Mantan Ketua PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar gagal berangkat umrah meski visa untuk perjalanan ke Arab Saudi telah terbit. Ia mengaku belum mendapat penjelasan resmi mengenai alasan otoritas Saudi memasukkan namanya ke dalam daftar hitam atau blacklist.
Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad, Malang, itu berharap pemerintah Indonesia turun tangan untuk mengusut persoalan tersebut. Ia meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), hingga aparat terkait menelusuri penyebab pencekalan tersebut.
"Kita mohon pemerintah dalam hal ini Kemenlu (Kementerian Luar Negeri), Kemenhaj (Kementrian Haji dan Umrah), juga mungkin TNI-Polri, intelijen untuk tanya ke Garuda (pihak maskapai) atau Saudi. Kalau misal itu request (blacklist) itu permintaannya siapa," kata Kiai Marzuki dikutip dari detikJatim, Selasa (13/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kiai Marzuki mengatakan, hingga kini dirinya belum memperoleh penjelasan resmi mengenai penyebab namanya masuk daftar hitam otoritas Arab Saudi. Padahal, visa untuk keberangkatannya telah terbit.
"Belum (ada penjelasan resmi kenapa kena blacklist). Nah itu yang membuat orang jadinya berspekulasi, apa karena punya masalah keimigrasian? Harusnya sejak kemarin Arab Saudi punya data soal itu dan tidak perlu keluar Visa, tapi kalau nyatanya visa (saya) keluar ya itu artinya tidak ada masalah keimigrasian," jelasnya.
Menurut Kiai Marzuki, ketika Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Riyadh meminta penjelasan kepada pihak terkait, mereka masih membutuhkan waktu beberapa hari untuk menelusuri persoalan itu.
Situasi tersebut, menurutnya, turut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan adanya permintaan dari pihak tertentu agar dirinya masuk daftar hitam.
"Nah lalu orang jadi berspekulasi lagi mungkin ada request, kalau sifatnya mendadak gini tanpa ada request sepertinya tidak mungkin. Kemudian, andai memang benar-benar ada masalah, ketika KJRI Ryad tanya ke PSS, PSS masih minta waktu beberapa hari untuk mencari, ini menjadi indikator muncul spekulasi ada permintaan (agar di-blacklist)," sambungnya.
Kiai Marzuki juga menanggapi spekulasi yang mengaitkan persoalan tersebut dengan administrasi maupun tanggungan bisnis perjalanan haji dan umrah.
Ia dengan tegas membantah memiliki atau mengelola biro perjalanan umrah. Menurutnya, selama ini ia hanya menggunakan jasa travel untuk keperluan perjalanan ibadah.
"Tentang pribadi saya sendiri, saya enggak pernah punya travel. Sehingga andai diduga punya travel yang belum memenuhi kewajiban kepada negara atau penguasa Saudi, kami sama sekali enggak terkait," terangnya.
Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan perjalanan, mulai dari tiket, akomodasi, hingga hotel di Arab Saudi, diurus oleh penyedia jasa travel yang digunakannya. Karena itu, ia membantah dugaan bahwa dirinya memiliki tanggungan bisnis atau kewajiban pembayaran hotel di Arab Saudi.
Selain menepis dugaan terkait bisnis travel, Kiai Marzuki juga membantah pernah melakukan pelanggaran keimigrasian selama berada di luar negeri.
"Kalau dianggap pernah melanggar keimigrasian Saudi, juga enggak pernah, kami tidak pernah jadi TKI, tidak pernah juga umrah sampai overstay," tegasnya.
