Ternyata Islam Pernah Punya Perpustakaan Terbesar di Dunia

Ternyata Islam Pernah Punya Perpustakaan Terbesar di Dunia

Hanif Hawari - detikHikmah
Sabtu, 06 Jun 2026 11:00 WIB
Ilustrasi perpustakaan
Ilustrasi perpustakaan (Foto: Getty Images/pixelprof)
Jakarta -

Islam pernah mengalami sebuah masa kejayaan yang sangat gemilang di panggung dunia. Pada era tersebut, peradaban Islam tidak hanya memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan berpengaruh, tetapi juga menjadi kiblat bagi perkembangan ilmu pengetahuan berkat kehadiran para ilmuwan jenius di dalamnya.

Salah satu bukti sejarah tak terbantahkan bahwa Islam pernah memimpin peradaban dalam bidang sains dan pendidikan adalah berdirinya sebuah institusi legendaris bernama Bayt Al Ḥikmah. Perpustakaan ini tercatat sebagai salah satu perpustakaan terbesar dan paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia.

Lantas, bagaimana fakta sejarah di balik kemegahan Bayt Al Ḥikmah? Berikut adalah ulasan yang dirangkum dari beberapa sumber sejarah peradaban Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdiri pada Masa Keemasan Khalifah Al-Ma'mun

Puncak kejayaan Dinasti Abbasiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sains terjadi di bawah kepemimpinan khalifah ketujuh, yaitu Khalifah Al-Ma'mun yang berkuasa pada tahun 813-833 M.

ADVERTISEMENT

Sebagaimana dinukil dari buku Filsafat Sains: Menurut Ibn Al-Haytham karya Usep Mohamad Ishaq, era keemasan ini ditandai secara monumental dengan pembangunan Bayt Al Ḥikmah di kota Bagdad, yang dalam literatur Barat sering dijuluki sebagai House of Wisdom (Rumah Kearifan). Tempat ini dengan cepat bertransformasi menjadi pusat intelektual dunia.

Menyimpan Lebih dari 601.000 Buku dan Kitab

Sebagai perpustakaan terbesar di masanya, Bayt Al Ḥikmah menjadi rumah bagi ratusan ribu literatur penting dari berbagai penjuru dunia.

Catatan sejarah mengoleksi setidaknya 200.000 volume buku di dalam institusi ini. Bahkan, beberapa sumber sejarah lain menyebutkan bahwa koleksi Bayt Al Ḥikmah mencapai 601.000 volume buku, ditambah dengan 2.400 mushaf Al-Qur'an.

Fasilitas yang disediakan di Bayt Al Ḥikmah jauh lebih lengkap dan beragam daripada perpustakaan mana pun di dunia kala itu, termasuk perpustakaan-perpustakaan terkemuka di Basrah. Di dalam kompleks Bayt Al Ḥikmah yang megah ini terdapat:

  • Biro penerjemahan internasional.
  • Pusat penyalinan manuskrip purba.
  • Lembaga penelitian ilmiah
  • Balai pengamatan (observatorium) untuk pencerapan astronomi.

Dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadillah, dijelaskan bahwa terdapat pula ruang-ruang diskusi untuk belajar.

Koleksinya pun mencakup berbagai karya sarjana Yunani Kuno yang diterjemahkan secara masif, mulai dari bidang filsafat, geometri, mekanika, musik, aritmatika, hingga ilmu pengobatan (kedokteran).

Pusat Gerakan Penerjemahan Global

Meskipun usaha penerjemahan buku berbahasa asing ke bahasa Arab sudah dirintis sejak zaman pemerintahan Abdullah Al-Muqaffa, puncak pencapaian gerakan ini baru berjalan secara teratur, meluas, dan masif di bawah perintah Khalifah Al-Ma'mun.

Mengutip buku Kelestarian Bidang Penterjemahan yang diedit oleh Hasuria Che Omar dan Rokiah Awang, keberadaan Bayt Al Ḥikmah memicu pesatnya gerakan penerjemahan karya-karya berbahasa asing, seperti bahasa Yunani (Greek) dan Persia (Parsi), ke dalam bahasa Arab.

Tujuan utama dari megaproyek ini adalah agar masyarakat Islam dapat menyerap, memahami, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban dunia tanpa harus terhambat oleh kendala bahasa.

Profesionalisme dan Imbalan Emas bagi Para Ilmuwan

Gerakan intelektual ini bersifat sangat inklusif. Tokoh-tokoh besar yang melahirkan banyak buku terjemahan saat itu tidak hanya berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga melibatkan umat agama lain, seperti Al-Masajuwaih, Al-Baktisyu', dan Hunain bin Ishaq yang merupakan seorang Kristiani.

Selain para ulama dan ilmuwan besar, rakyat jelata yang memiliki kecerdasan tinggi, seperti anak-anak Musa Syakir Al-Munajjim (Muhammad, Ahmad, dan Al-Hasan), juga turut andil.

Khalifah Al-Ma'mun sangat menghargai kerja keras para intelektual ini. Mereka tidak bekerja secara sukarela, melainkan digaji secara profesional dengan nilai yang fantastis.

Hunain bin Ishaq, misalnya, mendapatkan upah dari Khalifah Al-Ma'mun berupa emas seberat buku yang berhasil ia terjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Khalifah Al-Ma'mun juga mendorong golongan hartawan untuk ikut mendanai para penerjemah. Sebagai contoh, anak-anak Musa Al-Munajjim secara mandiri membayar para penerjemah handal sebanyak 500 dinar per bulan demi menyumbangkan karya ilmiah bagi peradaban.

Wallahu a'lam.




(hnh/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads