Cerita Ramadan Mahasiswa RI di Turki: Jadi Tamu Malah 'Dibayar' Tuan Rumah

Ramadan di Negeri Rantau

Cerita Ramadan Mahasiswa RI di Turki: Jadi Tamu Malah 'Dibayar' Tuan Rumah

Muh Yusril Anam - detikHikmah
Jumat, 06 Mar 2026 16:30 WIB
Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Turki. Mahasiswa RI menghadiri Diş Kirası, tradisi menjamu tamu.
Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Turki. Mahasiswa asing menghadiri Diş Kirası, sebuah tradisi menjamu tamu. Foto: Dok Muh Yusril Anam
Konya -

Indonesia dan Turki memiliki persamaan sebagai negara mayoritas muslim di dunia, tak heran jika Ramadan menjadi momen penting. Di Turki, ada sebuah tradisi lama yang mungkin terdengar janggal bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, karena tuan rumah justru "membayar" tamunya setelah berbuka puasa.

Tradisi itu dikenal dengan sebutan "Diş Kirası", atau secara harfiah berarti "uang gigi". Sebuah simbol terima kasih karena tuan rumah telah "membuat lelah gigi" tamunya ketika menikmati hidangan berbuka puasa yang disajikan. Tradisi yang tidak biasa bagi orang Indonesia.

Beberapa mahasiswa Indonesia di Turki bercerita tentang pengalamannya dengan budaya iftar dan momen mendapatkan Diş Kirası ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jujur saya kaget. Dalam pemahaman saya, biasanya tamu menerima jamuan tanpa imbalan. Tapi di sini justru tuan rumah yang memberi hadiah setelah berbuka. Rasanya unik dan di luar kebiasaan yang saya kenal," ujar Aisya, mahasiswa Indonesia tahun pertama di Turki, Rabu (4/3/2026).

Ramadan memang selalu identik dengan kebersamaan. Namun, menjalani Ramadan jauh dari Tanah Air menghadirkan pengalaman berbeda bagi mahasiswa Indonesia di Turki. Meski tidak ada suara takbir keliling atau suasana ngabuburit seperti di kampung halaman, kehangatan tetap terasa lewat undangan berbuka puasa di rumah-rumah warga Turki.

ADVERTISEMENT

Semangat berbagi itu dikenal dalam budaya Turki sebagai misafirperverlik atau keramahan kepada tamu. Nilai ini bukan hal baru di sini. Sejak masa Kekaisaran Utsmani, tradisi menjamu tamu sudah menjadi bagian penting kehidupan sosial masyarakat yang berlanjut hingga saat ini.

Diş Kirası menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada tamu. Setelah berbuka puasa, tuan rumah akan memberikan hadiah kecil, kadang berupa uang atau barang berharga sebagai ungkapan terima kasih. Dalam beberapa riwayat, tuan rumah bahkan menyampaikan kalimat yang sarat makna:

"Efendim, Anda telah menghormati kami dengan memenuhi undangan buka bersama kami. Saat menikmati makanan tadi, kami telah membuat gigi anda lelah. Oleh karena itu, mohon terima hadiah kecil ini sebagai ungkapan terima kasih kami."

Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Turki. Mahasiswa asing menghadiri Diş Kirası, sebuah tradisi menjamu tamu.Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Turki. Mahasiswa asing menghadiri Diş Kirası, sebuah tradisi menjamu tamu. Foto: Dok Muh Yusril Anam

Tradisi tersebut memang sempat memudar seiring perubahan zaman. Khususnya di akhir periode Kekaisaran Utsmani. Namun nilai yang dikandungnya masih terasa hingga kini dan mulai kembali dihidupkan oleh sebagian masyarakat Turki. Nilai itu salah satunya terlihat dari kebiasaan sebagian warga yang membuka rumah mereka untuk mahasiswa internasional saat Ramadan.

Mahmut Ali Cengiz Körosmanoğlu, salah satu warga Turki yang rutin mengundang mahasiswa internasional berbuka puasa di rumahnya, mengaku tidak sepakat dengan istilah "mahasiswa asing".

"Pertama-tama, saya tidak setuju dengan istilah 'mahasiswa asing'. Karena mereka bukanlah orang asing bagi kita. Mereka adalah tamu kita. Saya lebih setuju memanggil mereka dengan sebutan 'mahasiswa tamu'," katanya dalam wawancara melalui pesan WhatsApp, Selasa (3/3/2026).

Menurutnya Ramadan bukan hanya ibadah individu, tetapi juga madrasah yang membangun rasa kebersamaan umat. Ia menyadari banyak mahasiswa datang ke Turki jauh dari keluarga, budaya, dan suasana Ramadan di negara asal mereka.

"Saya ingin mereka tidak merasa sendirian di sini. Ketika kami duduk di satu meja, berbagi makanan dan doa yang sama, kita diingatkan bahwa meskipun berasal dari negara berbeda, kita tetap bagian dari umat yang sama," ujarnya.

Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Turki. Mahasiswa asing menghadiri Diş Kirası, sebuah tradisi menjamu tamu.Suasana buka puasa Ramadan 2026 di Turki. Mahasiswa asing menghadiri Diş Kirası, sebuah tradisi menjamu tamu. Foto: Dok Muh Yusril Anam

Pengalaman menerima Diş Kirası juga meninggalkan kesan mendalam bagi Tazkiah, mahasiswa Indonesia tahun ketiga di Turki.

"Pastinya Cia merasa takjub banget, ternyata memuliakan orang lain itu ada seninya dan bisa menjadi se-elegan itu. Apalagi setelah Cia tau dari teman Turki bahwa esensi Diş Kirası ini adalah tamu memang akan dianggap sebagai 'utusan keberkahan' yang dikirim Tuhan untuk menyempurnakan rumah mereka. Jadi Cia rasa ini sudah ada di level tertinggi berbagi. Karena persepsi sebelumnya itu biasanya tamu adalah pihak yang berhutang budi atas jamuan yang diberikan," ucapnya.

Pengalaman serupa juga disampaikan oleh Safira, mahasiswa Indonesia tahun kedua di Turki.

"Jujur saya merasa senang waktu menerimanya, hehe, namanya juga rezeki iya kan. Tapi lebih dari itu, rasanya ada makna yang berbeda. Di Indonesia biasanya yang memberi hadiah seperti ini adalah keluarga, jadi ketika menerima Diş Kirası dari tuan rumah di sini, ada perasaan lebih dekat dan hangat. Somehow terasa seperti diterima, bukan sekadar diberi hadiah," ujarnya.

Di tengah modernitas dan perubahan sosial di Turki, tradisi Diş Kirası mengajarkan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberi. Ada etika dan penghormatan yang anggun di dalamnya. Tuan rumah tidak sekadar menjamu, tetapi juga menjaga martabat dan memuliakan tamunya.

Bagi mahasiswa Indonesia yang jauh dari rumah, pengalaman ini menghadirkan makna baru tentang Ramadan. Bahwa kebersamaan tidak selalu dibangun oleh kesamaan budaya, tetapi oleh ketulusan dalam menyambut dan menghormati satu sama lain. Di meja-meja iftar sederhana itu, terbangun jembatan antar budaya dan Turki perlahan terasa seperti rumah kedua.


--

Muh Yusril Anam

Mahasiswa Jurusan Islamic Studies di Universitas Necmettin Erbakan, Konya, Turki

Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)



(kri/kri)
Puasa di Tanah Rantau

Puasa di Tanah Rantau

30 konten
Nuansa Ramadan di negeri orang tentunya berbeda dengan suasana Ramadan di tanah air. Hal itu dilatarbelakangi banyak faktor terutama budaya lokal setempat.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads