KH Moh. Tidjani Djauhari dikenal sebagai salah satu ulama asal Madura yang memiliki perjalanan panjang dalam dunia pendidikan dan dakwah Islam. Kiprahnya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga menjangkau berbagai negara.
Lahir di Prenduan, Madura, pada 23 Oktober 1945, Tidjani tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama. Ayahnya, KH Djauhari Chotib, merupakan ulama, tokoh Masyumi, sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menimba Ilmu dari Gontor hingga Arab Saudi
Merangkum laman resmi Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, diceritakan pada 1958, ayahnya mengirim Tidjani untuk menempuh pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Di pesantren tersebut, ia tidak hanya mempelajari ilmu agama, tetapi juga mendapatkan pendidikan kepemimpinan dan manajemen.
Tidjani muda dikenal sebagai santri berprestasi. Setelah menyelesaikan pendidikan di KMI Gontor pada Januari 1964, ia melanjutkan ke Perguruan Tinggi Darussalam sekaligus mengajar di KMI Gontor.
Di Gontor, ia juga dipercaya menjadi sekretaris pondok dan staf tata usaha perguruan tinggi. Posisi tersebut membuatnya banyak berinteraksi dengan KH Imam Zarkasyi, yang kemudian menjadi mertuanya setelah Tidjani menikahi putrinya, Anisah Fathimah Zarkasyi.
Setahun kemudian, Tidjani melanjutkan pendidikan ke Universitas Islam Madinah. Ia mengambil Fakultas Syariah dan menyelesaikan pendidikan tingkat license pada 1969 dengan predikat mumtaz.
Pada 1970, ia melanjutkan studi magister di Jamiah Malik Abdul Aziz, Makkah. Tesisnya membahas manuskrip Fadhail Al-Quran wa Adaabuhu wa Muallimuhu karya Abu Ubaid Al-Qosim.
Untuk mendukung penelitian tersebut, Tidjani melakukan penelusuran ke berbagai perpustakaan di sejumlah negara, antara lain Turki, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Spanyol, dan Mesir. Ia kemudian menyelesaikan studi magisternya pada 1973 dengan predikat mumtaz.
Berkiprah di Rabithah Alam Islami
Perjalanan Tidjani di dunia internasional semakin berkembang setelah ia direkomendasikan oleh Mohammad Natsir untuk bekerja di Rabithah Alam Islami pada 1974.
Ketika itu, Natsir mengetahui prestasi akademik Tidjani dan kemudian merekomendasikannya untuk bergabung dengan organisasi tersebut. Tidjani mengawali karier sebagai muharrir atau koresponden yang menangani surat-menyurat dari berbagai penjuru dunia.
Kariernya kemudian berkembang. Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi, mulai dari anggota bidang riset, sekretaris departemen konferensi dan dewan konstitusi, hingga direktur sejumlah bidang yang berkaitan dengan penelitian, keagamaan, dan studi.
Kiprahnya di Rabithah Alam Islami membuat Tidjani berkesempatan mengikuti berbagai konferensi dan pertemuan internasional di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika.
Pada 1976, ia mengikuti Konferensi Islam di Dakar, Senegal dan Konferensi Islam Internasional di Mauritania. Setahun kemudian, ia mengikuti Seminar Hukum Islam di Chou University, Tokyo, Jepang.
Ia juga menghadiri sejumlah pertemuan lintas agama di Amerika Serikat dan Inggris. Pada periode 1978-1982, Tidjani terpilih menjadi salah satu wakil Rabithah yang dikirim dalam tim rekonsiliasi untuk menangani persoalan Muslim Mindanao di Filipina.
Pada 1983, ia kembali mendapat tugas dalam tim rekonsiliasi terkait persoalan politisasi agama di Burma dan konflik di Bosnia.
Pulang ke Madura dan Mengembangkan Al-Amien
Setelah sekitar 23 tahun bermukim di Tanah Suci dan berkiprah di dunia internasional, Tidjani memutuskan kembali ke Indonesia bersama keluarganya pada Januari 1989.
Kepulangannya menjadi babak baru dalam perjalanan dakwahnya. Kali ini, ia memusatkan perhatian pada pengembangan pendidikan Islam di tanah kelahirannya.
Bersama keluarganya, Tidjani berupaya mengembangkan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan agar menjadi lembaga pendidikan Islam yang berkualitas, kompetitif, dan bertaraf internasional dengan mengambil inspirasi dari sistem pendidikan Gontor.
Sejumlah pengembangan dilakukan, antara lain pembangunan Masjid Jami' Al-Amien pada 1989, pembukaan Ma'had Tahfidzil Quran pada 1991, pengembangan Sekolah Tinggi Agama Islam menjadi Institut Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA), serta pendirian Pusat Studi Islam pada 2003.
Dalam kurun 1989-2007, Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan berkembang menjadi lembaga pendidikan yang menyiapkan kader pemimpin umat. Hingga September 2007, tercatat 5.243 santri dari berbagai wilayah Indonesia dan negara-negara tetangga belajar di pesantren tersebut.
Pengabdian Tidjani juga mencakup berbagai persoalan sosial dan keumatan. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, sosial, budaya, dan persoalan umat Islam.
Ia tercatat pernah menjadi Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor, Dewan Pakar ICMI Jawa Timur, salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren (BSPP), serta Ketua II Majlis Ma'had Aly Indonesia.
Wafat pada Usia 62 Tahun
Setelah puluhan tahun mengabdikan diri untuk pendidikan dan umat, KH Moh. Tidjani Djauhari wafat pada Kamis, 27 September 2007, sekitar pukul 02.00 WIB di kediamannya.
Ia wafat pada usia 62 tahun dan meninggalkan istri, delapan anak, serta dua cucu. Semasa hidupnya, ia dikenal melalui perjalanan pendidikan dari Madura ke Gontor, Arab Saudi, hingga kiprah internasional bersama Rabithah Alam Islami.
(dvs/lus)
