Dalam Islam, Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan adalah dua istilah penting yang berkaitan dengan kehidupan akhirat. Namun, apakah Hari Kebangkitan sama dengan Hari Kiamat atau memiliki makna yang berbeda?
Simak penjelasan tentang perbedaan Hari Kebangkitan dan Hari Kiamat, serta apa saja yang terjadi pada hari tersebut menurut ajaran Islam.
Apakah Hari Kebangkitan Sama dengan Hari Kiamat?
Hari Kiamat dan Hari Kebangkitan saling berhubungan, tetapi bukan satu peristiwa yang sama. Hari Kiamat adalah peristiwa besar saat dunia berakhir dan seluruh alam hancur. Setelah itu, ada tahapan ketika Allah SWT menghidupkan kembali semua manusia yang telah meninggal. Tahapan inilah yang disebut Hari Kebangkitan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jadi, Hari Kebangkitan merupakan bagian dari rangkaian peristiwa Hari Kiamat, bukan peristiwa yang berdiri sendiri.
Dalam Al-Qur'an, Hari Kebangkitan memiliki beberapa sebutan. Salah satu nama yang paling sering disebut adalah Yaumul Ba'ats.
Selain itu, Hari Kebangkitan juga berkaitan dengan sebutan lain, seperti Yaumul Hasyr (hari berkumpul) dan Yaumul Hisab (hari perhitungan), yang menggambarkan rangkaian peristiwa setelah manusia dibangkitkan.
Pengertian Hari Kebangkitan
Hari Kebangkitan disebut Yaumul Ba'ats, yaitu hari ketika Allah SWT membangkitkan kembali seluruh manusia yang telah meninggal dari alam kubur.
Peristiwa ini terjadi setelah Malaikat Israfil meniup sangkakala sebagai tanda kehancuran total dunia beserta seluruh makhluk di dalamnya.
Mengutip buku Pendidikan Agama Islam untuk Perguruan Tinggi karya Beni Kurniawan, pada Hari Kebangkitan manusia dibangkitkan dari kematiannya, kemudian dikumpulkan di Padang Mahsyar dalam peristiwa yang dikenal sebagai Yaumul Hasyr atau hari berkumpul.
Pada hari tersebut, seluruh manusia diperintahkan untuk hidup kembali guna mempertanggungjawabkan semua perbuatan mereka selama di dunia.
Peristiwa Hari Kebangkitan ini merupakan bagian dari rangkaian akhir kehidupan dunia, sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam surah Al-Hajj ayat 7,
وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ
Wa annas-sā'ata ātiyatul lā raiba fīhā, wa annallāha yab'aṡu man fil-qubūr(i).
Artinya: "Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur."
Pengertian Hari Kiamat
Hari kiamat merupakan peristiwa besar di akhir zaman yang menandai berakhirnya seluruh kehidupan dan kehancuran alam semesta.
Dalam Islam, hari ini digambarkan sebagai momen ketika makhluk di langit dan bumi musnah, bumi hancur berkeping-keping, gunung-gunung lenyap, dan segala bentuk kehidupan berakhir.
Peristiwa hari kiamat pun sudah dijelaskan dalam Al-Quran melalui beberapa surah, seperti surah Al Haqqah ayat 13-15, surah Al Qariah ayat 1-5, surah Al Anbiya ayat 104, dan ayat-ayat lainnya.
Umat Islam wajib meyakini bahwa hari kiamat akan datang sebagai bagian dari rukun iman. Beriman kepada hari akhir merupakan rukun iman yang kelima.
Tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui waktu pastinya selain Allah, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al Araf ayat 187,
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Yas'alūnaka 'anis-sā'ati ayyāna mursāhā, qul innamā 'ilmuhā 'inda rabbī, lā yujallīhā liwaqtihā illā huw(a), ṡaqulat fis-samāwāti wal-arḍ(i), lā ta'tīkum illā bagtah(tan), yas'alūnaka ka'annaka ḥafiyyun 'anhā, qul innamā 'ilmuhā 'indallāhi wa lākinna akṡaran nāsi lā ya'lamūn(a).
Artinya: "Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, 'Kapan terjadi?' Katakanlah, 'Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.' Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'"
Mengapa Hari Kebangkitan Sering Dianggap Sama dengan Hari Kiamat?
Banyak umat Islam yang mengira bahwa hari kiamat dan hari kebangkitan itu sama. Padahal, keduanya berbeda. Hari kebangkitan (yaumul ba'ats) ini merupakan bagian dari rangkaian hari kiamat.
Secara sederhana, hari kiamat itu adalah akhir kehidupan di dunia, sedangkan hari kebangkitan adalah awal kehidupan di akhirat.
Setelah dunia hancur, manusia akan dihidupkan kembali untuk dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya selama hidup di dunia.
Kedua peristiwa ini sering dianggap sama karena membahas pembalasan di akhirat dan digambarkan sebagai kejadian besar dan dahsyat.
Hal yang Terjadi Setelah Hari Kebangkitan
Setelah Allah SWT membangkitkan manusia dari alam kubur, seluruh manusia akan digiring dan dikumpulkan di Padang Mahsyar.
Di tempat inilah setiap orang dimintai pertanggungjawaban atas semua perbuatan yang pernah dilakukan selama hidup di dunia.
Pada saat itu, amal kebaikan dan keburukan akan diperiksa serta ditimbang. Hasil dari perhitungan tersebut akan menjadi penentu nasib manusia di akhirat, apakah mendapatkan balasan surga atau neraka, sesuai dengan kehendak dan kekuasaan Allah SWT.
Secara umum, kondisi manusia ketika pertama kali dikumpulkan di Padang Mahsyar digambarkan dalam sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:
"Manusia pada hari kiamat akan dihimpun di Padang Mahsyar dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang bulat. dan tidak bersunat." (HR Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
"Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan (ke Padang Mahsyar) dalam keadaan berjalan, dan (ada yang) berkendaraan, serta (ada juga yang) diseret di atas wajah-wajah kalian." (HR At-Tirmidzi)
Keadaan setiap manusia saat dibangkitkan dan dikumpulkan di Padang Mahsyar sangat bergantung pada iman, amal, serta perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.
Hari kebangkitan berlaku untuk semua manusia. Setiap orang yang pernah hidup di dunia, dari zaman dulu hingga sekarang, akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT setelah dunia berakhir.
Hal ini berlaku bagi semua orang tanpa pengecualian, baik yang beriman maupun yang tidak beriman. Ketentuan ini telah dijelaskan Allah SWT dalam Al-Quran sebagai bagian dari peristiwa hari akhir.
(inf/inf)












































Komentar Terbanyak
Waketum MUI Soroti Kesepakatan Dagang RI-AS: Ini Perjanjian atau Penjajahan?
Pernyataan Soal Zakat Picu Polemik, Menag Sampaikan Klarifikasi
Bule Protes Suara Tadarusan, Kemenag Tegaskan Aturan Toa Masjid