Daftar Kota yang Pernah Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU

Daftar Kota yang Pernah Menjadi Tuan Rumah Muktamar NU

Devi Setya - detikHikmah
Sabtu, 25 Jul 2026 15:00 WIB
Logo NU
Foto: dok. PBNU
Jakarta -

Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27-31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, banyak publik yang penasaran pada kota-kota yang pernah menjadi tuan rumah forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut.

Sejak berdiri pada 1926, NU telah menggelar puluhan muktamar di berbagai daerah di Indonesia. Perpindahan lokasi dari satu kota ke kota lain mencerminkan perkembangan organisasi yang terus meluas, sekaligus menunjukkan besarnya peran masyarakat setempat dalam menyukseskan agenda lima tahunan tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jumlah peserta pun terus meningkat. Pada Muktamar ke-34 tahun 2021 misalnya, tercatat hampir 2.300 peserta resmi.

Dilansir dari laman NU Online, berikut ringkasan daftar kota yang pernah menjadi lokasi digelarnya Muktamar NU.

ADVERTISEMENT

1. Surabaya, Titik Awal Muktamar NU

Surabaya menjadi kota pertama penyelenggara Muktamar NU. Tiga muktamar awal pada 1926, 1927, dan 1928 berlangsung di Hotel Muslimin dengan kegiatan penutup di Masjid Sunan Ampel. Kota ini dipilih karena saat itu menjadi pusat kegiatan organisasi sekaligus lokasi kantor pertama PBNU.

2. Semarang hingga Bandung

Memasuki Muktamar ke-4 tahun 1929, penyelenggaraan berpindah ke Semarang. Kota pelabuhan tersebut dinilai strategis karena menjadi pusat perkembangan cabang NU di Jawa Tengah. Setahun kemudian, Pekalongan menjadi tuan rumah Muktamar ke-5, disusul Cirebon pada 1931 dan Bandung pada 1932. Seluruh kota tersebut dipilih karena memiliki akses transportasi yang baik sekaligus menjadi pusat pertumbuhan NU di wilayah masing-masing.

3. Batavia hingga Banyuwangi

Pada 1933, Muktamar ke-8 digelar di Batavia atau Jakarta, tepatnya di kediaman Sayid Ismail Al-Athas yang kini dikenal sebagai Museum Tekstil Jakarta. Setahun berikutnya, Banyuwangi menjadi lokasi Muktamar ke-9 dengan rapat umum di Masjid Besar Banyuwangi yang dihadiri Rais Akbar KH M. Hasyim Asy'ari.

4. Solo, Banjarmasin, dan Malang

Kota Surakarta menjadi tuan rumah Muktamar ke-10 pada 1935. Setelah itu, NU mencatat sejarah baru dengan menggelar Muktamar ke-11 di Banjarmasin pada 1936. Ini menjadi muktamar pertama yang dilaksanakan di luar Pulau Jawa. Tahun berikutnya, Malang dipercaya menjadi penyelenggara Muktamar ke-12.

5. Menes, Magelang, dan Kembali ke Surabaya

Rangkaian muktamar sebelum kemerdekaan berlanjut di Menes, Banten pada 1938, Magelang pada 1939, dan Surabaya kembali menjadi tuan rumah Muktamar ke-15 tahun 1940. Muktamar tersebut menjadi yang terakhir pada masa pemerintahan Hindia Belanda sebelum kegiatan organisasi terhenti akibat situasi perang.

6. Muktamar Setelah Indonesia Merdeka

Usai Indonesia merdeka, NU kembali menggelar Muktamar ke-16 di Purwokerto pada 1946. Forum tersebut berlangsung di tengah semangat mempertahankan kemerdekaan dan memperkuat kembali konsolidasi organisasi. Setahun kemudian, Muktamar ke-17 dilaksanakan di Madiun dan menjadi muktamar terakhir yang dihadiri Hadratussyekh KH M. Hasyim Asy'ari sebelum wafat pada Juli 1947.

7. Jakarta, Palembang, hingga Medan

Setelah situasi nasional mulai stabil, Jakarta menjadi tuan rumah Muktamar ke-18 pada 1950. Forum ini membahas rencana keluarnya NU dari Partai Masyumi dan menyetujui pembentukan Fatayat NU. Dua tahun kemudian, Muktamar ke-19 berlangsung di Palembang dan menjadi momentum resmi NU memutuskan keluar dari Masyumi serta membentuk Partai NU.

Surabaya kembali menjadi penyelenggara Muktamar ke-20 pada 1954, disusul Medan pada 1956. Di Medan, muktamar sempat dipersingkat karena situasi keamanan yang kurang kondusif akibat gejolak politik saat itu.

8. Jakarta dan Solo pada Era Orde Lama

Muktamar ke-22 kembali digelar di Jakarta pada 1959. Beberapa tahun kemudian, Surakarta kembali dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar ke-23 pada 1962. Dalam forum tersebut, NU menghadapi dinamika politik nasional pada masa Demokrasi Terpimpin dengan tetap menekankan sikap bijaksana dalam mengambil keputusan organisasi.

Perjalanan panjang Muktamar NU menunjukkan bahwa penyelenggaraannya tidak hanya berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi juga mengikuti dinamika sejarah bangsa. Dari hotel sederhana, pesantren, rumah tokoh masyarakat hingga gedung-gedung besar, seluruh lokasi tersebut menjadi saksi lahirnya berbagai keputusan penting yang membentuk perjalanan Nahdlatul Ulama selama hampir satu abad.



(dvs/dvs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads