Ramadan di Abu Dhabi Tetap Tenang di Tengah Kesiapsiagaan

Ramadan di Negeri Rantau

Ramadan di Abu Dhabi Tetap Tenang di Tengah Kesiapsiagaan

Syabina Hardiansyah - detikHikmah
Selasa, 03 Mar 2026 20:00 WIB
Suasana Ramadan 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Suasana Ramadan 2026 di Sheikh Zayed Grand Mosque, Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Foto: Dok Syabina Hardiansyah
Abu Dhabi -

Bulan Ramadan di Abu Dhabi menghadirkan suasana yang khas dan teratur. Selama bulan suci ini, jam kerja dan sekolah dipersingkat menjadi setengah hari, agar para masyarakat mendapat ruang untuk fokus dalam melaksanakan ibadah puasa.

Berbuka puasa di Sheikh Zayed Grand Mosque menjadi momen paling ditunggu pada bulan ini. Masjid ini tak hanya menyediakan tempat bagi para jemaah untuk salat, namun juga menyediakan iftar gratis setiap harinya. Ribuan jemaah lintas negara dan budaya duduk berdampingan menunggu jam berbuka.

Momen kehangatan berbuka puasa juga terasa di berbagai sudut kota, salah satu program yang berjalan adalah "Ath'im Tu'jar" (Berilah makanan, maka engkau akan diberi pahala). Kegiatan tersebut dilakukan dengan memberikan makanan berbuka bagi para pekerja dan pengemudi di sepanjang jalan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswa RI di Abu Dhabi mengikuti program Ath'im Tu'jar, memberikan makanan berbuka bagi para pekerja dan pengemudi di sepanjang jalan.Mahasiswa RI di Abu Dhabi mengikuti program Ath'im Tu'jar, memberikan makanan berbuka bagi para pekerja dan pengemudi di sepanjang jalan. Foto: Dok Syabina Hardiansyah

Ramadan tahun ini terasa kian spesial dengan kunjungan Presiden RI Prabowo Subianto atas undangan Sheikh Mohamed Bin Zayed (MBZ). Menariknya, enam mahasiswa Indonesia di Abu Dhabi berkesempatan menjadi sukarelawan untuk membantu kelancaran agenda ini.

Presiden tiba pada 25 Februari 18.45 GST dan kembali ke Tanah Air pada 26 Februari 17.30 GST, tepat dua hari sebelum serangan rudal Iran ke UEA terjadi. Kedatangan Presiden disambut hangat oleh Duta Besar RI untuk UEA, Judha Nugraha, serta beberapa perwakilan masyarakat Indonesia dari beberapa komunitas lainnya.

ADVERTISEMENT
Kunjungan Presiden Prabowo ke Abu Dhabi, dua hari sebelum serangan Iran ke UEA. Mahasiswa RI turut jadi relawan penyambutan presiden.Kunjungan Presiden Prabowo ke Abu Dhabi, dua hari sebelum serangan Iran ke UEA. Mahasiswa RI turut jadi relawan penyambutan presiden. Foto: Tim Dokumentasi Negara RI

Dalam kunjungan singkat tersebut, Presiden Prabowo menghadiri buka puasa bersama Sheikh MBZ di Qasr Al Bahr guna membahas kemitraan strategis dan investasi. Pertemuan ini juga dihadiri oleh pemimpin enam emirat lainnya, seperti Dubai, Ajman, Sharjah, Ras Al Khaimah, Umm Al Quwain, dan Fujairah.

Satu hari kemudian, masyarakat sempat diwarnai ketegangan akibat isu serangan drone yang ramai diberitakan. Pemerintah UEA berhasil menangkis lebih dari 170 serangan rudal balistik (sampai 1 Maret 2026, berdasarkan data dari kementerian pertahanan UEA), serta senantiasa memberikan peringatan dan himbauan melalui notifikasi ponsel kepada masyarakat agar tetap waspada.

Ketegangan ini terasa nyata bagi saya, karena asrama tempat saya tinggal hanya berjarak sekitar 20 km dari Al Dhafra US Base, sehingga suara dentuman saat rudal ditangkis terdengar sangat jelas. KBRI Abu Dhabi pun menetapkan Status Siaga 3 (berdasarkan info terakhir dari KBRI), yang mengimbau WNI menyiapkan tas darurat berisi dokumen penting dan logistik untuk 72 jam sebagai langkah kesiapsiagaan.

Suasana Ramadan 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.Suasana Ramadan 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Foto: Dok Syabina Hardiansyah

Meski demikian, ibadah salat Tarawih tetap menjadi prioritas. Sebelum serangan terjadi, saya rutin melaksanakan salat Tarawih di masjid dekat asrama yang hanya berjarak 3 menit dengan berjalan kaki. Jemaah dari berbagai negara seperti India, Mesir, dan Suriah senantiasa mengisi penuh barisan masjid.

Namun, setelah serangan terjadi dan dentuman mulai terdengar, suasana sedikit berubah. Demi keamanan diri dan sesuai arahan untuk berjaga-jaga, saya dan beberapa warga lainnya memilih untuk melaksanakan salat tarawih di rumah masing-masing. Pengalaman ini menyadarkan kami betapa berharganya ketenangan, dan kami berharap suasana damai segera kembali menyelimuti seluruh negeri di sisa bulan suci ini.

--

Syabina Hardiansyah

Mahasiswa Jurusan Fiqh dan Fatwa di Mohamed Bin Zayed University for Humanities

Artikel ini merupakan kolaborasi detikHikmah dengan PPI Dunia. Seluruh isi artikel menjadi tanggung jawab penulis. (Terima kasih - Redaksi)




(kri/kri)
ramadan penuh hikmah
Puasa di Tanah Rantau

Puasa di Tanah Rantau

28 konten
Nuansa Ramadan di negeri orang tentunya berbeda dengan suasana Ramadan di tanah air. Hal itu dilatarbelakangi banyak faktor terutama budaya lokal setempat.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads