- Apa Ciri-ciri Orang Mati Husnul Khatimah? 1. Wafat pada Hari atau Malam Jumat 2. Mengucapkan Kalimat Syahadat 3. Meninggal Saat Melakukan Amal Saleh 4. Dahinya Berkeringat Saat Wafat 5. Mati Syahid di Medan Perang 6. Meninggal karena Tenggelam atau Tertimpa Reruntuhan 7. Ibu yang Meninggal Saat Melahirkan 8. Meninggal karena Terbakar atau Busung Perut 9. Mempertahankan Diri dari Kejahatan (Perampok) 10. Meninggal karena Sakit Perut (Keracunan)
Mendapatkan akhir kehidupan yang baik atau husnul khatimah adalah impian terbesar setiap muslim. Dalam syariat Islam, kondisi ini merujuk pada keadaan seseorang yang menutup usia dalam ketaatan dan amal saleh.
Pentingnya akhir hayat ini ditegaskan dalam buku Perjalanan Menuju Keabadian Kematian, Surga dan Ayat-ayat Tahlil karya M. Quraish Shihab. Beliau mengutip sebuah hadits yang berbunyi, "Innama al-a'mâlu bi al-khawatim", yang artinya: "Seseorang dinilai sesuai akhir amalnya." (HR. Bukhari melalui Sahl bin Sa'id).
Sebaliknya, terdapat istilah su'ul khatimah, yakni akhir yang buruk di mana seseorang meninggal dalam keadaan bermaksiat atau jauh dari rida Allah SWT.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Ciri-ciri Orang Mati Husnul Khatimah?
Berdasarkan kitab Fiqih Lengkap Mengurus Jenazah karya M. Nashiruddin al-Albani, berikut adalah ciri-ciri fisik maupun keadaan yang menunjukkan seseorang meninggal dalam keadaan husnul khatimah:
1. Wafat pada Hari atau Malam Jumat
Meninggal di hari yang mulia merupakan keberkahan tersendiri. Rasulullah SAW bersabda bahwa muslim yang wafat pada hari atau malam Jumat akan dihindarkan oleh Allah dari fitnah (siksa) kubur.
"Tidaklah seorang muslim yang wafat pada hari Jumat atau pada malam Jumat kecuali pastilah Allah menghindarkannya dari siksa kubur." (HR Ahmad)
2. Mengucapkan Kalimat Syahadat
Ini adalah tanda yang paling utama. Seseorang yang mampu mengucapkan "La ilaha illallah" saat sakaratul maut mendapat jaminan surga. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang pada akhir kalimatnya mengucapkan 'La ilaha illallah' maka ia dimasukkan ke dalam surga." (HR Hakim)
3. Meninggal Saat Melakukan Amal Saleh
Tanda husnul khatimah lainnya adalah ketika ajal menjemput saat seseorang sedang beribadah, seperti sedang berpuasa, bersedekah, atau setelah berzikir dengan tulus mencari rida Allah.
Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa mengucapkan 'La ilaha illallah' dengan berharap akan keridhaan Allah dan di akhir hidupnya mengucapkannya, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa yang berpuasa sehari mengharapkan keridhaan Allah kemudian mengakhiri hidupnya dengannya (puasa), maka masuk surga. Dan barang siapa bersedekah mencari ridha Allah dan menyudahi hidupnya dengannya (sedekah), maka ia akan masuk surga." (HR Ahmad)
4. Dahinya Berkeringat Saat Wafat
Kematian seorang mukmin ditandai dengan munculnya keringat di area dahi atau jidat. Hal ini berdasarkan hadits dari Buraidah bin Khasib RA yang mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Matinya seorang mukmin adalah dengan berkeringat dahinya." (HR Ahmad, an-Nasa'i, Tirmidzi, dan lainnya)
5. Mati Syahid di Medan Perang
Gugur saat memperjuangkan agama Allah adalah kemuliaan tertinggi. Allah SWT menegaskan dalam surah Ali Imran ayat 169-171 bahwa mereka yang gugur di jalan Allah tidaklah mati, melainkan hidup di sisi-Nya dengan mendapat rezeki dan karunia.
Artinya: "Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan bergirang hati terhadap orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah. Dan sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (QS Ali Imran: 169-171)
Dikatakan, seseorang bisa mendapat derajat syahid meski meninggal di tempat tidur jika ia memiliki niat yang jujur untuk mati syahid.
"Barang siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan menyampaikannya derajat para syuhada sekalipun ia mati di atas ranjangnya." (HR Muslim dan Baihaqi)
6. Meninggal karena Tenggelam atau Tertimpa Reruntuhan
Rasulullah SAW bersabda, "Para syuhada itu ada lima: orang yang mati karena wabah kolera, karena sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan bangunan, dan syahid berperang di jalan Allah." (HR Bukhari & Muslim)
7. Ibu yang Meninggal Saat Melahirkan
Islam memberikan kedudukan tinggi bagi wanita. Perempuan yang wafat karena bersalin dianggap sebagai syahid. Rasulullah SAW menyebut kelak anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya menuju surga.
Hal ini berdasarkan hadits yang diberitakan dari Ubadah bin Shamit RA bahwa Rasulullah SAW menjenguk Abdullah bin Rawahah yang tidak bisa beranjak dari pembaringannya, kemudian beliau bertanya, "Tahukah kalian, siapakah syuhada dari umatku?" Orang-orang yang ada menjawab, "Muslim yang mati terbunuh."
Beliau bersabda, "Jika hanya itu para syuhada dari umatku sangat sedikit. Muslim yang mati terbunuh adalah syahid dan mati karena penyakit kolera adalah syahid, begitu pula perempuan yang mati ketika bersalin adalah syahid (anaknya akan menariknya dengan tali pusarnya ke dalam surga)." (HR Ahmad, ad-Darimi, dan ath-Thayalusi) Menurut Imam Ahmad ada periwayatan seperti itu melalui jalur sanad lain di dalam Musnad-nya.
8. Meninggal karena Terbakar atau Busung Perut
Dalam riwayat Jabir bin Atik, disebutkan bahwa syuhada tidak hanya yang gugur di medan perang. Mereka yang wafat karena terbakar, penyakit busung lapar, hingga terkena reruntuhan bangunan atau tanah longsor juga termasuk kategori syahid.
"Para syuhada ada tujuh: mati terbunuh di jalan Allah, karena penyakit kolera adalah syahid, mati tenggelam adalah syahid, karena penyakit busung lapar adalah syahid, karena penyakit perut keracunan adalah syahid, karena terbakar adalah syahid, dan yang mati karena tertimpa reruntuhan (bangunan atau tanah longsor) adalah syahid, serta perempuan yang meninggal pada saat mengandung adalah syahid." (HR Malik, Abu Dawud, an-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ahmad)
9. Mempertahankan Diri dari Kejahatan (Perampok)
Seseorang yang terbunuh karena mempertahankan hartanya dari rampok atau mempertahankan dirinya dari kezaliman dikategorikan sebagai mati syahid. Hal ini ditegaskan dalam beberapa hadits.
"Barang siapa yang mati karena mempertahankan hartanya (dalam riwayat lain, "Baran siapa menuntut hartanya yang dirampas lalu ia terbunuh") maka dia adalah syahid." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Mukhariq RA. berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW dan berkata, 'Ada seorang laki-laki hendak merampas hartaku. Beliau bersabda, 'Ingatkan dia akan Allah. Orang itu bertanya, 'Jika tetap saja tak mau berdzikir? Beliau menjawab, 'Mintalah tolong orang di sekitarmu dalam mengatasinya. Orang itu bertanya lagi, 'Apabila tidak saya dapati di sekitarku seorang pun?' Beliau menjawab, 'Serahkan dan minta tolonglah kepada penguasa. Ia bertanya, 'Apabila penguasa itu jauh tempatnya dariku?' Beliau bersabda, 'Berkelahilah dalam membela hartamu hingga kau meninggal dan menjadi syahid atau untuk mencegah hartamu dirampas." (HR an-Nasa'i dan Ahmad)
Abu Hurairah RA berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW seraya bertanya, 'Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku bagaimana apabila ada seseorang yang datang dan akan merampas hartaku.' Beliau menjawab, 'Jangan engkau berikan.' Ia bertanya, 'Bagaimana jika ia membunuhku?' Beliau menjawab, 'Engkau mati syahid.' Orang itu bertanya kembali, 'Bagaimana jika aku yang membunuhnya?' Beliau SAW menjawab, 'Ia masuk neraka." (HR Muslim, an-Nasa'i, dan Ahmad)
10. Meninggal karena Sakit Perut (Keracunan)
Berdasarkan diskusi antara para sahabat yang merujuk pada sabda Nabi SAW, seseorang yang wafat karena penyakit perut tidak akan mendapatkan azab kubur. Penyakit perut di sini mencakup kolera maupun infeksi organ dalam lainnya.
Abdullah bin Yasar berkata, "Aku duduk-duduk bersama Sulaiman bin Shard dan Khalid bin Arfadhah. Keduanya menceritakan tentang seseorang yang wafat karena sakit perut. Keduanya pun kemudian berharap dapat memperoleh mati syahid. Berkatalah yang satu kepada yang lain, 'Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda, 'Siapa saja yang wafat karena penyakit perut maka tak akan mendapat azab kubur. Yang lain menjawab, 'Memang benar." (HR an-Nasa'i, at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, ath-Thayalusi, dan Ahmad)
Wallahu a'lam.
(hnh/kri)












































Komentar Terbanyak
Soal Presiden Beli Sapi Kurban Pakai APBN, MUI: Disunnahkan bagi Pemimpin
Guru Besar UIN Jakarta: Sapi Kurban Presiden Dipahami sebagai Program Sosial Negara
Menag Nasaruddin Umar Tegaskan Nonmuslim Juga Berhak Menerima Daging Kurban