Perselisihan dalam rumah tangga adalah hal yang tidak selalu bisa dihindari oleh pasangan suami istri. Perbedaan pendapat, komunikasi yang kurang baik, maupun masalah pribadi dapat memicu emosi hingga membuat salah satu pasangan memilih untuk menjaga jarak. Hal ini bahkan bisa terbawa sampai waktu tidur, ketika pasangan memilih untuk tidur dengan posisi membelakangi satu sama lain.
Lalu, tidur membelakangi pasangan saat marah, bagaimana hukumnya? Apakah sikap tersebut termasuk perbuatan yang dilarang dalam Islam?
Tidur Membelakangi Pasangan Saat Marah, Apakah Berdosa?
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon, Yahya Zainul Maarif atau yang dikenal dengan Buya Yahya, menjelaskan bahwa membelakangi pasangan ketika tidur pada dasarnya bukan persoalan yang perlu dipermasalahkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masalah membelakangi itu suka-suka lah, yang penting jangan kurang ajar. Kadang punggungnya sakit, miring sana miring sini, jadi nggak dosa," ujar Buya Yahya dalam cuplikan video di kanal YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip tayangan dalam kanal tersebut.
Menurut Buya Yahya, posisi tidur dapat disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing. Hal yang lebih penting adalah menjaga sikap kepada pasangan.
"Itu masalah kenyamanan tidur saja kok. Yang penting hatinya tidak boleh kurang ajar," jelas Buya Yahya.
Buya Yahya kemudian menjelaskan posisi tidur yang dianjurkan dalam Islam.
"Sebaik-baik tidur adalah kalau kita bisa menghadap ke kiblat, itu saja, sunnah, Wallahu a'lam bishawab," ungkapnya.
Islam Mengajarkan Kesabaran Saat Marah
Walaupun posisi tidur bukan persoalan dosa, kemarahan dalam rumah tangga tetap perlu dikendalikan. Islam mengajarkan umatnya untuk bersabar ketika menghadapi persoalan, termasuk ketika muncul perbedaan dengan pasangan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 200:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ࣖ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
Kesabaran diperlukan dalam menghadapi konflik rumah tangga agar emosi tidak semakin memperkeruh keadaan. Ketika kemarahan dibiarkan, persoalan yang awalnya sederhana bisa berubah menjadi pertengkaran yang sulit dikendalikan.
Dalam buku Jihad Keluarga Membina Rumah Tangga Sukses Dunia Akhirat karya A. Fatih Syuhud dijelaskan bahwa kemarahan dapat menjadi awal munculnya konflik antara suami dan istri. Penyebabnya pun beragam, dari hal-hal kecil hingga persoalan yang lebih serius.
Karena itu, saat sedang marah kepada pasangan, mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat membantu meredakan emosi. Tidur dengan posisi membelakangi pasangan juga tidak menjadi masalah, selama tidak disertai ucapan atau tindakan yang menyakiti.
Persoalan yang perlu diperhatikan adalah ketika rasa marah membuat seseorang sengaja mendiamkan pasangan dalam waktu lama. Dalam Islam, seseorang tidak dianjurkan mendiamkan orang lain karena persoalan pribadi dalam waktu yang terlalu lama.
Imam an-Nawawi dalam Syarah Riyadhus Shalihin jilid 3 mencantumkan hadits dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
"Seorang muslim tidak dihalalkan untuk meninggalkan (mendiamkan) saudaranya lebih dari tiga hari. Barang siapa mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari kemudian ia mati, maka ia masuk neraka." (HR Abu Dawud)
Hadits tersebut menjadi pengingat agar kemarahan tidak membuat seseorang sengaja mendiamkan orang lain dalam waktu lama, termasuk pasangan.
Sementara itu, tidur membelakangi pasangan tidak otomatis termasuk sikap mendiamkan. Selama hanya memilih posisi tidur yang nyaman atau memberi waktu untuk menenangkan diri, hal tersebut tidak menjadi dosa. Setelah emosi mereda, persoalan rumah tangga tetap perlu diselesaikan dengan komunikasi yang baik agar tidak berubah menjadi konflik berkepanjangan.
Wallahu a'lam.

Komentar Terbanyak
Korupsi Makin Parah, MUI Dorong Pemerintah Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor
5 Negara dengan Jumlah Masjid Terbanyak di Dunia, Indonesia Berapa?
Muhammadiyah Jadi Organisasi Indonesia Pertama di Dewan Muslim Inggris