilangan kendali dan mulai mundur dari medan perang.

Dalam kondisi kacau, pasukan Persia yang melarikan diri dikejar hingga ke aliran Sungai Maqil, anak dari Sungai Eufrat. Banyak dari mereka tewas di sungai tersebut, dengan jumlah korban mencapai puluhan ribu, sementara sebagian lainnya ditawan oleh pasukan Muslim.

Kemenangan ini menjadi salah satu bukti keunggulan strategi Khalid bin Walid dalam menghadapi musuh yang lebih besar. Setelah pertempuran usai, harta rampasan perang dikirim kepada Abu Bakar, dan Khalid menunjuk Suwaid bin Muqarran sebagai pemungut jizyah sebelum melanjutkan ekspedisi ke pertempuran berikutnya.

2. Pertempuran Walaja

Berdasarkan kisah dalam buku Panglima Surga oleh Abu Fatah Grania, Pertempuran Walaja terjadi di wilayah Mesopotamia yang kini termasuk Irak. Pertempuran ini mempertemukan pasukan Muslim di bawah komando Khalid bin Walid melawan Kekaisaran Sasaniyah yang dipimpin oleh Andarzaghar.

Meski kalah jumlah hingga tiga banding satu, Khalid bin Walid menyusun strategi cerdas berupa pengepungan ganda yang terinspirasi dari taktik Hannibal Barca dalam Pertempuran Cannae. Ia menyiapkan dua unit kavaleri yang disembunyikan di balik bukit untuk menyerang di waktu yang tepat.

Saat pertempuran dimulai, pasukan infanteri Muslim menyerang lebih dulu dan sempat menekan musuh, bahkan Khalid berhasil menumbangkan jagoan Persia bernama Hazar Mard. Namun, serangan balasan dari Andarzaghar membuat posisi pasukan Muslim sempat terdesak dan berada dalam situasi kritis.

Di saat genting, Khalid memberi sinyal kepada pasukan kavaleri yang langsung menyerang dari dua sisi belakang pasukan Persia. Serangan mendadak ini membuat pasukan Andarzaghar kacau dan akhirnya kalah telak, sementara sang panglima tewas dalam pelarian di padang pasir.

3. Pengepungan Al-Hirah

Dikisahkan dalam buku Futuhul Buldan: Penaklukan Negeri-negeri dari Fathu Makkah Sampai Negeri Sind oleh Syaikh Al-Baladzuri, Pengepungan Al-Hirah terjadi pada Mei 633 M di wilayah Al-Hirah yang kini termasuk Irak. Peristiwa ini merupakan bagian dari ekspansi Kekhalifahan Rasyidin dalam menaklukkan wilayah Persia di bawah kepemimpinan Khalid bin Walid.

Kota Al-Hirah dikenal sebagai wilayah yang kaya dan strategis karena menjadi pusat pemerintahan Persia di kawasan Irak. Selain itu, kota ini juga dijaga oleh suku Arab Kristen dari Bani Lakhmid yang setia kepada Kekaisaran Sasaniyah.

Ketika pasukan Muslim tiba, pemimpin setempat memilih mundur ke pusat kekuasaan Persia di Ctesiphon. Hal ini membuat pertahanan kota melemah meskipun bentengnya tetap memberikan perlawanan melalui serangan panah dari dalam.

Pengepungan berlangsung relatif singkat hingga akhirnya penduduk Al-Hirah memilih menyerah kepada Khalid bin Walid. Mereka kemudian memberikan hadiah dan sepakat untuk membayar upeti sebagai bentuk perjanjian damai dengan pasukan Muslim.

Selain itu, penduduk Al-Hirah juga bersedia membantu dengan memberikan informasi terkait pergerakan Persia. Setelah keberhasilan ini, pasukan Khalid bin Walid melanjutkan ekspedisi militernya ke wilayah berikutnya untuk memperluas pengaruh kekuasaan Islam.




(hnh/erd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads