Kementerian Agama (Kemenag) segera mencairkan insentif bagi dosen Ma'had Aly nonaparatur sipil negara (ASN). Tahun ini, setiap dosen akan menerima Rp 8 juta atau meningkat lebih dari 200% dibandingkan dengan insentif pada 2025.
Direktorat Jenderal Pesantren Kemenag menyiapkan anggaran Rp 5,576 miliar untuk 697 dosen yang telah ditetapkan sebagai penerima bantuan. Proses pencairan ditargetkan rampung pada akhir November 2026.
"Ini sedang kami mulai proses pencairannya. Insya Allah akhir November sudah bisa dicairkan. Setiap dosen mendapat Rp8 juta, naik lebih 200% dari tahun sebelumnya yang hanya mendapat Rp2,5juta," terang Basnang Said yang dikutip dalam laman Kemenag, Sabtu (24/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Besaran insentif tahun ini meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2025, Kemenag menganggarkan Rp 1,67 miliar untuk 670 dosen Ma'had Aly, dengan bantuan sebesar Rp 2,5 juta per orang. Tahun ini, jumlah penerima bertambah 27 orang, sementara anggaran yang disediakan meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Peningkatan bantuan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah dalam memperhatikan kesejahteraan tenaga pendidik sekaligus mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi pesantren. Para dosen diharapkan dapat terus menjalankan perannya dalam melestarikan tradisi keilmuan Islam, mendalami kitab kuning, dan mencetak calon ulama.
Basnang Said mengatakan, pengembangan pesantren tidak cukup hanya dilakukan melalui penguatan kelembagaan dan perluasan akses pendidikan. Kesejahteraan para pendidik juga perlu menjadi perhatian agar tradisi keilmuan yang berkembang di lingkungan pesantren tetap terjaga.
"Penguatan pesantren tidak cukup hanya dengan membangun kelembagaan dan memperluas akses pendidikan. Kita juga harus memberikan perhatian kepada para pendidik yang selama ini menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan pesantren. Insentif bagi 697 dosen Ma'had Aly ini merupakan bagian dari ikhtiar pemerintah untuk memastikan bahwa pengabdian mereka mendapat perhatian yang layak," ujar Basnang.
Ia menilai, Ma'had Aly memiliki peran penting dalam menyiapkan kader ulama yang tidak hanya menguasai ilmu agama secara mendalam, tetapi juga memiliki kematangan berpikir dan mampu menjawab berbagai persoalan di tengah masyarakat.
"Di tangan para dosen inilah tradisi keilmuan Islam diwariskan, dikaji, dan dikembangkan. Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan dosen tidak boleh dipisahkan dari agenda peningkatan mutu pendidikan tinggi pesantren. Kita ingin Ma'had Aly terus berkembang tanpa kehilangan akar keilmuan dan identitas kepesantrenannya," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Ma'had Aly Kemenag Adib menjelaskan, penyaluran insentif tersebut memiliki landasan regulasi berupa Keputusan Menteri Agama Nomor 1034 Tahun 2026 tentang Insentif bagi Dosen Bukan Aparatur Sipil Negara pada Ma'had Aly. Pelaksanaannya juga mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 7566 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Insentif bagi Dosen Bukan Aparatur Sipil Negara pada Ma'had Aly Tahun Anggaran 2026.
Berdasarkan dokumen penetapan, para penerima bantuan berasal dari sejumlah Ma'had Aly di Indonesia. Adib menjelaskan bahwa dana tersebut akan disalurkan langsung ke rekening masing-masing penerima sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Penyaluran insentif dilakukan melalui rekening masing-masing penerima sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan petunjuk teknis yang berlaku," tegas Adid.
Adib menambahkan, kesejahteraan dosen menjadi salah satu faktor yang mendukung keberlangsungan mutu pendidikan tinggi pesantren. Selain mengajar, dosen Ma'had Aly juga berperan dalam mempertahankan tradisi akademik, mengembangkan kajian keislaman, serta membimbing regenerasi ulama.
"
memiliki tanggung jawab akademik sekaligus tanggung jawab keilmuan dalam menjaga kesinambungan kajian kitab kuning dan kaderisasi ulama. Kami berharap insentif ini dapat menjadi dukungan bagi mereka untuk terus mengembangkan kualitas pembelajaran dan pengabdian. Sebab, kualitas sebuah lembaga pendidikan pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas dan keberlanjutan pengabdian para pendidiknya," tambah Adib.
Ma'had Aly merupakan lembaga pendidikan tinggi keagamaan Islam yang memiliki karakteristik khas pesantren. Proses pendidikannya berfokus pada pendalaman ilmu-ilmu keislaman, pengkajian kitab kuning, dan pengembangan tradisi intelektual yang diwariskan di lingkungan pesantren.
Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan sosial, lembaga ini dituntut untuk terus mengembangkan tradisi keilmuannya agar mampu menjawab tantangan zaman. Upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan pemeliharaan identitas pesantren, termasuk melalui dukungan terhadap para dosen yang menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pendidikan dan kaderisasi ulama.
