"Kita punya cinta, tapi Allah punya aturan. Cara terbaik mencintai adalah mendoakan. Allah tidak akan memisahkan dua orang yang memiliki niat sama, tapi Allah menguji seberapa kuat niat mereka untuk bersama."
Begitulah kalimat yang diucapkan oleh Ustazah Hajar dalam akun TikToknya @nia.hajar_s. Kalimatnya bikin adem, disampaikan dengan bahasa ringan, untaian katanya tertata rapi, dan terstruktur. Dibawakan oleh seorang perempuan muda berkerudung, berparas ayu dengan dua lesung di pipi dan penampilan yang secara visual menarik. Di profil akun TikToknya terlihat sudah memiliki 1,1 juta followers atau pengikut.
Dari semua video yang dia posting terlihat sudah mendapat 12,1 juta like. Setiap video yang diposting selalu mendapat ratusan komentar. Mulai yang serius dengan menanggapi isi konten sampai sekadar memuji kecantikan sang ustazah. Dari ratusan komentar tersebut sedikit yang menyinggung bahwa sosok ustazah dalam akun @nia.hajar_s adalah produk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal kenyataannya sosok dalam akun @nia.hajar_s tersebut adalah buatan AI. Pro kontra pun muncul. Tak sedikit yang mengkritik kehadiran penceramah AI tersebut karena khawatir ada kesalahan konten saat menggunakan dalil agama sehingga berpotensi menyesatkan umat.
Namun banyak juga yang tak mempersoalkan kehadiran ustazah atifisial tersebut. Selama yang disampaikan adalah kebenaran dan tidak memecah belah umat. Toh ada sebuah ungkapan
أُنْظُرْ مَا قَالَ وَلاَ تَنْظُرْ مَنْ قَالَ
undzur maa qoola walaa tandzur man qoola yang artinya "Lihatlah apa yang dikatakan, dan janganlah melihat siapa yang mengatakannya."
Muncul juga perdebatan terkait penggunaan teknologi AI dalam dunia dakwah. Di satu sisi, teknologi AI bisa dimanfaatkan sebagai akselerator syiar yang revolusioner. Di bagian lain, muncul sebuah pertanyaan: "Apakah penggunaan teknologi AI bisa digunakan untuk memperluas jangkauan syiar, atau justru bakal mereduksi nilai nilai dakwah itu sendiri?"
Antara Algoritma dan Sanad Keilmuan
Di era digital, penggunaan teknologi AI dalam memproduksi sebuah konten untuk berdakwah adalah sebuah keniscayaan. Sebab dengan bantuan AI seorang conten creator bisa dengan cepat dan mudah mengolah teks, membuat desain visual hingga audio dengan hasil sesuai keinginan. AI bisa disuruh kapanpun tanpa mengenal lelah, waktu dan bahkan memprotes jam kerja yang berlebihan.
Namun, persoalannya adalah AI bekerja berdasar algoritma yang otentisitas atau kebenarannya tak bisa dipertanggungjawabkan. AI tak memiliki rujukan dalil yang bisa dipertanggungjawabkan secara syariat. Dia hanya bekerja berdasarkan algoritma. Apabila terjadi kesalahan mengutip dalil atau fatwa, kita tidak bisa meminta pertanggungjawaban syariat kepada AI.
Oleh karena itulah di dalam budaya Islam, ketika mempelajari ilmu agama wajib memperhatikan sanad keilmuan yakni silsilah keilmuan yang tersambung hingga Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Hal ini penting untuk memastikan validitas, otentisitas, dan pemahaman suatu ilmu agama atau disiplin tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan secara syariat.
Medan Dakwah Baru
Sebuah data baru menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara dengan pengguna TikTok terbanyak di dunia. Menurut data yang dipublikasikan We Are Social dan Manochi, per April 2026 pengguna TikTok di Indonesia mencapai 222,6 juta orang. Angka ini naik 20,32 persen dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 185 juta pengguna.
