Kementerian Agama resmi meluncurkan lima program prioritas untuk memperkuat ekosistem pendidikan pesantren dan memperluas peran santri dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Pengumuman monumental ini disampaikan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar saat memimpin Upacara Peringatan Hari Santri 2026 di halaman kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Peringatan Hari Santri yang mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas" ini sekaligus menandai momentum penting pasca-terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pesantren). Regulasi tersebut menjadi payung hukum atas bentuk rekognisi, afirmasi, dan pelembagaan komitmen negara terhadap kemandirian serta tumbuh kembang santri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam amanatnya, Menag mengenang kembali peristiwa 22 Oktober 1945 saat Hadratusy Syeikh KH. Hasyim Asy'ari mengumandangkan Resolusi Jihad yang mewajibkan umat Islam membela kedaulatan NKRI.
"Sejarah mencatat dengan tinta emas bahwa ketika kedaulatan bangsa terancam, seruan perlawanan sangat dahsyat lahir dari dinding-dinding pesantren, digelorakan oleh kaum sarungan, dan dihidupi oleh jiwa para santri," ujar Menag.
Untuk melanjutkan semangat perjuangan tersebut di era modern, Kemenag merancang lima program strategis sebagai berikut:
SAFESANTRI
Mengembalikan dan mengawal citra pesantren sebagai lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah. Kemenag meluncurkan Satuan Tugas (Satgas) SAFESANTRI yang menyediakan mekanisme pencegahan, pengaduan, pendampingan, hingga respons cepat terhadap tindak kekerasan. Tokoh pesantren seperti Gus Kautsar turut bergabung untuk memperkuat kolaborasi ini.
Penguatan Rekognisi Ijazah
Menjamin pengakuan kesetaraan atas pendidikan pesantren guna membuka akses lulusan santri ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta memperluas peluang kerja dan karier profesional tanpa hambatan administratif.
Pesantren Adaptif dan Mandiri
Mendorong penguasaan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) dan STEM (Science, Technology, Engineering & Mathematics), modernisasi tata kelola, serta penguatan kemandirian ekonomi pesantren agar mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Santri 5.0
Menyiapkan generasi santri yang tidak hanya menguasai khazanah keilmuan Islam, tetapi juga dibekali literasi digital, keterampilan modern, dan kemampuan beradaptasi tinggi menghadapi tantangan global.
Dakwah Digital
Melatih para dai dan daiyah pesantren agar mahir memanfaatkan media sosial, algoritma, AI, dan produksi konten kreatif. Langkah ini bertujuan membawa narasi dakwah yang santun dan moderat agar lebih dekat dengan generasi muda tanpa mengabaikan sanad keilmuan.
Melalui komitmen dan pembentukan Ditjen Pesantren ini, Kemenag optimistis santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga aktor utama pembangunan bangsa.
