Pengusaha sound horeg Setyo Budi Mularso akhirnya meminta maaf setelah menyebut Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur dengan kata 'goblok'. Ia pun mendatangi Kantor MUI Jatim pada Sabtu (12/9/2026).
Di hadapan pengurus MUI Jatim, pengusaha asal Karanganyar, Jawa Tengah ini mengakui kekhilafannya. Ia pun menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya.
"Saya selaku pemilik Aeromax memohon maaf yang sebesar-besarnya dan setulusnya kepada MUI Provinsi Jawa Timur pada khususnya dan para ulama seluruh Indonesia pada umumnya atas kecerobohan dan kekhilafan saya dalam berbicara dan mengucapkan kalimat yang kurang pantas pada MUI Jawa Timur," kata Setyo Budi, dikutip dari video yang diunggah oleh MUI Jatim, Minggu (13/9/2026.)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setyo Budi menegaskan akan berkomitmen untuk mematuhi fatwa MUI Jatim soal fatwa haram sound horeg. Serta berjanji akan memberikan edukasi kepada rekan-rekan sesama pengusaha sound horeg.
"Saya berkomitmen untuk memperbaiki diri, tidak akan mengulangi lagi, serta berkomitmen ikut serta memberikan edukasi teman-teman berkaitan dengan sound horeg. Baik terkait suara, dancer yang seronok, mengganggu kenyamanan, menjual atau mengedarkan minuman keras, dan mematuhi fatwa MUI Jawa Timur," tambahnya.
MUI Jatim Sambut Hangat Permohonan Maaf Bos Sound Horeg
Kedatangan Setyo diterima langsung oleh jajaran pimpinan MUI Jatim, di antaranya Sekretaris Komisi Fatwa Dr. KH. Nur Fauzi Palestin, Ketua Komisi Hukum dan HAM Dr. H. Andriyanto, serta Ketua Bidang Advokasi H. Ainul Yaqin.
MUI Jatim mengapresiasi langkah tabayyun yang ditempuh Setyo. Kiai Nur Fauzi menyampaikan bahwa Islam selalu mengajarkan umatnya untuk saling memaafkan.
"MUI senantiasa terbuka menerima siapa saja yang berniat baik untuk melakukan tabayyun. Kami mengapresiasi langkah Bapak Setyo Budi Mularso yang telah datang langsung untuk mengklarifikasi dan meminta maaf," ujar Kiai Nur Fauzi, dikutip dari laman MUI.
Sementara itu, Ketua Komisi Hukum dan HAM MUI Jatim, Andriyanto, menegaskan bahwa pihaknya selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan kepatuhan hukum demi menjaga kondusivitas masyarakat.
Polemik ini bermula saat Setyo hadir dalam program acara live salah satu stasiun televisi swasta nasional pada Selasa (8/9/2026) malam. Saat itu, ia secara spontan menyebut MUI Jatim "goblok" di hadapan Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim, KH Ma'ruf Khozin, lantaran tidak terima dengan dikeluarkannya fatwa haram sound horeg.
Sebelum momen tabayyun ini terjadi, Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim KH Ma'ruf Khozin sempat memberikan tanggapan santai terkait umpatan tersebut. Kiai Ma'ruf mengaku tidak menyimpan dendam dan menganalogikan posisinya seperti seorang dokter.
"Nggak ada, biasa saja. Bagi kami, kalau dikatain seperti itu ya kami memang selalu harus belajar setiap hari," ungkap Kiai Ma'ruf, kepada detikJatim, Kamis (10/9/2026).
"Ketika menghadapi hal yang semacam itu, sama seperti dengan dokter. Ada dokter jantung menasehati orang jangan merokok. Nah, orang yang merokok itu dia menikmati rokoknya, dia akan mencaci maki terhadap dokter. Tapi dokternya nggak boleh marah. Suatu saat bertemu dengan orang tadi, tetap dokternya harus mengobati," jelas Kiai Ma'ruf.
'Nah, saya berada di situasi seperti itu. Saya berada di situasi nggak boleh membalas kemarahan, tidak boleh membalas caciannya. Cuma kita perlu memberitahu, sama dengan dokter kalau merokok, bahayanya ini. Saya juga begitu, ini secara agama, begini, begini, begini," tambahnya.
Mengenai anggapan bahwa MUI Jatim kurang persuasif dan tidak menggunakan pendekatan dakwah ala Sunan Kalijaga, Kiai Ma'ruf menjelaskan bahwa kondisi sound horeg di Jawa Timur sudah sangat masif. Jadi tidak mempan kalau hanya dengan cara persuasif biasa, harus pakai fiqhul ahkam (fikih hukum/fatwa) sebagai dosis obat yang lebih tinggi.
Meski memaafkan secara pribadi, Kiai Ma'ruf menegaskan bahwa ucapan tersebut kurang tepat jika ditujukan kepada institusi MUI Jatim. Sebab jajaran pengurus di dalamnya diisi oleh ulama yang telah melewati proses screening ketat.
Pertemuan di Kantor MUI Jatim ini pun diakhiri secara kondusif dengan diterimanya permohonan maaf Setyo Budi oleh seluruh jajaran ulama.
