Rencana pembangunan masjid pertama di Kota Fujisawa, Jepang tuai pro dan kontra dari warga lokal. Sebagian warga menolak pembangunan masjid dengan alasan meningkatnya kekhawatiran sebagian masyarakat di tengah bertambahnya jumlah pekerja asing yang datang ke Jepang untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.
Sebagaimana diketahui, kurangnya tenaga kerja di Jepang karena penurunan serta penuaan populasi di Negeri Sakura tersebut. Rencana pembangunan masjid itu memicu perdebatan terkait perubahan sosial, imigrasi, hingga identitas masyarakat di Jepang.
"Hal ini membuat saya khawatir tentang bagaimana komunitas kami mungkin berubah. Sejujurnya, mungkin saya hanya takut pada hal yang belum saya ketahui," kata salah satu warga Fujisawa, Noriko Izumizawa, dikutip dari BBC pada Rabu (29/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengaku merasa cemas dengan adanya komunitas muslim di lingkungan tempat tinggalnya. Izumizawa juga menilai perdebatan terkait isu imigrasi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa jadi faktor yang mempengaruhi pandangannya terhadap perubahan yang terjadi di Jepang.
Penolakan terhadap proyek masjid juga memicu aksi protes di sekitar stasiun kereta lokal pada awal tahun 2026. Sebagian warga menilai bangunan masjid yang direncanakan berukuran lebih besar ketimbang kuil Shinto di dekatnya, hal ini dianggap kurang menghormati tradisi setempat.
Di sisi lain, ada beberapa laporan tentang ujaran kebencian dan disinformasi yang menyebar di media sosial Jepang. Media lokal menyatakan masjid-masjid menerima panggilan telepon dan email yang berisi hinana, beberapa dari pesan itu bahkan mendorong kelompok anti-kebencian untuk mengorganisir protes tandingan yang menyerukan tidak adanya kebencian.
Rencana pembangunan masjid di kota yang lokasinya satu jam perjalanan ke selatan Tokyo itu memicu berbagai macam emosi. Meski imigrasi tetap sensitif secara politik dan bersifat restriktif, Jepang kian bergantung pada pekerja asing untuk mengisi lowongan pekerjaan. Artinya, masuknya imigran dengan berbagai budaya, bahasa, agama dan cara hidup tidak dapat dihindari.
Perdebatan yang terjadi di kota-kota seperti Fujisawa di seluruh negeri adalah perdebatan yang menyentuh inti bagaimana Jepang memandang dirinya sendiri.
Selain Izumizawa, warga lokal yang mengelola kedai kopi di seberang jalan tempat masjid Fujisawa akan dibangun yaitu Hiroki Suzuka juga menyampaikan pendapatnya. Dia memberikan pemahaman dan dialog yang lebih besar.
"Saya tidak terlalu menentang, tetapi saya juga tidak akan mengatakan bahwa saya sangat mendukung," ujar Suzuka.
"Saya pikir langkah pertama adalah mempelajari tentang mereka, apa itu Islam, seperti apa orang-orang mereka, dan nilai-nilai serta perspektif apa yang mereka pegang. Itu dimulai dengan memiliki pikiran terbuka dan keinginan untuk saling memahami," imbuhnya.
Sementara itu, perwakilan Masjid Yashio di Prefektur Saitama, Shakeel Mohamed, juga menegaskan komunitas Muslim berupaya menghormati aturan dan budaya Jepang.
"Kami melakukan segala upaya untuk menghormati cara hidup di Jepang dan mematuhi aturan. Kesopanan juga sangat penting, bahkan untuk hal sederhana seperti menyapa orang," jelasnya.
Perdebatan mengenai pembangunan masjid terjadi di tengah meningkatnya jumlah warga asing di Jepang. Guru Besar Emeritus Universitas Waseda, Hirofumi Tanada, mencatat populasi muslim di Jepang mencapai sekitar 420.000 jiwa pada akhir 2024, naik dari sekitar 230.000 jiwa pada 2019.
Pertumbuhan populasi muslim ini mencerminkan tren nasional di mana jumlah warga asing-yang mayoritas berasal dari China, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina-melampaui angka empat juta jiwa pada 2025. Data pemerintah menunjukkan rekor 2,57 juta warga asing bekerja di Jepang pada tahun yang sama, di saat populasi warga lokal menyusut hampir satu juta jiwa.
Pemerintah Jepang selama ini menghindari sebutan "negara imigran" dan lebih mendorong penggunaan visa sementara. Sistem ini kerap dikritik oleh berbagai pihak sebagai bentuk imigrasi terselubung (stealth immigration).
