MUI Minta Kitab Kuning hingga Manuskrip Ulama Nusantara Didigitalisasi

MUI Minta Kitab Kuning hingga Manuskrip Ulama Nusantara Didigitalisasi

Hanif Hawari - detikHikmah
Senin, 25 Mei 2026 11:46 WIB
Gedung MUI
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta -

Komisi Pesantren Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong seluruh pondok pesantren di Indonesia untuk melek digital. Pesantren kini ditantang untuk mulai mengembangkan sistem digitalisasi perpustakaan hingga mendokumentasikan manuskrip karya ulama Nusantara demi memperkuat tradisi keilmuan di era modern.

Hal itu ditegaskan oleh Wakil Ketua Komisi Pesantren MUI Pusat, Prof M Noor Harisudin, dalam pemaparannya bertajuk "Dari Perpustakaan Digital Hingga Digitalisasi Manuskrip Pesantren" pada kegiatan Short Course Kurikulum Pesantren di Aula Buya Hamka, Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Menurut Prof Haris, transformasi digital sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi pesantren agar mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi tetap kokoh menjaga akar tradisi keilmuan Islam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pesantren-pesantren yang sudah berkembang perlu mulai meng-upgrade inovasi pembelajarannya melalui digitalisasi, baik dalam sistem pembelajaran maupun pengelolaan perpustakaan," ujar Prof Haris dalam keterangannya, dikutip dari laman MUI, Senin (25/5/2026).

Lebih lanjut, Prof Haris menjelaskan digitalisasi di lingkungan pesantren tidak boleh hanya mandek pada urusan administrasi dan manajemen pendidikan saja. Lebih dari itu, pesantren harus menyentuh ranah pengembangan perpustakaan digital berbasis kitab kuning dan literatur khas pesantren.

ADVERTISEMENT

"Pesantren perlu memiliki e-library berbasis pesantren, sehingga karya-karya ulama dapat diakses melalui e-book maupun jurnal digital," jelasnya.

Menyelamatkan Manuskrip Ulama dari Aceh hingga Papua

Selain perpustakaan digital, Prof Haris juga menyoroti nasib manuskrip karya-karya ulama Nusantara yang hingga kini masih tersebar di berbagai pelosok daerah di Indonesia. Jika tidak segera didigitalisasi, aset berharga ini rawan rusak dan hilang ditelan zaman.

"Ada manuskrip ulama Nusantara yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Karya-karya itu perlu dilestarikan melalui digitalisasi agar tetap menjadi sumber belajar generasi mendatang," ungkapnya.

Langkah digitalisasi ini, kata dia, menjadi bagian krusial dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan pesantren dari para ulama terdahulu hingga generasi masa depan.

Melalui terobosan ini, ia berharap pesantren di Indonesia mampu terus berkembang dan duduk sama rendah, tegak sama tinggi dengan lembaga pendidikan global lainnya. Tanpa harus kehilangan identitas dan tradisi khas pesantren.




(hnh/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads