Mengapa Banyak Ulama Besar Islam Berasal dari Persia?

Mengapa Banyak Ulama Besar Islam Berasal dari Persia?

Daffa Ichyaul Majid Sarja - detikHikmah
Senin, 13 Apr 2026 06:30 WIB
Kota Baghdad dan perkembangan ilmu pengetahuannya di masa Dinasti Abbasiyah.
Ilustrasi Kota Baghdad dan perkembangan ilmu pengetahuannya di masa Dinasti Abbasiyah. Foto: Sketsa 1001 Invention
Jakarta -

Banyak ulama besar dalam bidang pengetahuan seperti hadits, fiqih, hingga sains, yang ternyata bukan dari bangsa Arab, melainkan dari Persia. Sejarah mencatat perpindahan pusat kekuasaan ke Baghdad pada masa Daulah Abbasiyyah telah membuka pintu asimilasi budaya yang luar biasa, dan menjadikan Persia sebagai pusat kecerdasan bagi peradaban Islam pada masa keemasannya.

Untuk bisa memahami kenapa banyak ulama besar Islam yang berasal dari Persia, kita harus mengetahui sejarah kejayaan Islam pada masa Bani Abbasiyah terlebih dahulu. Berikut penjelasan selengkapnya.

Masa Kejayaan Islam Terjadi Era Abbasiyah

Dinukil dari buku Perlukah Negara Islam karya Agus Mustofa, zaman keemasan Islam terjadi pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, yaitu antara tahun 750 M hingga 1258 M.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ini merupakan zaman keempat kekuasaan Islam setelah zaman Rasulullah SAW di Madinah, zaman Khulafaur Rasyidin di Madinah, dan zaman Kekhalifahan Umayyah di Damaskus. Baru kemudian lahirlah Kekhalifahan Abbasiyyah di Baghdad.

Nama Abbasiyah diambil dari nama salah satu paman Rasulullah SAW yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul Muthalib. Kekuasaan Bani Abbasiyah telah berkembang dan berkuasa selama lebih dari 300 tahun, dengan jumlah khalifah yang berkuasa sebanyak 37 orang. Dimulai dari Abu Abbas al Saffah hingga Al Musta'shim pada 1258.

ADVERTISEMENT

Tahun keemasan Daulah Abbasiyyah terjadi sekitar abad 8-10 M. Khalifah yang paling terkenal saat itu adalah Sultan Harun al Rasyid dan putranya, al Ma'mun. Pada abad ini, banyak bermunculan tokoh-tokoh Islam di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Mulai dari filsafat, matematika, kedokteran, astronomi, kimia, fisika, hingga fiqih dan hadits.

Perpindahan Pusat Peradaban Islam ke Tanah Persia

Pada zaman ini, banyak orang-orang non-Arab yang masuk Islam. Salah satu penyebabnya pusat pemerintahan Islam tidak lagi di wilayah Arab, melainkan di sekitar Persia. Maka, proses asimilasi kesukuan dan kebangsaan berjalan meluas di zaman ini. Percampuran perkawinan maupun pergaulan antarbangsa berkembang dengan baik.

Dengan begitu, bukan hanya ilmuwan Islam yang berkecimpung dalam pengembangan ilmu pengetahuan, melainkan juga ilmuwan-ilmuwan nonmuslim dan non-Arab yang kebanyakan berasal dari Persia.

Deretan Imam Mazhab dan Pakar Hadits yang Berasal dari Persia

Dalam bidang ilmu hadits dan fiqih, zaman Daulah Abbasiyyah banyak melahirkan tokoh-tokoh terkenal yang memiliki banyak pengikut hingga abad ini. Bahkan, para imam mazhab yang empat pun hidup pada zaman Abbasiyyah ini, antara lain Imam Abu Hanifah (699-767 M), Imam Malik (712-795 M), Imam Syafi'i (767-820 M), dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M).

Selain itu, dikenal juga para perawi hadits seperti Imam Bukhari (810-870 M), Imam Muslim (820-875 M), Ibnu Majah (824-887 M), Abu Dawud (817-889 M), At-Tirmidzi (825-892 M), An-Nasa'i (830-915), Ad Darimi (797-869 M).

Kontribusi Peradaban Persia

Dikutip dari buku Islam: Dari Rashidun ke Kekhalifahan Abbasiyah karya Yuri Galbints, Ibnu Khaldun menulis dalam sebuah karyanya berjudul Muqaddimah (1377), ia mengatakan sebagian besar kontribusi Islam pada umumnya merupakan karya orang Persia.

"Sebagian besar ulama hadits yang melestarikan tradisi untuk umat Islam juga adalah orang Persia, atau orang Persia dalam bahasa dan asuhan, karena disiplin ilmu itu banyak dikembangkan di 'Irâq dan daerah-daerah di luarnya," jelas Ibnu Khaldun.

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun juga mengatakan semua sarjana yang bekerja dalam ilmu prinsip-prinsip fiqih adalah orang Persia. Hal yang sama berlaku juga untuk para teolog spekulatif dan bagi kebanyakan komentator Al-Qur'an.

"Hanya orang Persia yang terlibat dalam tugas melestarikan pengetahuan dan menulis karya ilmiah yang sistematis. Dengan demikian, kebenaran pernyataan Nabi berikut ini menjadi jelas, 'Jika beasiswa digantung di bagian tertinggi surga, orang Persia akan mendapatkannya'," lanjut Ibnu Khaldun.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads