Hari kiamat merupakan salah satu perkara gaib yang wajib diimani oleh setiap muslim. Dalam ajaran Islam, kehidupan manusia tidak berhenti ketika kematian datang atau saat alam semesta hancur.
Setelah hari kiamat, manusia akan memasuki rangkaian perjalanan panjang menuju kehidupan akhirat yang kekal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam Al-Qur'an surah Taha ayat 15, Allah SWT berfirman,
اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى ١٥
Artinya: Sesungguhnya hari kiamat itu (pasti) akan datang. Aku hampir (benar-benar) menyembunyikannya. (Kedatangannya itu dimaksudkan) agar setiap jiwa dibalas sesuai dengan apa yang telah dia usahakan.
Al-Qur'an dan hadits Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan berbagai tahapan yang akan dilalui manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya. Mulai dari kebangkitan, pengumpulan di Padang Mahsyar, hingga penentuan tempat tinggal terakhir di surga atau neraka.
Lantas, bagaimana urutan perjalanan manusia setelah hari kiamat?
Perjalanan Manusia Setelah Kiamat
1. Yaumul Ba'ats (Hari Kebangkitan)
Mengutip buku The Miracle of Mizan: Keajaiban Amalan dan Doa Penentu Masuk Surga Tanpa Hisab karya Junaidi Ahmad Al Fatti, tahap pertama setelah hari kiamat adalah Yaumul Ba'ats, yaitu hari ketika seluruh manusia dibangkitkan kembali dari kuburnya.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Mu'minun ayat 16,
ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ تُبْعَثُونَ
Artinya: Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.
Pada hari itu, sangkakala ditiup untuk kedua kalinya oleh Malaikat Israfil. Seluruh manusia, sejak Nabi Adam AS hingga manusia terakhir yang hidup di dunia, akan dibangkitkan dalam keadaan hidup kembali.
Tidak ada satu pun manusia yang dapat menghindari kebangkitan tersebut. Semua akan keluar dari kubur dan menghadap Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya selama hidup di dunia.
2. Yaumul Hasyr (Hari Dikumpulkan)
Setelah dibangkitkan, manusia akan memasuki tahap Yaumul Hasyr, yaitu hari pengumpulan seluruh makhluk di Padang Mahsyar.
Dalam surah Az Zumar ayat 69,
وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: "Dan bumi (Padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan buku-buku (perhitungan perbuatan mereka) diberikan (kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan."
Dikutip dari buku Makna Kematian Menuju Kehidupan Abadi yang ditulis KH. Muhammad Sholikhin, Padang Mahsyar digambarkan sebagai tempat yang sangat luas. Di sana seluruh manusia berkumpul tanpa membedakan status, jabatan, kekayaan, maupun keturunan.
Dalam sejumlah hadits disebutkan bahwa manusia akan dikumpulkan dalam keadaan berbeda-beda sesuai amalnya. Ada yang memperoleh naungan Allah SWT, sementara sebagian lainnya merasakan kesulitan dan ketakutan yang luar biasa.
يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلَاً
Artinya: "Manusia pada hari kiamat akan dihimpun di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat dan tidak bersunat." (HR Muslim)
3. Yaumul Hisab (Hari Perhitungan Amal)
Tahapan berikutnya adalah Yaumul Hisab, yaitu hari perhitungan seluruh amal manusia.
Pada hari itu, tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari penilaian Allah SWT, baik amal yang besar maupun yang kecil.
Allah SWT berfirman dalam surah Az-Zalzalah: 7-8, artinya:
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula."
Seluruh amal yang pernah dilakukan manusia akan diperlihatkan secara rinci. Tidak ada kesempatan untuk berbohong atau menyembunyikan kesalahan karena seluruh anggota tubuh dapat menjadi saksi atas perbuatan yang dilakukan semasa hidup.
4. Yaumul Mizan (Hari Penimbangan Amal)
Setelah proses hisab selesai, manusia akan menghadapi Yaumul Mizan, yaitu hari penimbangan amal.
"Mizan" berarti timbangan. Pada hari itu, amal baik dan amal buruk manusia akan ditimbang dengan sangat adil.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 47,
وَنَضَعُ ٱلْمَوَٰزِينَ ٱلْقِسْطَ لِيَوْمِ ٱلْقِيَٰمَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا ۖ وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا ۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ
Artinya: Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.
Orang yang memiliki timbangan kebaikan lebih berat akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan. Sebaliknya, mereka yang timbangan keburukannya lebih berat akan menghadapi kesulitan dalam perjalanan menuju akhirat.
Keadilan Allah SWT pada hari tersebut sangat sempurna. Tidak ada kezaliman sedikit pun dalam penetapan keputusan-Nya.
5. Melewati Shirath
Tahapan berikutnya adalah melewati Shirath, yaitu jembatan yang terbentang di atas neraka.
Dalam berbagai hadits dijelaskan bahwa setiap manusia harus melewati jembatan ini. Cara seseorang melintasinya bergantung pada kualitas iman dan amal salehnya.
Ada yang melintas secepat kilat, ada yang seperti angin, ada yang berlari, berjalan, bahkan merangkak. Sebagian manusia berhasil menyeberang dengan selamat, sementara sebagian lainnya terjatuh ke dalam neraka.
Rasulullah SAW bersabda,
"Kemudian dibentangkan jembatan di atas neraka Jahannam." (HR Bukhari dan Muslim)
Shirath menjadi salah satu tahapan yang paling menegangkan dalam perjalanan akhirat karena menentukan keselamatan seseorang menuju tempat tinggal abadi.
6. Surga atau Neraka sebagai Tempat Kembali
Tahap terakhir adalah penetapan tempat tinggal abadi, yaitu surga atau neraka.
Surga merupakan tempat penuh kenikmatan yang disediakan Allah SWT bagi orang-orang beriman dan bertakwa. Di dalamnya terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, maupun terlintas dalam hati manusia.
Keberadaan surga telah dijelaskan dalam banyak firman Allah SWT, salah satunya termaktub dalam surat Al-Kahfi ayat 107,
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّٰتُ ٱلْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal,
Sementara itu, neraka menjadi tempat bagi orang-orang yang mengingkari Allah SWT dan terus-menerus berbuat maksiat tanpa bertobat.
Surat An-Nisa ayat 56 menerangkan firman Allah SWT tentang keberadaan neraka,
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَارًا كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُم بَدَّلْنَٰهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَزِيزًا حَكِيمًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Wallahu a'lam.
(dvs/kri)












































Komentar Terbanyak
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Nonmuslim Juga Berhak Menerima Daging Kurban
Negara Mayoritas 98% Muslim Ini Larang Hijab, Janggut, hingga Perayaan Lebaran
Kenapa Air Zamzam Tak Pernah Habis Meski Diambil Jutaan Jemaah?