Kemarau dan Abu Vulkanik, MUI Depok Terbitkan Imbauan Salat Istisqa

Kemarau dan Abu Vulkanik, MUI Depok Terbitkan Imbauan Salat Istisqa

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Kamis, 10 Sep 2026 14:00 WIB
Ilustrasi gedung MUI
Foto: MUI
Jakarta -

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok mengimbau muslim untuk salat istisqa sebagai ikhtiar agar Allah SWT menurunkan hujan. Sebagaimana diketahui, cuaca panas dan musim kemarau sedang berlangsung dan hujan jarang turun.

Imbauan MUI itu disampaikan lewat surat resmi MUI Kota Depok tertanggal 8 September 2026 M/26 Rabiulawal 1448 H. Surat bernomor A-293/DP-K/IX/2026 dan B-294/DP-K/IX/2026 itu diedarkan kepada Ketua MUI di 11 kecamatan untuk ditindaklanjuti bersama pengurus masjid dan masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Andre AS, anggota Komisi Infokomdigi MUI Kota Depok yang juga menjabat sebagai Dewan Pakar DMI Kota Depok, salat istisqa jadi bentuk ikhtiar sekaligus momen meningkatkan ketakwaan dan introspeksi diri.

"Salat istisqa ini merupakan bentuk ikhtiar kita sebagai umat Islam untuk memohon kepada Allah SWT agar segera diturunkan hujan," katanya, dilansir dari situs berita resmi Pemerintah Kota Depok, Kamis (10/9/2026).

ADVERTISEMENT

Dia mengajak agar masyarakat memperbanyak istighfar, bertobat, bersedekah, berdamai dengan sesama serta meninggalkan bentuk kezaliman dan memperbanyak amal saleh.

MUI Kota Depok juga berkoordinasi dengan Wali Kota Depok, Supian Supri untuk mengimbau para camat menggerakkan masyarakat di wilayah masing-masing.

"Untuk pelaksanaan Salat Istisqa tingkat Kota Depok, kegiatan dipusatkan di halaman depan Gedung Balai Kota Depok. Untuk waktunya kami masih menunggu kabar dari Pemerintah Kota (Pemkot) Depok," terang Andre.

Pada surat yang berisi imbauan itu, MUI Kota Depok bahkan menyoroti kondisi udara yang sangat panas karena musim kemarau. Kondisi tersebut memperparah sebaran abu vulkanik di wilayah Depok dan sekitarnya imbas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

MUI memberi panduan pelaksanaan kepada masyarakat dan takmir masjid. Persiapan dilakukan tiga hari sebelumnya dengan berpuasa serta memperbanyak amal kebaikan, seperti sedekah, tobat, dan semacamnya.

Pada hari keempat, umat Islam diarahkan menuju tanah lapang dengan mengenakan pakaian sederhana tanpa wewangian dan berhias. Jemaah dianjurkan memperbanyak istighfar.

Salat dilaksanakan dua rakaat secara berjamaah dan dilanjutkan dua khotbah. Khotbah pertama diawali istighfar sembilan kali, sedangkan khotbah kedua tujuh kali. Khatib juga menggunakan selendang dan memanjatkan doa dengan menghadap kiblat.

"Kami berharap ikhtiar tersebut menjadi sarana meningkatkan keimanan sekaligus mempererat kepedulian sosial, serta mendapat rahmat Allah SWT berupa turunnya hujan dan membaiknya kondisi cuaca," tandasnya.



(aeb/inf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads