Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Konya menggelar kegiatan buka puasa bersama, tausiyah, dan salat Tarawih bersama pelajar Indonesia di Selçuklu Gençlik Merkezi, Konya, Turki. Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum untuk meramaikan suasana Ramadan di tanah rantau, tetapi juga sekaligus memperingati ulang tahun ke-14 PPI Konya.
Ketua PPI Konya Putri Maharani Yasin mengatakan kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan antarpelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di kota tersebut.
"Tujuan dari kegiatan ini bukan hanya sekadar berbuka bersama, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi dan kebersamaan di antara pelajar Indonesia di Konya. Di bulan Ramadan, kebersamaan memiliki makna yang sangat mendalam bagi kita sebagai pelajar rantau yang jauh dari keluarga di Indonesia," ujarnya, Senin (9/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramadan di luar negeri sangat berbeda dengan di Tanah Air. Tidak ada suara takjil di pinggir jalan, keramaian ngabuburit, dan kehangatan keluarga di waktu iftar. Namun, pada momen iftar ini suasana kembali hangat dengan berbagi cerita, guyonan, dan makanan khas Indonesia yang jarang ditemukan di negeri rantau.
Suasana tausiyah Ramadan 2026 PPI Konya, Sabtu (7/3/2026). Foto: Dok Muh Yusril Anam |
Bagi sebagian mahasiswa di perantauan, bulan Ramadan bukan hanya menjadi momen untuk ibadah dan menahan lapar. Bulan suci ini juga menjadi momen untuk belajar menahan rindu dengan keluarga, suasana di kampung seperti takbir keliling, tadarusan di masjid, dan kebiasaan lain yang dulunya terasa biasa saja, namun menjadi sangat istimewa setelah berada di luar negeri.
Pengalaman tersebut dirasakan oleh Sinfi Hamidah Fiaunillah, mahasiswi tahun pertama di Universitas Necmettin Erbakan, Konya. Ia menceritakan pengalamannya menghadapi culture shock ketika pertama kali menjalani Ramadan jauh dari Tanah Air.
"Culture shock pasti banyak sekali. Misalnya kebiasaan ibadahnya, dan pasti makanannya. Selain itu, waktu puasa di sini juga lebih panjang daripada Indonesia. Kalau Ramadan itu biasanya paling kelihatan Tarawih di masjid dan kegiatan lainnya. Ketika salat, kita banyak salah pahamnya karena berbeda dari kebiasaan salat Tarawih di Indonesia, apalagi baru tahu di sini doa qunutnya dilakukan sebelum rukuk," ujar Sinfi.
Pengalaman menjalani Ramadan pertama di luar negeri tidak hanya dirasakan oleh Sinfi. Mahasiswa Indonesia lainnya di Konya juga merasakan hal yang sama, terutama ketika jauh dari keluarga di Tanah Air.
"Beberapa hal yang paling saya rindukan tentang Indonesia adalah suasana kehangatan dan kekeluargaan yang diberikan, dan itu semua ada di bukber PPI Konya kemarin, di mana semua orang saling berbincang dan bertukar cerita layaknya sebuah keluarga besar," kata Shabiyu Muslim Mahaputra, mahasiswa tahun pertama di Universitas Selcuk, Konya, Senin (9/3/2026).
Harapannya buka puasa bersama ini dapat terus menjadi tradisi yang menguatkan di antara sesama pelajar Indonesia di tanah rantau dan sekaligus menjadi obat rindu Ramadan di Tanah Air. Momen tersebut juga menjadi pengingat bahwa meskipun berada jauh dari Tanah Air, kehangatan dan rasa kekeluargaan khas Indonesia tetap dapat hidup di mana pun mereka berada.
--
Muh Yusril Anam
Mahasiswa Islamic Studies di Universitas Necmettin Erbakan, Konya, Turki
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)
(kri/kri)













































Komentar Terbanyak
Dubes Saudi: Serangan Iran ke Negara Teluk Berdampak pada Solidaritas Umat Islam
Mengenang Thessaloniki, Kota Muslim di Yunani yang Hilang
MUI: Pemerintah Harus Tinjau Ulang Keterlibatan RI di Board of Peace