Sholat Istisqo, Pengertian, Tata Cara, dan Doa Memohon Turunnya Hujan

Sholat Istisqo, Pengertian, Tata Cara, dan Doa Memohon Turunnya Hujan

Salsa Dila Fitria Oktavianti - detikHikmah
Selasa, 31 Mar 2026 11:45 WIB
Woman hand with umbrella in the rain in green nature background
Ilustrasi hujan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Sasiistock
Jakarta -

Sholat istisqo merupakan salah satu ibadah sunnah dalam Islam yang dilaksanakan ketika terjadi musim kemarau panjang atau kekeringan, di mana masyarakat sangat membutuhkan turunnya hujan. Ibadah ini dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk ikhtiar sekaligus permohonan kepada Allah SWT agar menurunkan rahmat-Nya berupa hujan.

Sebagaimana dijelaskan dalam buku Mudah Memahami Fiqih Ibadah oleh Mohamad Al Jasim, Lc, sholat istisqo disunnahkan ketika hujan tidak turun dalam waktu yang lama.

Sebelum pelaksanaannya, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa selama empat hari berturut-turut, memperbanyak taubat, serta bersedekah kepada fakir miskin. Pada hari keempat, sholat istisqo dilaksanakan dengan tata cara yang menyerupai sholat Id, dan khatib dianjurkan untuk memperbanyak istighfar, taubat, serta doa dalam khutbahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tata Cara Sholat Istisqo

Dalam buku Rahasia-Rahasia di Balik Thaharah: Seri Ringkasan Ihya' Ulumuddin oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali, dijelaskan bahwa pelaksanaan sholat istisqo dilakukan sebanyak dua rakaat dengan tata cara yang serupa dengan sholat Id. Setelah sholat selesai, khatib naik ke mimbar untuk menyampaikan dua khutbah.

Di antara kedua khutbah tersebut, khatib duduk sejenak, dan isi khutbah lebih menekankan pada ajakan untuk memperbanyak istighfar, taubat, serta doa kepada Allah SWT.

ADVERTISEMENT

Pada khutbah kedua, khatib dianjurkan untuk membelakangi jamaah dan menghadap ke arah kiblat. Dalam posisi tersebut, khatib mengubah letak sorbannya sebagai simbol harapan akan perubahan keadaan, dari kekeringan menjadi turunnya hujan. Cara mengubahnya adalah dengan menukar posisi bagian atas ke bawah, serta sisi kiri ke kanan. Hal ini juga pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, kemudian diikuti oleh para makmum.

Setelah itu, khatib kembali menghadap jamaah dan memanjatkan doa agar hujan segera diturunkan sebagai bentuk harapan atas perubahan kondisi tersebut, yaitu dengan membaca:

اللَّهُمَّ أَمَرْتَنَا بِدُعَائِكَ وَوَعَدْتَنَا إِجَابَتِكِ فَقَدْ دَعَوْنَاكَ كَمَا أَمَرْتَنَا، فَأَجِبْنَا كَمَا وَعَدْتَنَا اللَّهُمَّ فَامْنُنْ عَلَيْنَا بِمَغْفِرَةِ مَا قَارَفْنَا وَإِجَابَتِكَ فِي سُفْيَانَا وَسَعَةِ رِزْقِنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ، الحَمْدُ للهِ وَحْدَهُ

Latin: Allahumma amartanaa bidu'ā'ika wa wa'adtanaa ijābataka faqad da'awnāka kamā amartanā, fa ajibnā kamā wa'adtanā. Allahumma famnun 'alainā bimaghfirati mā qārafnā wa ijābatika fī suqyānā wa sa'ati rizqinā birahmatika yā arhamar-rāhimīn, alhamdu lillāhi wahdah.

Artinya: "Ya Allah, sebagaimana Engkau menyuruh kami berdo'a kepadaMu dan Engkau janjikan kami untuk mengabulkannya, maka kami pun telah berdo'a kepadaMu sebagaimana Engkau menyuruh kami. Maka kabulkanlah do'a kami sebagaimana Engkau janjikan kepada kami. Ya Allah, berilah kami karunia dengan mengampuni dosa yang kami lakukan dan mengabulkan do'a kami dalam menurunkan hujan kepada kami dan melapangkan rezeki kami dan dengan rahmat-Mu, ya Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang. Segala puji hanya kepada-Nya."

Doa Sholat Istisqo

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْنًا مُغِيئًا مَرِيئًا هَنِيئًا مريعًا غَدَقًا مُجَلَّلًا عَامًا طَبَقًا سَرًّا دَائِمًا اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَائِطِينَ اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلادِ والبَهَائِمِ والخَلْقِ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْجَهْدِ وَالصَّنْكِ مَا لَا نَشْكُو إِلَّا إِلَيْكَ اللهم أنيت لنا الزرع وأدر لنا الضرعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْسَمَاءِ وَأَثْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوعِ وَالْعُرْيَ وَاكْشِفَ عَنَّا الْبَلَاءَ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ .

اللَّهُمَّ إِنا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا

Latin: Allahumma-sqinaa ghaytsan mughītsan marī'an hanī'an marī'an ghadaqan mujallalan 'āmman ṭabaqan sarran dā'iman. Allahumma-sqinal-ghaytsa wa lā taj'alnā minal-qāniṭīn. Allahumma inna bil-'ibādi wal-bilādi wal-bahā'imi wal-khalqi minal-balā'i wal-jahdi waḍ-ḍanki mā lā nashkū illā ilaik. Allahumma anbitt lanaz-zar'a wa adirra lanad-dhar'a wa sqinā min barakātis-samā'i wa anbitt lanā min barakātil-arḍ. Allahummarfa' 'annal-jahda wal-jū'a wal-'urya wakshif 'annal-balā'a mā lā yakshifuhu ghairuk. Allahumma innā nastaghfiruka innaka kunta ghaffāran fa arsilis-samā'a 'alainā midrārā.

Artinya: Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan yang menolong, mudah, menyuburkan, yang lebat, banyak, merata, menyeluruh, dan bermanfaat abadi. Ya Allah, turunkan kepada kami air hujan. Jangan jadikan kami termasuk orang yang berputus harapan. Ya Allah, sungguh banyak hamba, negeri, dan jenis hewan, dan segenap makhluk lainnya mengalami bencana, paceklik, dan kesempitan di mana kami tidak mengadu selain kepada-Mu.

Ya Allah, tumbuhkan tanaman kami, deraskan air susu ternak kami, turunkan pada kami air hujan karena berkah langit-Mu, dan tumbuhkan tanaman kami dari berkah bumi-Mu. Ya Allah, angkat dari bahu kami kesusahan paceklik, kelaparan, ketandusan. Hilangkan dari kami bencana yang hanya dapat diatasi oleh-Mu. Ya Allah, sungguh kami memohon ampun kepada-Mu, karena Kau adalah maha pengampun. Maka turunkan pada kami hujan deras dari langit-Mu.




(inf/inf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads