Surat Al-Alaq 1-5 menjadi ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini terjadi saat beliau sedang menyendiri di Gua Hira dan menjadi awal turunnya Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam.
Momen turunnya wahyu ini juga menjadi titik awal perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Lalu bagaimana bacaan dan kisah turunnya wahyu pertama ini? Berikut adalah penjelasannya.
Tanda Kenabian Sebelum Turunnya Wahyu Pertama
Berdasarkan buku Sejarah Keteladanan Nabi Muhammad SAW: Memahami Kemuliaan Rasulullah Berdasarkan Tafsir Mukjizat Al-Qur'an karya Yoli Hemdi, Aisyah RA menyebutkan bahwa sebelum wahyu pertama turun, Nabi Muhammad SAW yang berusia 40 tahun sering mengalami mimpi-mimpi yang benar, atau yang disebut ru'yah shadiqah, sebagai tanda kenabiannya. Mimpi-mimpi itu datang dengan jelas dan tidak pernah meleset. Apa yang beliau lihat seolah tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam mimpi-mimpi ini, beliau melihat cahaya terang yang menyerupai fajar, sebuah pertanda datangnya kebenaran. Cahaya itu menjadi isyarat bahwa akan ada peristiwa besar dalam hidupnya. Hati beliau pun semakin terdorong untuk mendekat kepada Allah SWT.
Fenomena ini mendorong Nabi Muhammad SAW untuk lebih sering berkhalwat atau menyendiri, menjauh dari kesibukan duniawi. Beliau melakukan tahannuts atau beribadah dengan sepenuh jiwa raga, menghadapkan diri hanya kepada Allah SWT.
Kebiasaan menyendiri ini sebenarnya telah melekat pada diri beliau sejak kecil, seperti yang disebutkan dalam buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW karya Abdurrahman bin Abdul Karim. Nabi Muhammad SAW tidak suka hidup beramai-ramai. Beliau lebih memilih suasana yang tenang untuk menjaga kebersihan hati.
Sifat ini semakin kuat saat beliau berusia 40 tahun, hingga beliau meninggalkan keluarganya untuk mencari ketenangan di Gua Hira. Beliau tidak pulang ke rumah kecuali untuk mengambil bekal, kemudian kembali lagi ke gua tersebut selama berbulan-bulan. Waktu yang panjang itu digunakan untuk beribadah dan merenung.
Gua Hira sendiri terletak di puncak Jabal Nur dan berada sekitar 5,7 km dari Makkah. Gunung ini cukup terjal dan membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk didaki.
Kisah Turunnya Wahyu Pertama
Setelah sekian lama menyendiri dan beribadah di Gua Hira, peristiwa besar itu pun akhirnya terjadi. Surat Al Alaq ayat 1-5 menjadi wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril.
Peristiwa ini terjadi pada 17 Ramadan sekitar tahun 610 Masehi, atau 13 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah. Malam itu, saat beliau berada di Gua Hira, Malaikat Jibril datang menghampiri.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim diceritakan, Jibril berkata kepada Nabi, "Iqra (bacalah)."
Nabi Muhammad SAW menjawab, "Aku tidak bisa membaca."
Malaikat Jibril kemudian mendekap Nabi Muhammad SAW dengan erat hingga beliau merasa sesak dan sulit bernapas. Setelah dilepaskan, Jibril kembali berkata, "Iqra (bacalah)."
Namun Nabi kembali menjawab, "Aku tidak bisa membaca."
Peristiwa itu terjadi sampai tiga kali. Setelah dekapan yang ketiga, Malaikat Jibril pun membacakan surat Al-Alaq ayat 1-5.
Surat Al-Alaq diturunkan di Kota Makkah sehingga termasuk golongan surat Makiyah dan memiliki arti segumpal darah.
Isi surat Al-Alaq mengajarkan manusia untuk mengenal siapa penciptanya. Setelah mengenal Allah SWT, manusia diperintahkan untuk memuliakan-Nya dengan segenap kemampuan. Surat ini juga mengingatkan agar manusia selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
Bacaan Wahyu Pertama Surat Al-Alaq Ayat 1-5
Ayat 1
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ
Arab latin: Iqra' bismi rabbikal-lażī khalaq(a).
Artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan!"
Ayat 2
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ
Arab latin: Khalaqal-insāna min 'alaq(in).
Artinya: Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.
Ayat 3
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ
Arab latin: Iqra' wa rabbukal-akram(u).
Artinya: "Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia,"
Ayat 4
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ
Arab latin: Allażī 'allama bil-qalam(i).
Artinya: "yang mengajar (manusia) dengan pena."
Ayat 5
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Arab latin: 'Allamal-insāna mā lam ya'lam.
Artinya: "Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Wamenhaj Dahnil Anzar Nilai Presiden Prabowo Layak Jadi Bapak Haji Indonesia
Secara Hisab, Idul Adha 1447 H Jatuh pada 27 Mei 2026
Keutamaan Puasa Tarwiyah dan Arafah Sebelum Idul Adha