Bacaan Sholat Idul Adha dari Niat sampai Salam

Bacaan Sholat Idul Adha dari Niat sampai Salam

Anisa Rizki Febriani - detikHikmah
Selasa, 26 Mei 2026 20:00 WIB
Jemaah Muhammadiyah melaksanakan sholat Idul Adha di Parkiran Bekasi Cyber Park, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (9/7/2022).
Sholat Idul Adha. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Bacaan sholat Idul Adha dari niat hingga salam perlu diperhatikan muslim. Sebagaimana diketahui, sholat Idul Adha berbeda dengan sholat pada umumnya.

Ibadah sunnah ini terdiri dari dua rakaat dengan tujuh kali takbir pada rakaat pertama dan lima kali takbir pada rakaat kedua. Dari Umar bin Khattab RA berkata:

"Sholat Jumat dua rakaat, sholat Idul Fitri dan sholat Idul Adha dua rakaat, sholat safar dua rakaat secara sempurna dan tidak ada qashar (meringkas) berdasarkan sabda Rasulullah SAW." (HR An Nasa'i)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sayyid Sabiq dalam Fiqh As-Sunnah terjemahan Khairul Amru Harahap mengatakan ibadah sunnah ini sangat dianjurkan atau tergolong sebagai sunnah muakkad. Sholat Idul Adha disyariatkan pada tahun pertama Hijriah bersama dengan sholat Idul Fitri. Oleh sebab itu, keduanya searing disebut sholat dua hari raya.

Tahun ini, sholat Idul Adha berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026. Penting bagi muslim memahami setiap bacaan sholat Idul Adha agar ibadah yang dijalani sah dan lancar.

ADVERTISEMENT

Bacaan dan Tata Cara Sholat Idul Adha Lengkap

Dinukil dari buku Fiqih Islam susunan Jauharul Eka Mawahib dan Siti Sulaikho, berikut bacaan sholat Idul Adha dari awal sampai akhir disertai tata caranya.

1. Membaca Niat

Sebelum memulai sholat Idul Adha, muslim harus membaca niat terlebih dahulu. Niatnya disesuaikan posisi orang yang sholat, apakah ia imam, makmum atau sholat Idul Adha secara munfarid (sendiri).

Niat sholat Idul Adha sendiri sebagai berikut,

اُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushallî sunnatan li 'îdil adlhâ rak'taini adā'an lillāhi ta'ālā.

Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Kemudian bacaan niat sholat Idul Adha berjamaah sebagai makmum seperti di bawah ini:

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَــــالَى

Ushallî sunnatan li 'îdil adlhâ rak'taini ma'mumam lillāhi ta'ālā.

Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi makmum karena Allah ta'ala."

Lalu, niat sholat Idul Adha berjamaah sebagai imam yaitu:

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلهِ تَعَــــالَى

Ushallî sunnatan li 'îdil adlhâ rak'taini imaman lillāhi ta'ālā.

Artinya: "Aku berniat sholat sunnah Idul Adha dua rakaat menjadi imam karena Allah ta'ala."

2. Takbiratul Ihram

Setelah membaca niat sholat Idul Adha, muslim melakukan takbiratul ihram. Berikut bacaannya,

اللَّهُ أَكْبَرُ

Allahu akbar

Artinya: "Allah Mahabesar."

3. Membaca Doa Iftitah

Terdapat dua macam doa iftitah yang umum dibaca muslim Indonesia. Berikut bacaan pertama yang berasal dari hadits Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA.

اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِى وَبَيْنَ خَطَايَاىَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ . اللَّهُمَّ نَقِّنِى مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ . اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَاىَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ"

Allahumma baa'id bainii wa baina khathaayaaya kamaa baa'adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqinii minal khathaayaa kamaa yunaqqatsawbul abyadlu minaddanasi. Allahummaghsil khathaayaaya bil maai watstsalji walbaradi.

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah aku dari kesalahan dan dosa sebagaimana Engkau menjauhkan timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah diriku dari kesalahan dan dosa sebagaimana telah Engkau bersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah, segala kesalahanku dengan air, salju, dan embun sebersih-bersihnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Ada juga doa iftitah versi lain yang diriwayatkan oleh Ali RA.

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا. اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلّهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ. لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَلِكَ اُمِرْتُ وَاَنَا مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ"

Allaahu akbar kabiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa'ashiilaa. Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fatharas samaawaati wal ardha haniifan musliman wa maa anaa minal musyrikiin. Inna shalaatii wa nusukii wa mahyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil 'aalamiin. Laa syariikalahu wa bidzaalika umirtu wa ana minal muslimiin.

Artinya: "Allah Maha Besar lagi sempurna kebesaran-Nya, segala puji hanya kepunyaan Allah. Maha Suci Allah pagi dan petang. Sesungguhnya aku hadapkan wajahku (hatiku) kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri, dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Semesta Alam, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan yang demikian itulah aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan-Nya. Dan aku adalah termasuk orang-orang muslim."

4. Takbir 7 Kali pada Rakaat Pertama

Di antara setiap takbir, membaca doa berikut:

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah wallahu akbar

Artinya: "Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar."

5. Membaca Surah Al Fatihah

Usai melakukan takbir tujuh kali pada rakaat pertama, lanjutkan dengan membaca surah Al Fatihah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn

Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat."

6. Membaca Salah Satu Surah Al-Qur'an

Pada sholat Idul Adha, sebetulnya surah Al-Qur'an yang dibaca bisa apa saja. Namun, Rasulullah SAW membaca surah Qaf pada rakaat pertama dan surat Al Qamar pada rakaat kedua.

Dari Ubaidillah bin Abdullah, bahwa Umar bin Khattab RA pernah bertanya kepada Abu Waqid al Laitsi, "Surah apa yang dibaca oleh Rasulullah SAW ketika sholat Idul Adha dan Idul Fitri?" Dia menjawab, "Ketika sholat beliau membaca surah Qaaf, wal quraanil majiid dan surah Iqtarabatis saa'atu wansyaqqal qamaru." (HR Bukhari dan Muslim)

Muslim juga boleh membaca surah Al A'laa pada rakaat pertama dan surat Al Ghasiyah pada rakaat kedua. Surah-surah tersebut bisa diakses di sini.

7. Lanjutkan Gerakan Sholat Seperti Biasa

Jika sudah mebaca surah Al-Qur'an, muslim bisa melanjutkan gerakan sholat seperti biasa. Mulai dari rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dan berdiri untuk rakaat kedua.

8. Berdiri untuk Rakaat Kedua dan Bertakbir 5 Kali

Pada rakaat kedua muslim bertakbir sebanyak lima kali dengan bacaan di antara tiap takbir yang sama dengan rakaat pertama. Berikut bacaannya,

سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah wallahu akbar

Artinya: "Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar."

9. Membaca Surah Al Fatihah

Usai melakukan takbir lima kali pada rakaat kedua, lanjutkan dengan membaca surah Al Fatihah.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ١ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ ٢ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ ٣ مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِۗ ٤ اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ ٥ اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ ٦ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ ࣖ ٧

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn ar-raḥmānir-raḥīm māliki yaumid-dīn iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm ṣirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ-ḍāllīn

Artinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pemilik hari Pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan. Bimbinglah kami ke jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat."

10. Membaca Surah Pendek

Surah pendek pada rakaat kedua disarankan surah Al Qamar atau Al Ghasyiyah. Bacaan bisa dilihat di sini.

11. Lanjutkan Gerakan Sholat Seperti Biasa hingga Salam

Setelah membaca surah pendek, muslim bisa melanjutkan gerakan sholat seperti rukuk, iktidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dan berdiri untuk rakaat kedua.

Apakah Muslim yang Tidak Sholat Idul Adha Berdosa?

Mazhab Syafi'i berpendapat hukum sholat Idul Adha adalah sunnah muakkad. Segala ibadah yang sunnah maka jika tidak dikerjakan tidak dikenai dosa.

Buya Yahya melalui ceramahnya juga menyebut terkait kesunnahan sholat Idul Adha merujuk pada pandangan mazhab Syafi'i.

"Sholat hari raya hukumnya dalam mazhab kita Imam Syafi'i sunnah yang sangat dikukuhkan. Yang tidak sholat hari raya bersama-sama (berjamaah) boleh melakukan sholat hari raya di rumah masing-masing biarpun tanpa khutbah," katanya dalam YouTube Al Bahjah TV. detikHikmah telah mendapat izin mengutip channel tersebut.

Namun, ada juga mazhab yang berpendapat sholat Idul Adha hukumnya fardhu kifayah seperti pendapat Imam Hambali. Selain Imam Hambali, Imam Abu Hanifah berpendapat hukum pengerjaan sholat Idul Adha adalah wajib.

"Mazhab Imam Hambali (hukumnya) fardhu kifayah, kalau tidak ada yang melakukan sholat diperangi. Kalau menurut mazhab Imam Abu Hanifah mengatakan wajib, yang gak melakukan dosa. Tapi bagi orang yang uzur, tapi uzur bisa melakukan sholat di rumah sendiri," sambung Buya Yahya.




(aeb/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads