Kisah Pernikahan Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib

Kisah Pernikahan Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib

Tia Kamilla - detikHikmah
Rabu, 07 Jan 2026 05:00 WIB
Kisah Pernikahan Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
Ilustrasi menikah. Foto: Istock
Jakarta -

Kisah pernikahan Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib adalah cerita yang sangat menginspirasi dalam Islam. Pernikahan ini mengajarkan arti cinta, kesederhanaan, dan keikhlasan dalam membangun rumah tangga.

Pernikahan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra terjadi pada bulan Zulhijah tahun kedua Hijriah. Kisah cinta mereka terus dikenang hingga sekarang karena penuh keteladanan dan menginspirasi banyak orang.

Ali bin Abi Thalib dikenal sebagai salah satu sahabat Rasulullah SAW dan termasuk golongan "Assabiqunal Awwalun", yakni orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Walau digelar dengan sederhana, pernikahan putri Rasulullah SAW ini penuh keberkahan dan teladan. Lalu, bagaimana kisah pernikahan Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib? Simak ceritanya berikut ini.

Perasaan Terpendam Ali kepada Fatimah Az-Zahra

Mengutip buku Perempuan-Perempuan Surga karya Imron Mustofa, Fatimah Az-Zahra dikenal sebagai sosok yang sangat menjaga pandangan dan kehormatannya di hadapan laki-laki yang bukan mahram. Sejak kecil, Ali bin Abi Thalib sudah berada dalam asuhan Rasulullah SAW dan Siti Khadijah. Saat berusia sekitar enam tahun, Ali tinggal di rumah Rasulullah dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang seperti anak sendiri.

ADVERTISEMENT

Sejak masa itu, Ali sudah mengetahui betapa mulianya Fatimah. Ia sering memperhatikannya dari kejauhan dan diam-diam menyimpan rasa kagum. Meski begitu, Ali tetap menjaga hati dan pandangannya. Bahkan, Fatimah sama sekali tidak mengetahui bahwa Ali menyimpan perasaan yang begitu dalam kepadanya.

Berdasarkan buku Rumah Tangga Seindah Surga karya Ukasyah Habibu Ahmad, ketika Ali mulai dewasa, muncul niat di hatinya untuk menghadap Rasulullah SAW dan melamar Fatimah. Namun, niat itu belum berani ia sampaikan. Ali merasa ragu dan belum siap, karena ia menyadari dirinya hanyalah pemuda sederhana yang tidak memiliki banyak harta untuk diberikan.

Di saat Ali masih memendam niatnya, ia mendengar kabar bahwa Abu Bakar RA telah lebih dulu melamar Fatimah. Ali pun berusaha ikhlas jika cintanya harus berakhir. Namun, Allah berkehendak lain. Lamaran Abu Bakar ternyata ditolak secara halus oleh Rasulullah SAW.

Tak lama kemudian, Umar bin Khattab RA juga berniat melamar Fatimah. Ujian di hati Ali terasa semakin berat. Ia hanya bisa berserah diri dan bertawakal kepada Allah SWT. Perasaan itu kembali ia simpan rapi di dalam hati. Tanpa disangka, lamaran Umar bin Khattab RA pun ditolak dengan cara yang lembut oleh Rasulullah SAW.

Kemudian, datang teman-temannya dari kalangan Anshar, mereka berkata, "Mengapa engkau tak mencoba melamar Fatimah? Aku punya firasat bahwa engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi."

Ucapan itu membuat Ali semakin merenung. Ia sangat menyadari kondisi dirinya yang serba terbatas. Dari sisi ekonomi, ia tidak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan. Harta yang ia miliki hanyalah satu set baju besi serta sedikit persediaan tepung kasar untuk makan sehari-hari.

Meski demikian, Ali tidak sanggup meminta Fatimah Az-Zahra untuk menunggu sampai dirinya benar-benar siap. Ia pun memberanikan diri. Dengan penuh keyakinan dan keberanian, Ali memilih untuk menjemput cintanya dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.

Keberanian Ali Melamar Fatimah Putri Rasulullah

Ali pun menguatkan hati untuk menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan niatnya menikahi Fatimah Az-Zahra. Saat tiba di rumah Rasulullah SAW, Ali hanya duduk di samping beliau. Ia tertunduk diam cukup lama hingga Rasulullah SAW bertanya, "Wahai putra Abu Thalib, apa yang engkau inginkan?"

Ali sempat terdiam sejenak. Tubuhnya dipenuhi rasa gugup hingga keringat bercucuran. Dengan suara yang bergetar, ia pun berkata, "Ya Rasulullah, aku hendak meminang Fatimah."

Setelah mengucapkan niat itu, hati Ali terasa jauh lebih lega. Beban perasaan yang selama ini ia simpan akhirnya terlepas. Mendengar jawaban tersebut, Rasulullah SAW tidak merasa terkejut. Beliau telah mengetahui perasaan Ali terhadap putrinya.

Namun, sebagai seorang ayah yang bijaksana, Rasulullah SAW tidak langsung menerima lamaran itu. Beliau memilih untuk terlebih dahulu meminta pendapat Fatimah.

Rasulullah SAW pun meninggalkan Ali untuk menemui putrinya. Ketika Fatimah Az-Zahra ditanya mengenai kesediaannya menerima lamaran Ali, ia hanya terdiam. Rasulullah SAW memahami diamnya Fatimah sebagai tanda persetujuan. Beliau pun mengetahui bahwa di dalam hati Fatimah juga tersimpan rasa cinta kepada Ali.

Pernikahan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra

Setelah itu, Rasulullah SAW mendekati Ali dan menanyakan apakah ia memiliki sesuatu yang dapat dijadikan mahar. Ali merasa malu karena ia tidak mempunyai harta apa pun. Terlebih lagi, sejak kecil ia telah diasuh langsung oleh Rasulullah SAW, sehingga beliau sangat mengetahui keadaannya.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ummu Salamah RA. Saat itu, wajah Rasulullah SAW tampak berseri-seri. Dengan senyum di wajahnya, beliau bertanya kepada Ali, "Wahai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal maskawin?"

Ali pun menjawab dengan jujur, "Demi Allah," jawab Ali dengan terus terang, "Engkau sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak engkau ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang, dan seekor unta."

Rasulullah SAW lalu menanggapi dengan penuh kebijaksanaan, "Tentang pedangmu itu," kata Rasulullah menanggapi jawaban Ali, "engkau tetap memerlukannya untuk meneruskan perjuangan di jalan Allah SWT dan untamu itu engkau juga butuhkan untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu, aku hendak menikahkan engkau dengan maskawin sebuah baju besi saja. Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Wahai Ali, engkau wajib bergembira; sebab Allah sebenarnya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi."

Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Ali kemudian menjual baju besinya seharga 500 dirham. Uang tersebut diserahkan kepada Rasulullah. Selanjutnya, Nabi SAW membaginya menjadi tiga bagian. Satu bagian digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, satu bagian untuk membeli wewangian, dan satu bagian lagi diberikan kembali kepada Ali sebagai biaya jamuan bagi para tamu pernikahan.

Peristiwa ini menunjukkan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau tidak memberatkan Ali RA dengan mahar di luar kemampuannya. Fatimah Az-Zahra pun menerima keputusan ayahnya dengan penuh ketaatan dan kesiapan untuk menikah dengan Ali. Akhirnya, Ali menikah dengan Fatimah Az-Zahra, wanita yang telah lama ia kagumi sejak kecil.




(inf/inf)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads