AI hingga Disinformasi Jadi Tantangan Pendidikan Islam Era Digital

AI hingga Disinformasi Jadi Tantangan Pendidikan Islam Era Digital

Lusiana Mustinda - detikHikmah
Senin, 13 Jul 2026 09:30 WIB
Direktur Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV), Universiti Sains Malaysia (USM), Prof Shahir Akram Hassan.
Foto: Latifahtul Jannah/ MUI Digital
Jakarta -

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), otomatisasi, dan transformasi digital telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia. Perubahan itu tidak hanya terjadi dalam cara belajar dan bekerja, tetapi juga dalam pola interaksi sosial hingga praktik keberagamaan.

Di tengah arus perubahan tersebut, lembaga pendidikan Islam menghadapi tantangan besar untuk tetap relevan tanpa kehilangan jati diri dan nilai dasarnya.

Mengutip dari laman MUI pada Minggu (12/07/2026), Direktur Centre for Islamic Development Management Studies (ISDEV), Universiti Sains Malaysia (USM), Prof. Shahir Akram Hassan, menegaskan bahwa transformasi digital tidak boleh menggeser prinsip-prinsip dasar Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, teknologi semestinya digunakan sebagai sarana untuk memperkuat pembangunan umat yang berlandaskan etika dan tujuan syariah.

ADVERTISEMENT

"Tantangan kita hari ini bukan mengganti atau meninggalkan tradisi Islam, tetapi menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi praktik pembangunan modern yang efektif dan relevan dengan perkembangan zaman," ujar Prof. Shahir dalam Seminar Internasional yang menjadi bagian dari rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas), Seminar Internasional, Focus Group Discussion (FGD), dan Kaderisasi Ulama Non-Degree Komisi Pendidikan dan Kaderisasi (KPK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Dalam presentasi berjudul From Tradition to Transformation: Islamic Development Management in a Digital World, Prof. Shahir menjelaskan bahwa revolusi digital telah memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan. Dampaknya terlihat dalam dunia pendidikan, tata kelola pemerintahan, struktur sosial, hingga praktik keagamaan.

Menurutnya, perubahan tersebut membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan sejumlah risiko. Perkembangan AI, penyebaran disinformasi, persoalan etika digital, perlindungan data pribadi, serta meningkatnya fragmentasi sosial menjadi tantangan nyata yang perlu dijawab oleh dunia pendidikan Islam.

"Tradisi Islam memiliki fondasi etika yang kuat dan tetap relevan sepanjang masa untuk membangun manusia dan masyarakat secara utuh. Karena itu, teknologi harus dipandu oleh nilai, bukan sebaliknya," kata Prof. Shahir.

Ia menilai masih ada kesenjangan antara kajian keislaman klasik dan kebutuhan pembangunan serta manajemen modern. Sebagian lulusan memiliki pemahaman agama yang baik, tetapi belum cukup menguasai teknologi dan tata kelola kontemporer. Sebaliknya, ada pula kelompok yang kuat dalam penguasaan teknologi, tetapi kurang memiliki fondasi etika dan nilai keislaman.

Kesenjangan tersebut, menurut Prof. Shahir, perlu segera dijembatani agar umat Islam mampu beradaptasi dengan perubahan zaman sekaligus berkontribusi dalam peradaban digital.

Sebagai salah satu pendekatan, ia menawarkan konsep Islamic Development Management (IDM). Konsep ini mengintegrasikan pandangan hidup Islam, maqashid syariah, tata kelola digital, literasi AI, serta inovasi sosial dalam pengembangan masyarakat.

Melalui pendekatan tersebut, teknologi tidak hanya dipahami sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi. Lebih dari itu, teknologi dapat diarahkan untuk mendukung pembangunan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Prof. Shahir juga menekankan bahwa lembaga-lembaga Islam tidak lagi cukup mengandalkan metode konvensional dalam menghadapi perubahan global yang bergerak cepat. Menurutnya, lembaga Islam harus terlibat aktif dalam proses transformasi digital.

"Kita membutuhkan tata kelola yang beretika, berbasis bukti, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab untuk kepentingan umat," ujarnya.

Ia turut menyoroti pentingnya menyiapkan generasi baru yang memiliki kompetensi lintas disiplin. Lulusan masa depan, kata dia, tidak cukup hanya memahami ilmu agama atau menguasai teknologi secara terpisah. Keduanya perlu diintegrasikan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat modern.

"Kita memerlukan pemimpin masa depan yang memiliki landasan etika Islam yang kuat, menguasai teknologi digital, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat," kata Prof. Shahir.

Seminar internasional tersebut menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman dan gagasan mengenai pengembangan pendidikan Islam di era digital. Selain Prof. Shahir Akram Hassan dari Universiti Sains Malaysia, hadir pula Prof. Anwar Rajamoda, Direktur Mindanao State University Shariah Center, Filipina, serta Prof. Tulus Suryanto, Direktur Pascasarjana UIN Raden Intan Lampung.

Melalui forum ini, KPK MUI berupaya memperkuat kolaborasi internasional dalam pengembangan pendidikan Islam yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa meninggalkan fondasi nilai-nilai keislaman.

Menutup paparannya, Prof. Shahir menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital umat Islam sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan.

"Transformasi tidak dimulai dari teknologi, tetapi dari pendidikan. Dari sanalah lahir generasi yang mampu memimpin perubahan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya," ujarnya.



(lus/lus)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads