Hagia Sophia merupakan salah satu bangunan paling bersejarah di dunia yang berdiri megah di Istanbul, Turki. Selama lebih dari 1.400 tahun, bangunan ini telah menjadi saksi berbagai peristiwa penting yang mengubah wajah peradaban, mulai dari pusat Kekaisaran Bizantium, masa kejayaan Kesultanan Utsmaniyah, hingga Turki modern.
Keunikan Hagia Sophia tidak hanya terletak pada arsitekturnya yang megah, tetapi juga perjalanan sejarahnya yang panjang. Bangunan ini pernah berfungsi sebagai gereja, kemudian diubah menjadi masjid, sempat menjadi museum, dan kini kembali digunakan sebagai masjid.
Perubahan fungsi tersebut menjadikan Hagia Sophia sebagai salah satu bangunan paling ikonik sekaligus simbol pertemuan berbagai peradaban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Dibangun Lebih dari 1.400 Tahun Lalu
Mengutip buku Mengapa Umat Islam Tertinggal?: Dunia Islam Problem & Dinamika karya Dr. Ir. Muhammad Najib M.Sc., Hagia Sophia dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Justinian I dari Kekaisaran Bizantium. Pembangunannya dimulai pada tahun 532 M dan selesai hanya dalam waktu sekitar lima tahun, tepatnya pada 537 M.
Pada masanya, Hagia Sophia menjadi gereja terbesar di dunia dan dianggap sebagai pencapaian luar biasa dalam bidang arsitektur.
Selama hampir seribu tahun, Hagia Sophia berfungsi sebagai katedral utama Gereja Ortodoks Timur.
Bangunan ini menjadi pusat kegiatan keagamaan Kekaisaran Bizantium sekaligus lokasi penobatan para kaisar. Statusnya sebagai gereja terbesar baru tergeser setelah dibangunnya Basilika Santo Petrus di Vatikan pada abad ke-16.
2. Berubah Menjadi Masjid setelah Penaklukan Konstantinopel
Dilansir dari Britanica, pada tahun 1453, Sultan Mehmed II atau Muhammad Al-Fatih berhasil menaklukkan Konstantinopel. Setelah kemenangan tersebut, Hagia Sophia diubah menjadi masjid.
Sejumlah perubahan dilakukan, seperti penambahan mihrab, mimbar, serta empat menara (minaret) yang kini menjadi ciri khas bangunan tersebut. Meski demikian, sebagian besar struktur utama bangunan tetap dipertahankan.
Kemudian pada tahun 1935, pemerintah Turki di bawah Mustafa Kemal Atatürk mengubah status Hagia Sophia menjadi museum.
Selama menjadi museum, bangunan ini terbuka bagi pengunjung dari berbagai negara tanpa memandang agama. Status museum tersebut bertahan selama sekitar 85 tahun.
3. Kembali Difungsikan sebagai Masjid
Pada tahun 2020, pemerintah Turki memutuskan mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid.
Meski digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam, bangunan ini tetap terbuka untuk wisatawan yang ingin melihat keindahan arsitektur dan nilai sejarahnya di luar waktu pelaksanaan salat.
Salah satu daya tarik utama Hagia Sophia adalah kubah utamanya yang berdiameter sekitar 31 meter dengan ketinggian mencapai lebih dari 55 meter dari lantai.
Pada masa pembangunannya, desain kubah tersebut dianggap sangat revolusioner karena mampu menciptakan kesan seolah-olah kubah melayang di udara.
4. Memadukan Arsitektur Bizantium dan Islam
Hagia Sophia merupakan contoh sempurna perpaduan dua gaya arsitektur besar.
Di dalam bangunan, pengunjung dapat menemukan mosaik bergaya Bizantium yang menggambarkan tokoh-tokoh Kristen, sementara di sisi lain terdapat kaligrafi Islam berukuran besar yang memuat nama Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, serta Khulafaur Rasyidin.
Perpaduan tersebut menjadikan Hagia Sophia sebagai bangunan yang unik dan tidak banyak ditemukan di tempat lain.
Pada tahun 1985, kawasan bersejarah Istanbul, termasuk Hagia Sophia, ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.
Pengakuan tersebut diberikan karena Hagia Sophia memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur yang sangat tinggi serta menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban dunia.
Selama berabad-abad, bangunan ini menjadi saksi pergantian kekuasaan, perubahan budaya, dan perkembangan agama. Nilai sejarah itulah yang membuat Hagia Sophia bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan juga simbol penting dalam perjalanan peradaban manusia.
