Ramadan adalah bulan puasa sekaligus bulan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan. Pada bulan inilah umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba dalam kebaikan, memperbanyak ibadah, serta mempererat tali persaudaraan.
Setiap negara berpenduduk mayoritas muslim memiliki cara tersendiri dalam menyambut dan menghidupkan Ramadan. Salah satu negara yang memiliki tradisi unik dan penuh makna adalah Libya, yang dikenal sebagai "Negeri Sejuta Penghafal Al-Qur'an".
Negara yang terletak di utara Benua Afrika ini memiliki tradisi khas dalam menjalani bulan suci. Di antara tradisi yang paling menonjol adalah kebiasaan masyarakat mengundang para pelajar dan penghafal Al-Qur'an untuk mengadakan khataman Al-Qur'an sekaligus berbuka puasa bersama di rumah mereka. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bentuk penghormatan yang tinggi terhadap para penjaga Kalamullah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di negeri para penghafal Al-Qur'an ini berdiri banyak zawiyah, yaitu lembaga pendidikan tradisional yang serupa dengan pondok pesantren. Zawiyah menyelenggarakan halaqah hafalan Al-Qur'an serta kajian kitab-kitab klasik (turats) karya para ulama. Beberapa zawiyah bahkan telah berdiri selama berabad-abad dan tetap mempertahankan metode pembelajaran kuno yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu metode yang masih digunakan adalah menghafal Al-Qur'an dengan menulis ayat-ayat di atas papan kayu yang disebut lauh. Metode ini melatih para santri untuk tidak hanya membaca dan menghafal, tetapi juga menulis ayat secara manual sebelum mengulanginya berkali-kali hingga hafal. Tradisi ini membentuk kedisiplinan, ketelitian, serta kesabaran dalam diri para pelajar. Nilai-nilai inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam membangun karakter penghafal Al-Qur'an.
Para penghafal Al-Qur'an di sana berasal dari berbagai kalangan dan lintas generasi. Anak-anak kecil duduk sejajar dengan remaja, orang dewasa, bahkan lanjut usia dalam satu halaqah yang sama. Tidak jarang seorang ayah dan anaknya, atau seorang kakek bersama cucunya, menghafal dalam kelompok yang sama. Pemandangan ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Al-Qur'an telah mengakar kuat dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Libya juga menjadi tujuan belajar bagi pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Banyak mahasiswa Indonesia yang datang untuk mendalami hafalan Al-Qur'an maupun ilmu-ilmu keislaman lainnya. Lingkungan yang kondusif, dukungan masyarakat, serta kuatnya tradisi keilmuan menjadikan negara ini sebagai salah satu tempat yang subur dalam mencetak para hafiz dan ulama.
Masyarakat setempat memiliki penghormatan yang luar biasa terhadap para pelajar dan penghafal Al-Qur'an, terutama yang berasal dari luar negeri. Mereka memandang para penuntut ilmu sebagai tamu mulia yang harus dijaga dan dimuliakan. Bentuk penghargaan tersebut tampak dari kebiasaan memberikan sedekah berupa uang, bahan makanan, pakaian, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya. Sikap dermawan ini semakin terasa pada bulan Ramadan, ketika semangat berbagi meningkat secara signifikan.
Salah satu tradisi yang paling berkesan adalah undangan khataman Al-Qur'an di rumah-rumah warga. Biasanya, tuan rumah mengundang para pelajar melalui masyayikh atau guru mereka. Para santri kemudian datang secara berkelompok untuk membaca Al-Qur'an hingga khatam, dilanjutkan dengan doa bersama untuk kebaikan keluarga tuan rumah. Masyarakat meyakini bahwa bacaan Al-Qur'an dan doa para penghafal akan membawa keberkahan, ketenangan, dan kemudahan dalam berbagai urusan hidup mereka.
Acara tersebut biasanya dilangsungkan menjelang waktu berbuka. Tuan rumah menyajikan hidangan sederhana seperti kurma, susu, dan air putih sebagai menu pembuka. Selain itu, terdapat pula basisah, makanan khas yang sering dijadikan pelengkap. Setelah salat Magrib berjamaah, hidangan utama disajikan, seperti couscous, makaroni, nasi, roti, serta aneka minuman seperti jus, teh, dan kopi. Suasana kebersamaan terasa hangat, penuh kekeluargaan, dan jauh dari kesan formalitas.
Suasana Khataman dan buka bersama di Libya pada Ramadan 2026. Foto: Dok Iflah Anugerah Ramadhan |
Menariknya, dalam beberapa kesempatan tuan rumah meminta para pelajar Indonesia melantunkan sholawat atau qasidah khas Nusantara. Keragaman budaya Islam Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat setempat. Lantunan sholawat yang merdu tidak hanya menambah kekhusyukan suasana, tetapi juga mempererat hubungan persaudaraan lintas bangsa. Interaksi ini menjadi jembatan budaya yang memperkaya pengalaman kedua belah pihak.
Selain di rumah warga, khataman Al-Qur'an juga rutin diadakan di sejumlah zawiyah. Salah satunya adalah Zawiyah Syekh Abdussalam Al-Asmar yang menjadi tempat belajar para mahasiswa Indonesia. Setiap selesai salat Jumat selama Ramadan, ratusan santri dan penghafal Al-Qur'an berkumpul untuk mengikuti khataman bersama. Setelah acara selesai, para penghafal biasanya diberikan sedekah sebagai bentuk dukungan moral dan material agar mereka terus semangat dalam menjaga hafalan.
Tradisi khataman dan berbuka bersama ini bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, ia merupakan manifestasi nyata dari kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur'an dan para penjaganya. Ramadan menjadi momentum untuk memperkuat nilai-nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap ilmu.
Dalam pandangan yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat, para penuntut ilmu dan penghafal Al-Qur'an adalah aset berharga bagi masa depan bangsa dan agama. Mereka harus dijaga, dimuliakan, serta didukung keberlangsungannya hingga generasi mendatang. Tradisi ini menjadi bukti bahwa Al-Qur'an tidak hanya dihafal dalam dada, tetapi juga dihidupkan dalam budaya dan kehidupan sosial masyarakat.
Melalui khataman dan berbuka bersama, Ramadan di Libya menghadirkan harmoni antara ibadah, ilmu, dan persaudaraan. Nilai-nilai tersebut menjadikan bulan suci tidak hanya sebagai waktu menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sebagai sarana memperkuat hubungan manusia dengan Allah dan sesama. Tradisi yang terjaga ini menjadi inspirasi bahwa kemuliaan Al-Qur'an akan terus hidup selama ada generasi yang mencintai dan menjaganya dengan sepenuh hati.
--
Iflah Anugerah Ramadhan
Mahasiswa Jurusan Syariah di Al-Asmarya Islamic University
Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)