Masih menurut data We Are Social, di Indonesia TikTok juga menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan bersaing dengan WhatsApp. Setiap hari orang Indonesia menghabiskan waktu 1 jam 53 menit di TikTok, dan 1 jam 52 menit di WhatsApp.
Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirilis bulan Maret 2026 menunjukkan bahwa TikTok paling banyak diakses oleh pengguna media sosial di Indonesia yakni sebesar 31,8 persen. Disusul Facebook di urutan kedua dan Instagram ketiga.
Data lain menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu selama 21 jam 50 menit setiap minggu di media sosial. Dalam satu hari lebih dari 3 jam pengguna media sosial di Indonesia menonton tayangan video secara online.
Fakta fakta di atas menunjukkan bahwa media sosial tak lagi sekadar pengisi waktu luang untuk mencari hiburan. Media sosial telah menjelma menjadi sebuah ruang publik baru, di mana masyarakat bisa mendapatkan informasi terkini.
Tak heran jika media sosial kini memiliki pengaruh yang luar biasa dalam membentuk opini, tren, hingga preferensi masyarakat atas ilmu-ilmu keagamaan. Media sosial telah mengubah cara masyarakat mendapatkan informasi dan cara mereka berpartisipasi dalam percakapan publik.
Masa Depan Dakwah di Era Digital
Saat artikel ini dibuat, akun Ustazah Hajar @nia.hajar_s telah disetting private. Namun potongan-potongan videonya sudah banyak dibagikan oleh akun-akun lain dan banyak juga mendapatkan like serta komentar.
Fenomena munculnya penceramah algoritma seperti akun ustazah Hajar di TikTok dengan 1,1 followers kiranya menjadi perhatian serius para pendakwah. Sebab fakta ini menunjukkan bahwa masyarakat kita saat ini tengah haus sebuah konten motivasi keagamaan dalam format video pendek yang dikemas dengan visual menarik, estetis, kalimat sederhana, puitis namun mudah dicerna.
Para pendakwah, ustaz dan ustazah harus lekas beradaptasi dengan lanskap baru dunia digital. Membuat konten-konten dakwah sesuai preferensi generasi di era digital. Jika tidak maka jagat media sosial di mana banyak generasi muda mencari rujukan ilmu agama akan diisi oleh para 'pendakwah algoritma'.
AI tidak boleh diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat bantu (tool). Kita bisa menggunakan AI untuk riset materi, menerjemahkan kitab, juga mengedit video dakwah agar lebih menarik. Tentu saja kendali penuh atas substansi, konseptualisasi, dan kehadiran figure ustaz dan ustazah di depan layar harus tetap dipegang ulama yang kompeten.
Kecerdasan buatan mungkin bisa menduplikasi retorika, meniru keanggunan visual, bahkan mengumpulkan jutaan pengikut dalam semalam. Namun, AI tidak akan pernah bisa menggantikan ketulusan hati dan kesucian niat seorang manusia dalam berdakwah.
Tantangan kita di era digital ini adalah memanfaatkan kehebatan teknologi tanpa harus kehilangan kemanusiaan kita. Jauh di atas angka followers, esensi dakwah adalah membawa manusia sedekat mungkin kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebuah perjalanan spiritual yang membutuhkan penuntun nyata, bukan sekadar kecerdasan buatan.
Erwin Dariyanto
Penulis adalah jurnalis, Managing Editor detikHikmah
Artikel ini adalah pendapat pribadi penulis, dan tidak mewakili sikap instansi di mana penulis bekerja. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)
(erd/erd)

Komentar Terbanyak
Kemenag Tanggapi Hoaks Bolehkan Korupsi Asal Sesuai Syariat
BEM Psikologi UI Sebut Homoseksual Bukan Penyimpangan, MUI Sentil Moral Kampus
MUI Minta Koruptor Dihukum Mati, Jangan Berlindung di Balik HAM