Ramadan di tanah perantauan selalu menyimpan narasi unik yang kemudian terdokumentasi menjadi memori. Di Uni Emirat Arab (UEA), bulan suci Ramadan menjadi momentum kebaikan yang luas, mulai dari ibadah ritual sampai program kemanusiaan yang dikemas secara modern dan inklusif. Ada satu fenomena menarik yang mungkin sulit ditemukan di belahan dunia lain dengan skala yang sama, yakni harmoni antara semangat berbagi dengan edukasi massa.
Di sini, kedermawanan tidak hanya hadir dalam bentuk fisik seperti tenda-tenda iftar di pinggir jalan. Namun, telah bertransformasi ke ranah digital dan institusional. Berbagai lembaga pemerintah, perusahaan swasta, hingga institusi pendidikan berlomba-lomba mengadakan kuis interaktif selama sebulan penuh. Uniknya, kuis ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan sarana transfer informasi yang sangat bermanfaat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui kuis-kuis tersebut, informasi "diselundupkan" secara cerdas kepada masyarakat. Peserta diajak untuk menyelami kembali ayat-ayat Al-Qur'an, memperdalam wawasan keislaman, hingga mengenal lebih jauh sejarah dan budaya UEA sebagai negara tuan rumah. Format ini membuat proses belajar menjadi menyenangkan dan dinantikan setiap hari oleh warga, baik penduduk lokal maupun ekspatriat.
Daya tarik utamanya tentu terletak pada apresiasi yang diberikan. Semangat Spirit of Giving di UEA tercermin melalui hadiah-hadiah fantastis yang diberikan, mulai dari uang tunai jutaan rupiah hingga gawai mewah seperti iPhone terbaru. Di negeri Emirat, hal semacam ini biasa kita jumpai selama bulan Ramadan. Fenomena yang membuktikan bahwa di zaman modern ini, kedermawanan bisa menjangkau medan yang lebih luas dengan memanfaatkan teknologi. Kita belajar bahwa memberi tidak harus selalu kaku; ia bisa dilakukan sambil membangun kecerdasan kolektif bangsa.
Hikmah mendalam yang dapat kita petik dari pengalaman Ramadan di UEA adalah kedermawanan sejati tidak hanya berhenti pada mengenyangkan perut, tetapi juga memperkaya nutrisi akal dan jiwa. Dengan mengintegrasikan edukasi ke dalam budaya berbagi, banyak sekali informasi yang berubah menjadi wawasan baru bagi masyarakat setempat.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa teknologi dan kekayaan hanyalah alat, tetapi kemuliaan yang sebenarnya terletak pada bagaimana keduanya digunakan untuk mengangkat derajat sesama manusia melalui ilmu dan semangat memberi. Di bulan yang penuh berkah ini, tangan di atas memang mulia, tetapi tangan yang memberi sembari membukakan jendela wawasan bagi orang lain adalah sebuah hal mewah yang penuh akan hikmah.
--
Lilim Abdul Halim
Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab di Alqasimia University, Uni Emirat Arab
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)












































Komentar Terbanyak
Eks Menag Kritik Rencana War Tiket Haji Kemenhaj
Polling: Kemenhaj Wacanakan 'War Tiket' untuk Berangkat Haji, Kamu Setuju?
Kemenhaj Wacanakan War Tiket Jadi Mekanisme Naik Haji Tanpa Antre