Texas Sahkan Kurikulum Baru, Islam Dilabeli 'Brutal' dan 'Radikal'

Texas Sahkan Kurikulum Baru, Islam Dilabeli 'Brutal' dan 'Radikal'

Hanif Hawari - detikHikmah
Minggu, 13 Sep 2026 14:12 WIB
Dunia Hari Ini: Mahasiswa Yahudi dan Muslim Kampus Amerika Menjadi Sasaran Kebencian
Mahasiswa Yahudi dan Muslim Kampus Amerika Menjadi Sasaran Kebencian (Foto: ABC Australia)
Jakarta -

Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas (Texas State Board of Education) resmi mengesahkan revisi kurikulum ilmu pengetahuan sosial (IPS) baru untuk tingkat sekolah menengah. Kebijakan yang didorong oleh mayoritas kubu Partai Republik ini memicu kontroversi hebat lantaran menginstruksikan pengajaran sejarah Islam dengan narasi "brutal" dan "radikal", sekaligus menghapus materi kontribusi peradaban Islam seperti aljabar dan astronomi.

Dilansir dari Middle East Eye, US News, dan AP News, penetapan kurikulum ini diambil lewat pemungutan suara dengan hasil akhir 8-4 pada Jumat waktu setempat. Keputusan ini ketok palu setelah dewan melewati perdebatan sengit selama berhari-hari serta mendengarkan kesaksian dari ratusan warga, guru, hingga kalangan pelajar.

Kurikulum anyar ini akan berdampak langsung pada sekitar lima juta siswa sekolah publik di Texas dan mulai diterapkan secara bertahap pada tahun ajaran 2030-2031.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam materi baru tersebut, kampanye militer Islam awal diwajibkan untuk dibingkai lewat narasi "brutal terhadap suku-suku Yahudi dan Kristen, normalisasi perbudakan, serta pengambilan tawanan perempuan."

Sebaliknya, istilah "brutal" tidak digunakan untuk menggambarkan perang-perang yang dilancarkan oleh kelompok Kristen. Selain itu, peristiwa serangan 11 September 2001 (9/11) diajarkan sebagai bentuk dorongan ideologi "Islam radikal", ketimbang fokus spesifik pada kelompok teroris al-Qaeda atau Osama bin Laden.

ADVERTISEMENT

Keputusan dewan untuk tetap memasukkan kata "brutal" dan membingkai Islam secara bias mendapat kritikan tajam, bahkan dari para ahli yang ditunjuk oleh dewan itu sendiri. Setidaknya tiga pakar yang ditunjuk oleh dewan tersebut juga memperingatkan agar tidak menggunakan penggambaran itu.

Koordinator Kurikulum Studi Sosial Prosper ISD, Andrea Hutchison, memperingatkan bahwa penggambaran tersebut tidak lolos uji penelaahan sejarah yang ketat.

Peringatan senada juga disampaikan profesor filsafat Universitas Texas (UT-Austin), Robert Koons, "Saya memperingatkan kita agar tidak memasukkan hal-hal yang tidak didasarkan pada sumber sekuler yang mapan," tegasnya saat sidang deliberasi.

Kendati demikian, mayoritas anggota dewan dari Partai Republik menolak usulan dari rekan mereka, Will Hickman, yang sempat menyarankan penghapusan kata "brutal". Dewan juga memilih tidak menghidupkan kembali materi pengajaran tentang kontribusi historis ilmuwan Muslim di bidang aljabar dan astronomi yang sebelumnya telah dihapus.

Suara Hati Pelajar Muslim dan Kecaman Kelompok HAM

Pengesahan ini menyisakan luka mendalam bagi kalangan siswa Muslim di Texas yang sempat memberikan kesaksian di hadapan dewan.

"Saya merasa diserang, seolah-olah agama saya tidak termasuk di sini. Saya seharusnya tidak harus membela agama saya di tengah kelas sejarah hanya karena satu kalimat yang ditulis seseorang di dewan ini," ujar Habiba Quresh (15), seorang pelajar Muslim, seperti dikutip dari AP News.

