Di satu sisi harta dapat menjadi ladang pahala, tetapi di sisi lain bisa menjerumuskan hati pemiliknya pada sifat kikir dan kufur. Kisah ini dialami oleh salah seorang sahabat di zaman Rasulullah SAW bernama Tsa'labah bin Hathib Al-Anshari.
Tsa'labah yang awalnya dikenal karena ketaatannya, justru berakhir tragis akibat harta dan sifat kikir yang tertanam dalam hatinya. Penasaran bagaimana kisahnya? Berikut kisah Tsa'labah yang diceritakan dalam buku Dahsyatnya Syukur oleh Prof Komaruddin Hidayat.
Masa Sulit dan Janji Tsa'labah
Tsa'labah adalah orang yang sangat miskin, hingga kain yang digunakan untuk salat pun harus bergantian dengan istrinya. Suatu hari Tsa'labah mengeluh kepada Rasulullah SAW minta didoakan menjadi orang kaya raya, agar dia bisa lebih tekun dalam beribadah kepada Allah SWT. Dia berjanji kepada Rasulullah SAW akan menggunakan kekayaannya untuk beribadah kepada Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah mengeluh dalam tiga kali kesempatan, akhirnya Rasulullah SAW berkenan untuk mendoakan Tsa'labah agar menjadi orang kaya raya. Rasulullah SAW memberikan seekor kambing jantan dan betina kepada Tsa'labah untuk diternak. Tsa'labah sangat tekun dalam beternak kambing. Perlahan kambing Tsa'labah terus bertambah banyak, bahkan hingga mencapai ribuan ekor. Dia telah berubah menjadi orang yang sangat kaya raya.
Ujian Kekayaan dan Perubahan Sikap Tsa'labah
Di fase kekayaannya itu, Tsa'labah lupa dengan janjinya kepada Rasulullah SAW. Dia tidak mau membayar zakat serta mengeluarkan infak dan bersedekah di jalan Allah SWT.
Sifat bakhil (pelit) telah tertanam dalam hati Tsa'labah. Dia mengira dengan mengeluarkan zakat dan berinfak di jalan Allah SWT akan mengurangi hartanya yang telah didapat dengan susah payah.
Berulang kali Rasulullah SAW mengutus orang untuk mengambil zakat dari Tsa'labah, tetapi dia selalu menghindar. Akibat sifat bakhilnya itu, bisnis Tsa'labah perlahan mengalami kemunduran hingga akhirnya hancur.
Kehancuran Harta dan Peringatan dalam Al-Qur'an
Kisah ini pun diabadikan dalam Al-Qur'an surah At-Taubah ayat 75-76 sebagai peringatan bagi umat Islam tentang bahaya mengingkari janji kepada Allah dan sifat kikir setelah diberi kenikmatan.
وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
Artinya: "Di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, 'Sesungguhnya jika Dia memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan benar-benar bersedekah dan niscaya kami benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.' Akan tetapi, ketika Allah menganugerahkan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling seraya menjadi penentang (kebenaran)."
Baca juga: Kisah Ahli Ibadah yang Rela Masuk Neraka |
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Kecam Israel Atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, MUI Minta RI Ambil Langkah Diplomatik
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Desak Pemerintah Lakukan Investigasi