Kisah Ashim bin Tsabit muncul sebagai teladan keberanian dan pengorbanan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Beliau, yang dikenal sebagai salah seorang Anshar dari suku Aus, termasuk dalam generasi pertama Muslim yang membantu Nabi setelah hijrah ke Madinah, menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mempertahankan ajaran Islam.
Ashim bin Tsabit adalah bagian dari generasi awal Madinah yang memeluk Islam dengan tulus, menjadi pilar pendukung bagi Rasulullah di masa-masa sulit. Kisah heroiknya, termasuk perlindungan Allah atas jenazahnya dari tangan musuh, terus menginspirasi umat Islam hingga hari ini.
Kisah Ashim bin Tsabit yang Jasadnya Dijaga Allah
Diceritakan dalam buku Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi oleh Muhammad Raji Hassan, tidak lama setelah Perang Uhud, Rasulullah SAW mengutus enam sahabat pilihan untuk melaksanakan tugas penting mengajarkan Islam. Beliau mengangkat Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin rombongan tersebut, dan mereka berangkat dengan penuh semangat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah perjalanan, tidak jauh dari Makkah, sekelompok orang dari suku Hudzail melihat kedatangan mereka. Mereka segera mengepung rombongan dengan ketat, memaksa para sahabat bersiap menghadapi serangan.
Orang-orang Hudzail berusaha membujuk dengan berkata, "Kalian tidak akan berdaya melawan kami. Demi Allah, kami tidak akan berlaku jahat jika kalian menyerah dan memercayai sumpah kami."
Para sahabat saling pandang seolah bermusyawarah tentang sikap yang harus diambil. Ashim bin Tsabit kemudian berkata kepada kawannya, "Aku tidak dapat memegang janji orang-orang musyrik itu."
Ashim teringat sumpah Sulafah binti Sa'ad yang ingin menangkapnya untuk balas dendam. Ia menghunus pedang sambil berdoa, "Wahai Allah, aku memelihara agama-Mu dan bertempur karenanya, maka lindungilah daging dan tulangku, jangan biarkan seorang musuh pun menjamah."
Ashim dan sebagian rekannya menyerang balik dengan gagah berani. Mereka bertempur mati-matian hingga akhirnya gugur satu per satu sebagai syuhada.
Tiga sahabat lainnya memilih menyerah sebagai tawanan atas janji keselamatan. Namun, kaum Hudzail mengkhianati sumpah mereka dan tidak memenuhi janji.
Awalnya, kaum Hudzail tidak menyadari bahwa salah satu korban adalah Ashim bin Tsabit. Setelah mengetahui identitasnya, mereka girang karena membayangkan hadiah besar dari Sulafah.
Berita kematian Ashim segera sampai ke telinga kaum Quraisy di Makkah. Para pemimpin mereka mengirim utusan dengan uang banyak untuk mendapatkan kepala Ashim guna memenuhi nadzar Sulafah.
Kaum Hudzail berusaha mendekati jenazah Ashim untuk memenggal kepalanya. Tiba-tiba, gerombolan lebah menyerang dari segala arah, menggigit dan menghalangi mereka mendekat.
Mereka mencoba berulang kali tapi selalu gagal karena serangan lebah yang ganas. Akhirnya, mereka menyerah dan berkata, "Biarkanlah dahulu sampai malam, biasanya lebah akan pergi saat gelap."
Malam tiba, tapi tiba-tiba hujan lebat turun dengan deras disertai petir. Banjir besar datang menghanyutkan segala yang ada di lembah tersebut.
Pagi harinya, kaum Hudzail mencari jenazah Ashim di segala penjuru tapi sia-sia belaka. Banjir telah menghanyutkan tubuh suci itu tanpa bekas, sesuai doa Ashim yang dikabulkan Allah SWT.
Ketika mendengar berita tentang perlindungan ilahi terhadap jenazah Ashim bin Tsabit, Umar bin al-Khattab RA berkata dengan penuh kekaguman. "Sungguh mengherankan bagaimana Allah menjaga hamba-Nya yang beriman; Ashim pernah bernazar untuk tidak menyentuh dan disentuh oleh orang musyrik seumur hidupnya, maka Allah tetap melindunginya setelah kematian sebagaimana saat ia masih hidup."
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Mengenang Thessaloniki, Kota Muslim di Yunani yang Hilang
MUI: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Keterlibatan RI di Board of Peace