Kota Tua Al Ula telah bertransformasi sebagai pusat pariwisata andalan Arab Saudi. Di bawah agenda modernisasi besar-besaran Putra Mahkota Mohammed bin Salman Al Saud, Al Ula yang dulunya disebut-sebut sebagai tempat terkutuk, kini menjadi kota hidup.
Dilansir SPA, proyek rehabilitasi telah mengubah fungsi bangunan-bangunan bersejarah di Kegubernuran Al Ula untuk keperluan budaya, pariwisata, dan ekonomi sembari tetap melestarikan keasliannya.
Alun-alun dan lorong-lorong bersejarah kini disulap untuk mengakomodasi toko-toko, kafe, restoran, kerajinan tradisional, dan galeri seni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kota Tua Al Ula, dengan sejarah yang membentang lebih dari tujuh abad, menjadi salah satu contoh paling menonjol dari transformasi ini," lapor SPA, Rabu (15/7/2026).
Rumah-rumah bersejarah yang terbuat dari batu bata lumpur telah direhabilitasi dan berubah menjadi hotel-hotel berkelanjutan dengan tetap mempertahankan arsitektur asli situs tersebut. Stasiun Kereta Api Hejaz yang bersejarah di Hegra juga telah dialihfungsikan sebagai bagian dari fasilitas hotel.
Dinding lumpur dan lorong-lorong di kawasan tersebut dipugar menggunakan bahan-bahan tradisional. Hal ini dilakukan untuk melestarikan identitas asli bangunan bersejarah itu.
"Melalui program warisan budayanya yang berkelanjutan, Komisi Kerajaan untuk AlUla menegaskan kembali komitmennya untuk menjadikan situs-situs bersejarah sebagai pilar penting pembangunan budaya dan ekonomi," tambah laporan itu.
Al Ula Tempo Dulu
Sebelum dilirik menjadi sektor pariwisata Saudi, dulu Al Ula adalah permukiman oasis di sepanjang jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Arab Saudi dengan Mesir, Mesopotamia, dan Levant, seperti dilansir Indian Express. Kawasan ini terletak sekitar 300 kilometer dari pantai Laut Merah.
Kawasan ini menyimpan sejumlah harta arkeologi. Salah satu yang paling terkenal adalah Hegra, yang secara historis juga dikenal sebagai Madain Saleh atau Al-Hijr. Hegra dulunya adalah ibu kota selatan Kerajaan Nabatea--peradaban yang sama yang mengukir situs arkeologi Petra di Yordania.
Dalam tradisi Islam, Al Ula dikaitkan dengan lokasi permukiman kaum Tsamud kuno yang disebut dalam Al-Qur'an. Kaum tersebut adalah kaum Nabi Saleh AS. Mereka menentang dakwah Nabi Saleh AS hingga akhirnya Allah SWT menurunkan azab-Nya dan hancurlah kaum Tsamud.
Rasulullah SAW dan kaum muslim pernah melakukan perjalanan ke Tabuk dan melewati sekitar kawasan tersebut. Beliau kemudian minta kaum muslim menghindarinya karena di situlah kaum Tsamud diazab.
Hal tersebut diterangkan dalam sejumlah riwayat, salah satunya sebagaimana terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ibnu Umar, dia berkata:
"Pada saat Rasulullah melewati al-Hajar (bangunan bebatuan) beliau bersabda, 'Janganlah kalian memasuki tempat tinggal orang-orang yang telah berbuat zalim terhadap diri mereka, (karena) dikhawatirkan musibah yang dialami oleh mareka itu akan menimpa kamu pula kecuali dalam kondisi menangis.' Lalu Rasulullah menundukkan kepalanya sambil berjalan dengan cepat hingga melewati lembah tersebut." (HR Bukhari dan Muslim)
Seiring berjalannya waktu, berkembang desas-desus yang menyebut wilayah Al Ula sebagai tempat "terkutuk" atau dilarang dikunjungi.
Namun, tidak semua wilayah Al Ula terlarang. Ada pendapat yang menyebut larangan dalam hadits Rasulullah SAW itu untuk Madain Saleh (Hegra/Al-Hijr). Tempat inilah yang diyakini sebagai bekas permukiman kaum Tsamud.

Komentar Terbanyak
Orang Miskin Masuk Surga 500 Tahun Lebih Dulu Sebelum Orang Kaya
Konflik Iran-AS Memanas, Gus Yahya Serukan Perdamaian
Mesir dan Turki Tolak Kapal Pesiar LGBTQ , Jaga Nilai Masyarakat Setempat