Islam pernah berjaya di tanah Eropa. Córdoba dulu menjadi pusat peradaban, ilmu pengetahuan, dan budaya Islam paling pesat di Negeri Matador.
Islam masuk Eropa lewat Semenanjung Iberia pada 711 dipimpin oleh panglima muslim terkemuka Kekhalifahan Umayyah, Thariq bin Ziyad. Thariq membawa pasukan melewati Selat Gibraltar, Spanyol atas perintah Khalifah Al-Walid bin Abdul Walid, seperti dijelaskan dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam oleh Imam Subchi dan Djedjen Zainuddin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gelombang muslim lainnya masuk Eropa melalui penaklukan kepulauan-kepulauan kecil di Mediterania. Pasukan muslim berhasil menaklukkan Sisilia pada 827, Kreta pada 823, lalu disusul Malta pada 870 dan Sardinia pada 960. Dari Sisilia, Islam kemudian masuk Italia pada 873.
Pasukan muslim kemudian bergerak dari Italia melewati Pegunungan Alpen menuju Eropa Selatan dan daerah-daerah Eropa lainnya. Sementara itu, dari Asia Tengah dan Asia Minor, membawa Islam masuk ke Eropa Timur. Islam juga menyebar ke daerah Rusia.
Penyebaran Islam ke Rusia dimulai era Abbasiyah. Pada awal abad ke-10, Tatarstan menyusul Krimea memeluk Islam. Penyebaran Islam di wilayah Rusia juga tak lepas dari peran muslim dari khan Mongol.
Penaklukan kawasan Eropa makin meluas di era Sultan Muhammad Al-Fatih dari Kesultanan Utsmaniyah. Satu per satu kawasan Eropa Timur kemudian jatuh ke tangan Islam.
Perang Kosovo antara Kesultanan Utsmaniyah di bawah Sultan Murad I melawan Kristen Balkan pada 1389 berhasil mengislamkan Serbia. Albania berhasil dikuasai muslim pada 1423 dan Bosnia pada 1463. Imigran muslim dari negara koloni berbondong-bondong masuk Eropa Barat dan Utara pada abad ke-16.
Kejayaan Islam di Eropa
Kejayaan Islam di Eropa tak hanya dari luasnya wilayah yang ditaklukkan. Ilmu pengetahuan berkembang pesat di sana. Dijelaskan dalam buku Sejarah Pendidikan Islam karya Imam Buchori dan Herri Azhari, umat Islam tak hanya memperkenalkan ajaran agama tapi juga tradisi intelektualnya, khususnya dari Baghdad dan Damaskus.
Tradisi keilmuan tersebut mencakup pengajaran Al-Qur'an, hadits, fikih, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya seperti filsafat, matematika, dan kedokteran. Andalusia kala itu menjadi pusat pendidikan Islam yang berkembang pesat di Eropa, terutama pada masa kekuasaan Umayyah.
Menurut buku Khazanah Peradaban Islam di Timur dan Barat susunan Abdul Syukur Al-Azizi, bangsa Eropa bisa memahami ilmu pengetahuan kuno dari Yunani dan Babilonia berkat umat Islam. Beberapa tokoh yang mempengaruhi ilmu pengetahuan dan kebudayaan saat itu antara lain Al-Farabi, "Guru Kedua" filsafat yang mengumpulkan dan menerjemahkan buku-buku karya Aristoteles yang kemudian dipelajari bangsa Eropa.
Ada juga Ibnu Rusyd, ahli dalam bidang filsafat, hukum Islam, hingga kedokteran. Orang Eropa memanggilnya Averoes. Karya-karyanya banyak ditemukan di perpustakaan Eropa dan Amerika. Salah satu yang terkenal Bidayatul Mujtahid.
Tokoh berpengaruh lainnya adalah Ibnu Sina. Barat mengenalnya dengan nama Avicena. Dia adalah dokter dan tokoh kedokteran ternama pada Zaman Keemasan Islam. Karya-karyanya menjadi referensi di dunia Barat.
Jejak Islam di Eropa juga terlihat dari arsitektur yang berdiri kokoh hingga kini. Jika detikers ke Granada, Spanyol, ada kompleks istana dan benteng megah bernama Alhambra. Istana ini dibangun pada era Kekhalifahan Umayyah.
Ikon arsitektur Islam juga bisa dijumpai di Masjid Agung Córdoba. Bangunan abad ke-8 itu kini dialihfungsikan sebagai gereja sejak 1236 dan menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO.

Komentar Terbanyak
Korupsi Makin Parah, MUI Dorong Pemerintah Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor
5 Negara dengan Jumlah Masjid Terbanyak di Dunia, Indonesia Berapa?
Muhammadiyah Jadi Organisasi Indonesia Pertama di Dewan Muslim Inggris