Reaksi keras juga dilayangkan Dewan Hubungan Islam-Amerika (Council on American-Islamic Relations/CAIR). Lewat perwakilannya di Texas, CAIR menyebut dewan telah merusak fungsi ruang kelas.

"Dewan telah mengubah ruang kelas kami menjadi tempat di mana prasangka diajarkan sebagai fakta, dan seluruh komunitas ditulis ulang dari sejarah mereka sendiri," tegas CAIR dalam pernyataan resminya di platform X.

Anggota parlemen Muslim di gedung negara bagian Texas, Salman Bhojani, turut mengecam revisi ini. "Sejarah selektif bukanlah pendidikan. Siswa Texas berhak mendapatkan sejarah yang akurat, lengkap, dan adil," tulis Bhojani.

Selain menyasar narasi Islam, kurikulum baru ini menggeser fokus pengajaran dengan mewajibkan pembacaan Alkitab, menyoroti atribut positif Kekristenan, serta menghubungkan prinsip-prinsip Alkitab dengan dokumen bersejarah seperti Deklarasi Kemerdekaan dan pidato 'I Have a Dream' milik Martin Luther King Jr.

Namun, sejumlah pengamat dan anggota dewan dari Partai Demokrat menyoroti bahwa materi baru ini terkesan mengabaikan fakta sejarah bagaimana Alkitab di masa lalu sempat digunakan oleh sebagian warga kulit putih Amerika untuk membenarkan perbudakan warga kulit hitam.

"Perbudakan sudah ada selama ribuan tahun sebelum Islam. Tidak adil untuk melabeli perbudakan sebagai identik dengan Islam tanpa membahas peran Kristen dalam perdagangan budak ke Amerika," cetus Sarah (11), seorang siswa yang turut bersaksi, dilansir US News.

Anggota dewan dari San Antonio, Marisa B. Pérez-Díaz (Demokrat), juga menyayangkan bahwa perbudakan di AS kini hanya digambarkan sebagai institusi umum yang "ada di banyak masyarakat sepanjang sejarah", tanpa menekankan sifat kekejamannya yang berbasis ras di Amerika.

Pembelaan Partai Republik dan Rekam Jejak Gubernur Abbott

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Ketua Dewan Pendidikan Negara Bagian Texas dari Partai Republik, Aaron Kinsey, membantah tuduhan bahwa dewan bersikap diskriminatif.

"Ada banyak sensasionalisasi di luar sana untuk membuat topik ini tampak lebih memecah belah. Kami bekerja secara demokratis atas nama konstituen. Saya pikir kami melakukan pekerjaan yang luar biasa secara keseluruhan," klaim Kinsey, dilansir AP News.

Di sisi lain, Senator Republik Ted Cruz menyatakan dukungannya di X dengan menyebut bahwa "siswa Texas berhak mengetahui kebenaran tentang Islam."

Atmosfer anti-Islam di Texas sendiri dinilai tak lepas dari rekam jejak Gubernur Texas dari Partai Republik, Greg Abbott. Bulan lalu, Bandara Internasional Dallas-Fort Worth (DFW) membatalkan proyek fasilitas wudhu setelah Abbott mengancam akan menahan hibah negara bagian.

Tahun lalu, Abbott juga mendorong penyelidikan terhadap proyek pembangunan perumahan Muslim The Meadow di luar Dallas akibat klaim menyesatkan soal "Kota Syariah", meski akhirnya pengadilan memenangkan pihak pengembang. Abbott bahkan menerbitkan proklamasi yang melabeli organisasi CAIR dan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi teroris asing di tingkat negara bagian.

Proses perombakan kurikulum IPS di Texas ini telah berlangsung bertahun-tahun. Dengan disahkannya aturan baru ini, para pendidik mengkhawatirkan hilangnya mata pelajaran Budaya Dunia kelas enam akan semakin menyempitkan wawasan global siswa sekolah di Texas.



(hnh/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads