Sekitar 14 abad yang lalu tepatnya pada 633 Masehi, panglima tertinggi Islam, Khalid bin Walid, berduel dengan bangsawan sekaligus panglima bangsa Persia yang kejam. Panglima itu bernama Hurmuz atau Hormuz.
Kisah bermula dari perlakuan bangsa Persia terhadap penduduk Arab dan Hindia. Diceritakan dalam al-Bidayah wa Nihayah karya Ibnu Katsir terjemahan Muhammad Ahsan bin Usman, Hormuz selalu memerangi penduduk Arab di daratan dan memerangi penduduk Hindia di lautan. Khalid bin Walid lalu mengirim surat untuk Hormuz, mengatakan maksud kedatangannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hormuz lantas mengirim surat balasan dan bergegas mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya. Seluruh pasukan diikat dengan rantai panjang agar tak ada satu pun yang lari. Hormuz terkenal sangat kejam dan kufur. Meski begitu, dia dianggap bangsawan mulia di Kerajaan Persia.
Pada saat yang sama, Khalid bin Walid membawa 18.000 tentara muslim ke arah musuh. Jumlah ini tak sebanding dengan banyaknya tentara Hormuz.
Ketika dua pasukan saling berhadapan, Hormuz turun dari kuda mengajak duel satu lawan satu dengan Khalid bin Walid. Dua panglima besar pun bertarung sengit. Khalid bin Walid mencekik leher Hormuz. Hormuz meradang, tapi tidak bisa membunuh Khalid bin Walid.
Sementara mereka berduel, pasukan muslim unggul. Musuh kalah tercerai-berai, kaum muslim terus mengejar musuh yang berlarian hingga malam hari. Akhirnya, pasukan muslim berhasil menguasai semua bekal dan senjata musuh. Khalid bin Walid memerintahkan pasukan muslim pulang membawa harta rampasan perang yang mencapai sepenuh pikulan 1.000 unta.
Turut diceritakan dalam buku Khalid bin Walid Panglima Perang Termasyhur karya Indah Juli, Khalid bin Walid bertempur diringi doa hingga ia bisa mengungguli Hormuz. Khalid mengumandangkan takbir. Pasukan muslim yang mendengarnya langsung menyerang pasukan Persia. Hormuz pun tewas.
Pasukan muslim berhasil menghancurkan pasukan Persia hingga membawa kemenangan besar. Perang pasukan Khalid bin Walid melawan Hormuz ini dikenal dengan Perang Dzatus Salasil karena banyaknya tentara Hormuz yang terikat dengan rantai.
Ibnu Katsir menceritakan kisah ini dengan judul Penaklukan Ubullah (Selat Hindia) yang Masyhur dengan Sebutan Peperangan Dzatus Salasil. Ubullah terkenal dengan nama selat penduduk Sind dan Hindia. Selat ini menjadi pertahanan paling kuat bangsa Persia.
(kri/lus)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Geger Raja Charles III Disebut Memeluk Islam, Ini Kronologinya
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi