Apa Itu Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj Nabi Muhammad SAW?

Apa Itu Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj Nabi Muhammad SAW?

Tia Kamilla - detikHikmah
Sabtu, 03 Jan 2026 12:00 WIB
Apa Itu Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj Nabi Muhammad SAW?
Ilustrasi Isra Miraj. Foto: Freepik
Jakarta -

Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu kejadian paling agung dalam sejarah Islam. Pada malam penuh kemuliaan itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan luar biasa yang tidak hanya menunjukkan kebesaran Allah SWT, tetapi juga mengandung banyak pelajaran penting bagi umat Islam.

Dalam rangkaian peristiwa Isra Miraj tersebut, terdapat satu tempat yang sangat istimewa dan disebut sebagai batas tertinggi yang dapat dicapai makhluk ciptaan Allah SWT, yaitu Sidratul Muntaha. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW? Ini dia penjelasannya.

Apa Itu Sidratul Muntaha dalam Isra Miraj?

Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam 27 Rajab. Menurut pendapat yang paling masyhur dan ditegaskan oleh Ibnu Hazm, peristiwa ini berlangsung setelah Nabi Muhammad SAW kembali dari Thaif, pada masa ketika beliau menghadapi banyak ujian dalam dakwahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perjalanan Rasulullah SAW diawali dari Masjidil Haram di Makkah. Dari tempat suci tersebut, beliau kemudian melakukan perjalanan dengan mengendarai Buraq, yaitu makhluk berwarna putih yang ukurannya lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari bagal. Dengan izin Allah SWT, Buraq membawa Nabi Muhammad SAW menuju Baitul Maqdis di Palestina.

Dalam peristiwa Isra Miraj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Setelah itu, perjalanan beliau dilanjutkan ke langit hingga mencapai Sidratul Muntaha yang berada di langit ketujuh. Sidratul Muntaha digambarkan sebagai tempat yang sangat agung dan mulia.

ADVERTISEMENT

Sidratul Muntaha disebut sebagai sebuah pohon besar yang daunnya selebar telinga gajah dan buahnya sebesar kendi. Ketika Allah SWT menetapkan perintah-Nya, pohon tersebut langsung dipenuhi buah-buahan. Keindahannya begitu luar biasa hingga tidak ada satu pun makhluk yang mampu menggambarkannya secara sempurna.

Besarnya pohon Sidratul Muntaha juga digambarkan dengan perumpamaan bahwa jika seorang penunggang kuda berlari dengan sangat cepat di bawah naungan pohon tersebut selama seratus tahun, ia tidak akan mampu mencapai ujungnya. Sidratul Muntaha merupakan tempat tertinggi di alam semesta sebelum 'Arsy Allah SWT.

Keberadaan Nabi Muhammad SAW di Sidratul Muntaha disebutkan dalam Al-Quran surah An-Najm ayat 16,

اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ

Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.

Artinya: "(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya."

Mengutip buku Tafsir Al-Qur'anul Majid An-Nur Jilid 4 karya Prof. Dr. Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, kata "sidrah" adalah nama sebatang pohon yang tumbuh di atas langit lapis ketujuh. Pohon ini menjadi batas terakhir yang dapat dicapai para malaikat. Dalam hadits dijelaskan bahwa buah pohon tersebut sebesar kendi Hajar, daunnya menyerupai telinga gajah, dan lingkar batangnya tidak dapat ditempuh meskipun berjalan selama 70 tahun.

Secara bahasa, "sidrah" berarti pohon bidara, sedangkan "muntaha" berarti batas akhir. Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa makna al-Muntaha merujuk kepada Allah SWT. Dengan demikian, Sidratul Muntaha dimaknai sebagai pohon sidrah ciptaan Allah SWT yang menjadi tempat kembalinya segala urusan.

Menurut mayoritas ulama, Sidratul Muntaha dinamakan demikian karena menjadi batas tertinggi yang dapat dijangkau oleh pengetahuan seluruh makhluk. Setelah batas tersebut, hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui apa yang ada di baliknya. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas.

Perjalanan Isra Miraj Menjadi Mukjizat Rasulullah SAW

Mengutip buku Kisah Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW karya Syofyan Hadi, peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu kejadian paling penting dan mulia dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar kisah, melainkan sebuah kejadian nyata yang benar-benar dialami oleh Rasulullah SAW atas kehendak Allah SWT.

Perjalanan Isra Miraj menempuh jarak yang sangat jauh dan berlangsung di luar batas kemampuan akal manusia. Karena itulah, peristiwa ini termasuk salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW. Mukjizat tersebut menjadi bukti kekuasaan Allah SWT sekaligus kebenaran kenabian Rasulullah SAW.

Kisah Isra Miraj dijelaskan langsung oleh Allah SWT dalam Al-Quran. Salah satu ayat yang menerangkan peristiwa Isra terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 1,

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Subḥānal-lażī asrā bi'abdihī lailam minal-masjidil ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣal-lażī bāraknā ḥaulahū linuriyahū min āyātinā, innahū huwas-samī'ul-baṣīr(u).

Artinya: "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Sementara itu, peristiwa Miraj atau naiknya Nabi Muhammad SAW ke langit dijelaskan Allah SWT dalam Surah An-Najm ayat 13 hingga 18,

-Ayat 13:

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ

Wa laqad ra'āhu nazlatan ukhrā.

Artinya: "Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain,"

-Ayat 14

عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى

'Inda sidratil-muntahā.
Artinya: "(yaitu ketika) di Sidratulmuntaha."

-Ayat 15

عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ

'Indahā jannatul-ma'wā.

Artinya: "Di dekatnya ada surga tempat tinggal."

-Ayat 16

اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ

Iż yagsyas-sidrata mā yagsyā.

Artinya: "(Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya."

-Ayat 17

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى

Mā zāgal-baṣaru wa mā ṭagā.

Artinya: "Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya)."

-Ayat 18

لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

Laqad ra'ā min āyāti rabbihil-kubrā.

Artinya: "Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar."

Penyebutan peristiwa Isra dan Miraj secara terpisah dalam Al-Quran memberikan isyarat bahwa kedua perjalanan tersebut memiliki tujuan yang berbeda, meskipun hakikatnya sama. Isra merupakan perjalanan Rasulullah SAW di bumi, sedangkan Miraj adalah perjalanan beliau menembus langit. Keduanya bertujuan untuk memperlihatkan sebagian tanda kebesaran Allah SWT, baik yang ada di bumi maupun di langit.

Perjalanan Isra dan Miraj juga menjadi momen pertemuan Rasulullah SAW dengan Allah SWT. Peristiwa ini sekaligus menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai hamba pilihan dan kekasih Allah SWT.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads