Fakta Kubah Hijau Masjid Nabawi, Ternyata Tepat di Atas Makam Rasulullah

Fakta Kubah Hijau Masjid Nabawi, Ternyata Tepat di Atas Makam Rasulullah

Devi Setya - detikHikmah
Jumat, 03 Apr 2026 06:00 WIB
A majestic view of the green dome and the minarets of the Prophets Mosque, al-Masjid an-Nabawi, in the province of al-Madinah al-Munawwarah.
Kubah Hijau Masjid Nabawi Foto: Getty Images/Mawaddah Fauziah
Jakarta -

Masjid Nabawi di Madinah merupakan salah satu tempat paling mulia dalam Islam. Selain menjadi masjid yang dibangun langsung oleh Nabi Muhammad SAW, di dalamnya juga terdapat makam beliau.

Salah satu bagian yang paling ikonik dari masjid ini adalah kubah hijau yang berdiri megah dan mudah dikenali.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa Itu Kubah Hijau di Masjid Nabawi?

Masjid Nabawi adalah masjid kedua paling suci dalam Islam setelah Masjidil Haram di Makkah. Di dalam kompleks masjid ini terdapat area yang dikenal sebagai Raudhah, serta kamar tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW.

Mengutip buku Keajaiban Masjid Nabawi karya M. Irawan., masjid Nabawi memiliki bangunan yang didominasi warna putih bersih. Keistimewaan Masjid Nabawi adalah adanya makam Nabi Muhammad SAW yang berada di tengah-tengah bagian masjid.

ADVERTISEMENT

Makam Nabi Muhammad SAW ditutup dan dibatasi oleh pagar yang tinggi serta berhiaskan kaligrafi-kaligrafi yang indah. Dari luar Masjid Nabawi, area makam dapat diketahui lokasinya melalui kubah hijau.

Kubah Hijau adalah kubah yang berdiri di atas area makam Rasulullah SAW. Letaknya berada di bagian tenggara masjid, tepat di atas kamar Aisyah RA, tempat Rasulullah dimakamkan.

Secara historis dan arsitektural, Kubah Hijau memang berada tepat di atas makam Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah SAW dimakamkan di dalam rumah beliau, yaitu kamar milik Aisyah RA. Seiring waktu, area tersebut menjadi bagian dari Masjid Nabawi. Di dalam ruangan tersebut terdapat tiga makam, yaitu Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab.

Kubah Hijau dibangun di atas ruangan ini sebagai penanda lokasi makam tersebut.

Sejarah Kubah Hijau di Masjid Nabawi

Dikutip dari buku Hajj Journey Perjalanan dan Pelajaran dari Tanah Suci yang ditulis Liza Kurnia Sari, pada awal pembangunan, Rasulullah SAW dan kaum muslimin mendirikan Masjid Nabawi di atas tahan seluas 50 x 50 m dengan tinggi 3,5 m.

Seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan, baik di saat Nabi Muhammad SAW masih hidup hingga di masa Khalifah Umar bin Khattab dan Khalifah Utsman bin Affan.

Kemudian di masa modern, Raja Abdul Aziz dan Raja Fahd dari Kerajaan Saudi kembali memperluas masjid ini. Saat ini Masjid Nabawi memiliki luas mencapai 400 ribu meter persegi dan dapat menampung sekitar 1 juta jemaah.

Pada masa awal wafatnya Rasulullah SAW, makam beliau tidak memiliki kubah seperti sekarang. Bahkan, selama beberapa abad pertama, area makam hanya berupa bangunan sederhana tanpa penutup kubah.

1. Awal Pembangunan Kubah

Kubah pertama kali dibangun pada masa Dinasti Mamluk sekitar abad ke-13. Saat itu, kubah dibuat dari bahan kayu dan belum berwarna hijau.

2. Perubahan Warna Kubah

Awalnya, kubah tersebut dicat dengan berbagai warna, seperti putih dan biru. Warna hijau baru digunakan pada masa Kekhalifahan Utsmaniyah, sekitar abad ke-16.

Sejak saat itu, kubah ini dikenal sebagai kubah hijau dan menjadi ciri khas Masjid Nabawi hingga sekarang.

Kubah hijau bukan sekadar elemen arsitektur, tetapi memiliki makna simbolis yang mendalam bagi umat Islam. Fungsi utama kubah hijau adalah sebagai penanda lokasi makam Nabi Muhammad SAW. Dengan adanya kubah ini, jamaah dapat mengetahui posisi makam tanpa harus masuk ke dalam ruangan.

Adab Berziarah ke Makam Rasulullah

Bagi umat Islam yang berkunjung ke Masjid Nabawi, ziarah ke makam Rasulullah SAW merupakan salah satu amalan yang dianjurkan. Namun, terdapat adab yang perlu diperhatikan.

Dirangkum dari buku Kitab Induk Doa dan Zikir Terjemah Kitab al-Adzkar Imam an-Nawawi yang diterjemahkan dan disusun oleh Ulin Nuha, berikut beberapa adab yang harus diperhatikan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW:

1. Membaca Sholawat Kepada Rasulullah SAW dan Berdoa

Saat berada di jalanan menuju makam Nabi Muhammad SAW, dianjurkan untuk membaca sholawat kepada Rasulullah SAW.

Selain itu, umat muslim juga dianjurkan membaca doa sebagai berikut:

اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيَّ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَارْزُقْنِي فِي زِيَارَةِ قَبْرِ نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَزَقْتَهُ أَوْلِيَاءَكَ وَأَهْلَ طَاعَتِكَ وَاغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِيْ يَا خَيْرَ مَسْؤُوْلِ

Latin: Allahummaftah 'alayya abwaaba rahmatika war zuqnii fii ziyaarati qabri nabiyyika shallallahu 'alaihi wasallam, maa razaqtahu auliyaaka wa ahla thaa'atika waghfir lii war ham nii yaa khaira masuul.

Artinya: "Ya Allah, bukalah atasku rahmat-Mu, anugerah rezeki-Mu dalam ziarah makam Nabi-Mu SAW seperti apa yang Engkau berikan kepada kekasih-kekasih-Mu dan orang-orang yang taat kepada-Mu, dan ampunilah aku, rahmatilah aku wahai sebaik-baik tempat meminta."

2. Membaca Doa Masuk Masjid

Ketika hendak memasuki Masjid Nabawi, disunnahkan membaca bacaan yang biasa dibaca saat memasuki masjid lainnya.

أَعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Latin: A'udzu billahil-'azhimi wa bi wajhihil-karimi wa sulthanihil-qadimi minasy-syaithani ar-rajimi, bismillahi Allahumma shalli 'ala Muhammadin wa alihi wa sallim. Allahumma ighfir li dzunubi waftahli abwaba rahmatika.

Artinya: "Hamba berlindung kepada Allah yang Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Mulia, dan kepada kekuasaan-Nya yang Mahadahulu, dari setan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah; ya Allah, curahkanlah shalawat dan salam kepada Muhammad beserta keluarga Beliau. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untuk hamba."

3. Memberi Salam di Makam Rasulullah SAW

Setelah tiba di makam Nabi Muhammad SAW, dianjurkan untuk memberi salam dengan membaca bacaan berikut:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ ، اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا خِيرَةَ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ، اَلسَّلامُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِكَ وَأَصْحَابِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ وَعَلَى النَّبِيِّينَ السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ ، اَلسَّلامُ عَلَيْكَ يَا خِيرَةَ اللَّهِ مِنْ خَلْقِهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ ، اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ، اَلسَّلامُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِكَ وَأَصْحَابِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ وَعَلَى النَّبِيِّينَ

Latin: Assalamu'alaika yaa rasulallahi, assalamu'alaika yaa khiiratal laahi min khalqih, assalamu'alaika yaa habiiballahi, assalamu'alaika yaa sayyidil mursaliina wa khaataman nabiyyin, assalamu'alaika wa 'alaa aalikan wa ashabika wa ahli baitika wa 'alan nabiyyina wa saa irish shaalihiin, asyhadu annaka ballaghtar risaalata wa addaytal amaanata, wa nashahtal ummata, fa jazaakallahu 'annaa afdholu maa jazaa rasuulan 'an ummatihi.

Artinya: "Semoga keselamatan untukmu wahai Rasulullah, semoga keselamatan untukmu wahai orang yang terpilih Allah dari makhluk-Nya, semoga keselamatan untukmu wahai kekasih Allah, semoga keselamatan untukmu wahai penghulu para utusan dan penutup kenabian, semoga keselamatan untukmu dan keluargamu, sahabat-sahabatmu, ahlul bait, para nabi dan orang-orang saleh, aku bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, dan mengemban amanah dan menasihati umat, semoga Allah membalas dari kami keutamaan yang disampaikan Rasulullah kepada umatnya."

4. Menyampaikan Salam Jika Ada Seseorang yang Berwasiat

Kemudian jika ada seseorang yang berwasiat untuk menyampaikan salam kepada Rasulullah SAW, maka dapat membaca salam ini:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ مِنْ فُلَانٍ مِنْ فُلَانٍ

Latin: Assalamu'alaika yaa rasulullahi min fulan bin fulan

Artinya: "Semoga keselamatan kepadamu wahai Rasulullah, salam dari fulan bin fulan."

5. Mengucap Salam Kepada Sahabat

Setelah mengucap salam di makam Nabi Muhammad SAW lanjut bergeser satu dzira' ke kanan dan mengucap salam kepada Abu Bakar dan bergeser satu dzira' ke kanan lagi sembari mengucapkan salam kepada Umar bin Khattab.

Selanjutnya, kembali ke tempat semua dengan menghadap ke makam Nabi Muhammad untuk bertawasul dalam kebenarannya, memohon syafaat dengan perantara Rasulullah SAW kepada Allah SWT, dan berdoa untuk diri sendiri, kedua orang tua, sahabat-sahabatnya, orang yang dicintainya, dan orang yang berbuat baik dari umat muslim.

6. Mendatangi Raudhah

Umat muslim dianjurkan untuk mendatangi Raudhah yang berada di antara makam dan mimbar lalu memperbanyak berdoa di sana.

7. Dianjurkan Sholat Sunnah

Ketika hendak meninggalkan Masjid Nabawi dan keluar dari kota Madinah, disunnahkan sholat dua rakaat dan berdoa.

Setelah itu dapat dilanjutkan dengan berdoa menggunakan doa yang dibaca Nabi Muhammad SAW:

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ هَذَا آخِرَ الْعَهْدِ بِحَرَمِ رَسُولِكَ، وَيَسِّرْلِي العَوْدَ إِلَى الْحَرَمَيْنِ سَبِيْلاً سَهْلَةً بِمَتِكَ وَفَضْلِكَ وَارْزُقْنِيَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَرُدَّنَا سَالِمِيْنَ غَانِمِيْنَ إِلَى أَوْطَانِنَا آمِنِيْنَ

Latin: Allahumma laa taj'al haadhaa aakhiral 'ahdi biharami rasulika, wa yassirli 'auda ilal haramaini sabiilan sahlatan bimannika wa fadlika war zuqni 'afwa wal 'aafiyata fid dunyaa wal aakhirati wa ruddanaa saalimiina ghaanimiina ilaa authaanika aamiin.

Artinya: "Ya Allah, janganlah Engkau jadikan ini adalah tahun terakhir (aku) di tanah haram rasul-Mu, permudahkanlah aku untuk kembali ke Haramaian dengan mudah karena nikmat dan keutamaan, anugerahkanlah aku pemaafan di dunia dan akhirat, dan kembalikan kami dengan selamat sentosa dan mendapatkan pahala ke negeri kami, amiin."



(dvs/lus)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads