Suasana masjid di Turki selama bulan Ramadan kerap menghadirkan pemandangan yang berbeda. Di sela-sela salat tarawih, tak jarang terlihat anak-anak berlarian, bercanda, hingga bermain bersama di dalam area masjid. Bagi sebagian orang, hal ini terasa mengganggu. Namun bagi yang lain, justru menjadi tanda kehidupan.
Fenomena ini pun memicu perdebatan yang cukup hangat di tengah masyarakat. Namun menariknya, diskusi tersebut sejatinya bukan soal boleh atau tidaknya anak-anak datang ke masjid. Perdebatan lebih mengarah pada bagaimana menyikapi kehadiran anak-anak yang terkadang membuat suasana menjadi kurang kondusif.
Di Indonesia, situasi serupa juga kerap terjadi. Banyak jamaah-terutama kalangan yang lebih tua-memilih menegur bahkan memarahi anak-anak yang dianggap mengganggu kekhusyukan ibadah. Dalam beberapa kasus, anak-anak diminta pulang dan tidak kembali jika masih membuat keributan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Turki, pandangan masyarakat terhadap hal ini umumnya terbagi menjadi dua kelompok besar.
Kelompok pertama cenderung kurang setuju dengan kehadiran anak-anak saat salat berjamaah berlangsung. Alasannya cukup klasik: keberadaan anak-anak dinilai dapat mengganggu konsentrasi jamaah. Terlebih, anak-anak masa kini dikenal lebih aktif dan ekspresif saat berkumpul dengan teman-temannya, termasuk di dalam masjid.
Meski demikian, kelompok ini tidak sepenuhnya melarang anak-anak datang ke masjid. Mereka tetap mendorong anak-anak hadir di luar waktu salat berjamaah, misalnya untuk belajar mengaji atau mengikuti kegiatan keagamaan.
Di sisi lain, kelompok kedua justru menyambut hangat kehadiran anak-anak di masjid. Pandangan ini tidak lepas dari pengalaman sosial Turki di masa lalu, ketika masjid sempat sepi dari suara anak-anak. Kondisi tersebut dianggap sebagai sinyal yang mengkhawatirkan bagi keberlangsungan kehidupan masjid.
Bagi kelompok ini, suara riuh anak-anak hari ini adalah investasi masa depan. Mereka adalah generasi yang kelak akan memakmurkan masjid. Tanpa pembiasaan sejak dini, kekhawatiran akan semakin jauhnya generasi muda dari masjid menjadi sesuatu yang nyata.
Karena itu, sejumlah masjid di Turki kini mengambil pendekatan yang lebih ramah anak. Tak hanya memperbolehkan mereka hadir, pengurus masjid juga berupaya menciptakan suasana yang nyaman. Beberapa masjid bahkan menyediakan area bermain di bagian belakang, serta memberi kelonggaran bagi anak-anak untuk tetap berada di dalam masjid.
Tak berhenti di situ, anak-anak yang datang ke masjid juga kerap mendapat apresiasi sederhana seperti cokelat atau permen. Di beberapa tempat, imam bahkan sengaja berinteraksi dengan anak-anak-mengajak bercanda atau bermain setelah salat tarawih-demi menciptakan kedekatan emosional.
Upaya ini bertujuan menjaga agar masjid tetap hidup, bukan hanya dengan lantunan doa, tetapi juga dengan tawa dan langkah kecil anak-anak.
Pendekatan yang lebih seimbang sebenarnya bisa menjadi jalan tengah. Anak-anak memang penting dibiasakan datang ke masjid sejak dini. Namun di saat yang sama, peran orang tua juga krusial untuk mengenalkan adab dan etika selama berada di dalam masjid.
Dengan begitu, anak-anak tidak hanya melihat masjid sebagai tempat bermain, tetapi juga memahami bahwa masjid adalah ruang ibadah yang harus dihormati.
Muh Yusril Anam
Islamic Studies - Universitas Necmettin Erbakan, Konya, Turki
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi).
(lus/lus)












































Komentar Terbanyak
Anggaran Sewa Laptop & Meja Disebut Terlalu Besar, Kemenag: Ini Jauh Lebih Efisien
Jemaah Haji RI Ditangkap di Madinah Usai Videokan Wanita Tanpa Izin
MUI Kecam Pimpinan Ponpes di Pati yang Perkosa Santriwati: Perbuatan Terkutuk!