Sejak Kapan Iran Menjadi Negara Mayoritas Syiah?

Sejak Kapan Iran Menjadi Negara Mayoritas Syiah?

Tia Kamilla - detikHikmah
Jumat, 10 Apr 2026 19:15 WIB
Mengenal Peradaban Islam di Iran Lewat Situs Bersejarah

Sejarah peradaban Islam di Iran sangat terkenal dengan beberapa situs peninggalan warisan dunia dari UNESCO. Apa saja? Kita lihat yuk situs warisan dunia Islam di Iran.
Iran, negara dengan penduduk mayoritas Syiah. Foto: Universal Images Group via Getty/AGF
Jakarta -

Iran dikenal sebagai negara dengan mayoritas penduduk Syiah. Namun, kondisi ini tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses sejarah yang panjang dan penuh perubahan besar.

Salah satu titik pentingnya terjadi saat Dinasti Safawi berdiri 1501 berkuasa dan menetapkan Syiah sebagai mazhab resmi negara. Kebijakan ini kemudian mengubah arah sejarah Iran dan membuat ajaran Syiah semakin luas dikenal dan dianut masyarakat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lalu, bagaimana proses perubahan besar ini bisa terjadi dan bertahan hingga sekarang? Berikut penjelasannya.

Apa Itu Syiah?

Kata Syiah secara bahasa berasal dari kata syi'i yang berarti pengikut, pecinta, atau pembela suatu kelompok. Istilah ini juga bisa berasal dari kata tasyaiyu', yang berarti mengikuti dengan penuh keyakinan tanpa ragu. Hal ini dikutip dari artikel Studi Syiah: dalam Tinjauan Historis, Teologis, Hingga Analisis Materi Kesyiahan di Perguruan Tinggi Islam karya Thoriq Aziz Jayana yang diterbitkan dalam Jurnal Akademika Vol 16 No 1 tahun 2022.

ADVERTISEMENT

Secara istilah, menurut Husain Thabathaba'i, Syiah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa yang paling berhak menjadi pemimpin umat setelah Nabi Muhammad SAW wafat adalah keluarga beliau, yaitu Ali bin Abi Thalib RA.

Sementara itu, M. Quraish Shihab menjelaskan, dengan mengutip pendapat Muhammad Jawad Maghniyah dan Al-Jurjani, Syiah adalah kelompok yang mengikuti Ali dan meyakini bahwa beliau adalah imam setelah Rasulullah SAW yang sudah ditetapkan secara pasti.

Selain itu, kelompok ini juga meyakini bahwa kepemimpinan (imamah) berasal dari keturunan Ali. Namun, menurut Quraish Shihab, pengertian ini belum mencakup seluruh kelompok Syiah, karena di dalamnya ada berbagai macam pandangan.

Sejak Kapan Iran Menjadi Negara Mayoritas Syiah?

Mengutip buku Karakter Kepemimpinan Nabi Musa a.s. dalam Perspektif Al-Qur'an, Analisis pada Kisah Nabi Musa a.s karya Hidayatullah, dijelaskan bahwa Iran dikenal sebagai wilayah Persia yang mayoritas penduduknya menganut ajaran Syiah Imamiyah. Paham ini mulai menjadi mazhab resmi negara sejak berdirinya Dinasti Safawi berdiri 1501.

Sejak saat itu, ajaran Syiah Imamiyah memiliki pengaruh besar dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Iran. Pengaruhnya semakin kuat, terutama setelah Revolusi Iran 1979 yang dipimpin oleh Ruhollah Khomeini.

Revolusi tersebut berhasil menggulingkan Dinasti Pahlavi runtuh 1979 dan menggantinya dengan sistem Republik Islam. Iran kemudian menerapkan sistem pemerintahan Wilayat al-Faqih, yang diambil dari konsep kepemimpinan (imamah) dalam ajaran Syiah Imamiyah.

Sistem Wilayat al-Faqih adalah gagasan politik dari Ruhollah Khomeini yang disusun berdasarkan ajaran imamah dalam Syiah Imamiyah. Keberhasilan Revolusi Iran 1979 ini ikut mendorong tumbuhnya kesadaran politik dan rasa percaya diri di kalangan negara-negara Islam.

Sebelumnya, Iran dipimpin oleh sistem dinasti yang berlangsung sangat lama, hingga sekitar 25 abad. Namun, kekuatan rakyat yang dipimpin para ulama (mullah) berhasil mengakhiri sistem tersebut. Dari sini, Iran kemudian dikenal sebagai negara Syiah pertama yang menjadikan ajaran politik Syiah Imamiyah sebagai dasar sistem pemerintahannya.

Iran pun menjadi salah satu negara yang cukup diperhitungkan oleh negara Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris. Hal ini juga berkaitan dengan posisi Iran sebagai negara yang menjadikan Syiah Imamiyah sebagai mazhab resmi negara.

Republik Islam Iran dikenal sebagai negara dengan penduduk muslim Syiah terbesar di dunia. Nama Iran sendiri sudah digunakan sejak masa Dinasti Sasania, yang berasal dari bahasa Persia Kuno dengan arti "Negara Bangsa Arya".

Namun, hingga 1935, negara ini lebih dikenal di dunia internasional, khususnya di negara berbahasa Inggris, dengan nama Persia. Nama tersebut berasal dari sebutan bangsa Yunani kuno, yang mengambilnya dari nama salah satu wilayah penting di sana, yaitu Pars atau Fars.

Selain itu, mengutip buku Peradaban Islam: Warisan Intelektual dan Transformasi Global oleh Prof Waston, Dinasti Safawi berdiri abad ke-16 berawal dari sebuah tarekat sufi bernama Safawiyyah di wilayah Azerbaijan. Awalnya, gerakan ini bersifat spiritual, lalu berkembang menjadi gerakan politik dan militer di bawah pimpinan Syekh Ismail.

Ismail kemudian mengaku sebagai keturunan Imam Syiah dan mendapat dukungan besar dari para pengikutnya. Dalam waktu sekitar satu dekade, ia berhasil menguasai wilayah Persia.

Pada 1501, Ismail memproklamasikan diri sebagai Syah atau raja pertama Dinasti Safawi berdiri 1501. Saat itu, mayoritas penduduk Iran masih bermazhab Sunni.

Namun, di masa pemerintahannya, Syiah kemudian dijadikan mazhab resmi negara dan mulai disebarkan secara luas, termasuk dengan mendatangkan ulama Syiah dari Lebanon dan Bahrain. Proses ini berlangsung lebih dari 100 tahun hingga akhirnya Iran menjadi salah satu negara dengan mayoritas Syiah yang kuat di dunia Islam.

Saat ini, berdasarkan data pemerintah, sekitar 90-95 persen penduduk Iran adalah penganut Syiah. Sisanya terdiri dari kelompok Sunni serta agama lain seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroaster.

Dengan demikian, Iran menjadi negara mayoritas Syiah sejak berdirinya Dinasti Safawi berdiri 1501 yang menetapkan Syiah Imamiyah sebagai mazhab resmi negara, lalu semakin kuat setelah Revolusi Iran 1979. Syiah masih mengakar kuat dan terus bertahan dalam kehidupan masyarakat serta sistem negara Iran sampai saat ini.




(kri/kri)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads