Bandara Saudi Diserang Houthi, MUI Minta Pemerintah Lindungi WNI dan Jemaah Umrah

Bandara Saudi Diserang Houthi, MUI Minta Pemerintah Lindungi WNI dan Jemaah Umrah

Hanif Hawari - detikHikmah
Selasa, 13 Okt 2026 12:30 WIB
Gedung MUI
Gedung MUI (Foto: Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk segera mengambil langkah konkret dan antisipatif guna menjamin keselamatan Warga Negara Indonesia (WNI) di Arab Saudi. Desakan ini menyusul eskalasi konflik yang kian memanas pascaserangan kelompok pemberontak Houthi Yaman ke fasilitas penerbangan sipil di Arab Saudi.

Wakil Ketua Umum MUI, KH M Cholil Nafis, menegaskan bahwa keselamatan warga negara, mulai dari jemaah umrah, Pekerja Migran Indonesia (PMI), hingga ekspatriat yang menetap di sana harus dijadikan prioritas tertinggi oleh pemerintah saat ini.

"Kepada Pemerintah Republik Indonesia, kami berharap agar terus memantau perkembangan situasi keamanan, khususnya yang berkaitan dengan jalur penerbangan menuju dan dari Arab Saudi. Langkah antisipatif perlu dilakukan untuk menjamin keselamatan warga negara Indonesia," kata Kiai Cholil Nafis melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @cholilnafis, dikutip dari MUI, Selasa (13/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengasuh Pondok Pesantren Cendekia Amanah tersebut menyampaikan rasa duka cita mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam musibah ini. Ia mengecam keras aksi serangan militer yang membabi buta menyasar fasilitas publik dan mengancam nyawa warga sipil.

ADVERTISEMENT

"Islam mengajarkan penghormatan terhadap jiwa manusia dan melarang segala bentuk kekerasan yang menimbulkan korban sipil. Karena itu, kami mengutuk setiap tindakan yang mengancam keselamatan masyarakat," tegas Kiai Cholil.

Lebih lanjut, MUI meminta seluruh kubu yang bertikai untuk menahan diri dan menghentikan aksi saling serang. Kiai Cholil mendorong dialog diplomasi demi mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas di Timur Tengah.

"Konflik yang terus meningkat hanya akan memperbesar penderitaan masyarakat, mengganggu aktivitas ibadah, ekonomi dan kemanusiaan, serta berpotensi memperluas ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah," tuturnya.

Sebelumnya, Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi (General Authority of Civil Aviation/GACA) mengonfirmasi adanya serangan rudal yang menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Ahad (11/10/2026).

Insiden tragis di Bandara Riyadh tersebut mengakibatkan seorang warga negara Pakistan tewas di tempat, sementara 11 orang lainnya mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke fasilitas medis terdekat.

Tidak berhenti di ibu kota, serangan serupa juga menyasar Bandara Internasional King Fahd di Dammam, berjarak sekitar 411 kilometer dari Riyadh pada hari yang sama. Saat ini, otoritas penerbangan Saudi masih terus menginventarisasi kerusakan serta melakukan inspeksi keselamatan ketat sebelum membuka kembali operasional penuh bandara.



(hnh/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads